Jakarta, Media Publica – Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) (UPDM (B)) telah menyiapkan daftar nama penerima bantuan Uang Kuliah Tunggal (UKT) / Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP), Jumat (25/9). UKT/SPP ini akan diberikan kepada 45 mahasiswa Fikom yang perekonomiannya terdampak pandemi Corona Virus Disease 2019 (COVID-19).

Bantuan UKT/SPP sendiri merupakan salah satu perluasan manfaat program Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah guna membantu mahasiswa untuk dapat membiayai pendidikan di perguruan tinggi dan melanjutkan studinya di masa pandemi sekarang.

Namun, terdapat beberapa kejanggalan terkait pelaksanaan program ini. Salah satunya, Fikom UPDM (B) tidak menyebarkan informasi secara masif serta nama-nama yang diusulkan untuk menerima bantuan diduga tidak tepat sasaran.

Khabib Umar, ST selaku Kepala Bagian (Kabag) Tata Usaha Fikom UPDM (B) mengakui bahwa informasi program bantuan UKT/SPP yang mendadak membuat Fikom UPDM (B) menggunakan data-data mahasiswa yang sudah tersedia saja atau mudah dihubungi.

Khabib juga mengungkap bahwa Fikom UPDM (B) tidak sempat melakukan penjaringan ulang ke mahasiswa umum. Dari daftar nama yang sudah disiapkan, dipilih pula atas dasar banyaknya tunggakan SPP mereka di semester lalu sehingga diasumsikan bahwa mereka sering menunggak karena memang kurang mampu.

Surat pernyataan calon penerima bantuan UKT/SPP (Foto: Media Publica/Kevino)

“Kemarin itu karena dadakan sifatnya. Sekitar hari Rabu atau Kamis saya dapat info dari jam 10 pagi sementara jam 3 sore harus sudah kekumpul datanya. Sedangkan kita (Fikom) disuruh ngumpulin orang sekitar 40 orang lah kira-kira. Kalau kita harus seleksi dari faktor ekonomi maupun nilai gak kekejar lagi. Nanti keburu habis malah dipakai fakultas lain,” jelas Khabib saat dihubungi Media Publica, Sabtu (26/9).

Ia menambahkan bahwa kedepannya jika memang waktu pengumpulan datanya lebih longgar, Fikom UPDM (B) akan melakukan seleksi ketat berdasarkan kriteria yang sudah diberikan sehingga program bantuan seperti ini bisa lebih efektif.

Senada dengan Khabib, Dr. Bayquni, M.Pd, M.I.Kom selaku Kepala Bagian Kemahasiswaan dan Alumni UPDM (B) menerangkan bahwa informasi mengenai program bantuan ini baru diterima universitas dari Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah III pada hari Senin (21/9).

LLDikti memberi batas waktu pengumpulan data sampai hari Senin kemarin (28/9). Sehingga dengan waktu yang mepet membuat program ini kurang persiapan.

“Kita (universitas) total dapat kuota bantuan untuk 120 mahasiswa dan kita bagi ke semua fakultas. Saya serahkan sama pimpinan-pimpinan fakultas yaitu dekan untuk melakukan penjaringan. Karena kita di tingkat universitas kan gak mungkin mengatur mahasiswa fakultas. Yang penting kita sebar bahwa kriterianya seperti ini, terserah fakultas mengaturnya bagaimana,” kata Bayquni.

Bayquni menjelaskan bantuan UKT/SPP ini memang menyasar kepada mahasiswa semester 3, 5, dan 7 serta berlaku satu semester saja. Bantuan yang diberikan pun berbentuk pembayaran UKT/SPP dengan besaran maksimal Rp2.400.000,00.

Nantinya untuk semester depan, bisa saja bantuan ini ada kembali dan tiap fakultas dapat mengajukan daftar nama yang sama atau menggantinya dengan nama-nama yang baru.

Mengutip dari Pedoman Pelaksanaan Bantuan UKT/SPP, berikut ialah persyaratan umum bagi penerima program bantuan UKT/SPP:

  • Mahasiswa aktif jenjang D2, D3, D4, dan S1 semester 3, 5, dan 7
  • Berkuliah di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) yang memenuhi syarat
  • Mahasiswa yang orang tua atau penanggung beban kuliahnya mengalami kendala finansial karena terdampak pandemi COVID-19 dan tidak sanggup membayar UKT/SPP semester gasal tahun akademik 2020/2021
  • Tidak sedang menerima beasiswa lain yang menanggung UKT
  • Perguruan Tinggi bisa menetapkan syarat tersendiri sesuai kondisi

Sudah Tepatkah UKT/SPP Ini Disalurkan?

Ilustrasi: nytimes.com

Media Publica sempat mewawancarai salah satu mahasiswa penerima bantuan UKT/SPP yang identitasnya tidak ingin disebutkan. Ia mengakui bahwa sampai sekarang informasi detail tentang program bantuan ini tidak jelas dan memang terkesan terlalu mendadak.

“Sempat nanya mengenai info lengkapnya. Kerjasama dengan siapa dan durasinya sampai kapan, apakah selama pandemi COVID-19 doang atau sampai nanti akhir kuliah. Dijawab tidak jelas dan diminta untuk ikut alur aja. Gua pikir ini ada yang ditutupi apa gimana, seolah-olah meyakinkan tapi aneh gitu kayak ada yang janggal,” ujarnya.

Ia lanjut menceritakan bahwa awalnya pada Kamis (25/9), ia dihubungi oleh salah satu staf kampus dan langsung dimintai nama lengkap beserta Nomor Induk Mahasiswa (NIM) miliknya. Staf kampus tersebut berujar bahwa data tersebut untuk didaftarkan sebagai penerima beasiswa, tanpa sama sekali menjelaskan informasi umum tentang beasiswanya.

Keesokan harinya, ia dimasukkan ke suatu group chat lalu diminta untuk mengisi surat pernyataan yang menerangkan bahwa beasiswa ini merupakan program bantuan untuk mahasiswa yang terdampak masalah finansial akibat pandemi COVID-19.

“Bingung kan karena awalnya mikir ini beasiswa. Pas liat list nama-nama yang dapat kok orang-orangnya istilahnya masih mampu, masih menengah ke atas lah. Terus kalau dilihat dari IPK-nya juga gak nentu ada yang 2,00. Kalau beasiswa kan identik sama IPK-nya 3,50 ke atas ya, tapi ini kok 2,00 dapat gitu, di bawah 3,50 dapat,” terangnya.

Selepas itu pun ia masih terus bertanya kepada staf kampus tentang kejelasan dari program bantuan ini. Namun, malah dialihkan ke staf kampus yang lain.

Lebih lanjut, staf kampus yang lain pun menjawab dengan jawaban yang sama. Ia hanya diminta untuk mengikuti alurnya saja, yang penting nama dia sudah terdaftar.

Menanggapi hal ini, Fadila Arda Pebrianto sebagai mahasiswa Fikom UPDM (B) mengaku sama sekali tidak tahu menahu mengenai informasi bantuan UKT/SPP tersebut. Ia menyayangkan jikalau informasi mengenai program ini hanya disebar ke beberapa kelompok mahasiswa saja tanpa memberitahu mahasiswa umum secara keseluruhan.

“Kasian yang memang benar-benar butuh yang keluarganya gak punya biaya buat kuliah. Gua pribadi liatnya kurang adil sih. Kalau bisa dicari yang benar-benar keluarga yang gak mampu buat bayar kuliah,” ucapnya.

Sama dengan Fadila, Angela Irena Situmorang, mahasiswi Fikom UPDM (B) juga menyatakan belum pernah mendengar tentang program bantuan UKT/SPP ini. Menurutnya, ide program ini bagus karena setelah sekian lama mahasiswa meminta pada akhirnya ada juga.

Namun, ketika melihat daftar nama mahasiswa yang akan diajukan oleh Fikom UPDM (B), ia merasa kecewa karena dirasa program bantuan ini tidak tepat sasaran.

“Menurut gue gak ada masuk akal sama sekali walaupun mereka ngomong pakai catatan yang ada atau yang mereka punya karena mendadak. Sedangkan masih banyak lagi yang membutuhkan itu di saat kayak gini. Semendadak-mendadaknya, kampus harus tahu mahasiswanya mana yang mampu dan gak mampu. Karena kampus seharusnya punya catatan masing-masing mahasiswa individu per orang,” pungkasnya.

Reporter: Kevino Dwi Velrahga

Editor: Media Publica

 376 total views,  4 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.