Jakarta, Media Publica – Pos Pelayanan Keluarga Berencana – Kesehatan Terpadu (Posyandu) memiliki sejarah panjang di negeri ini. Posyandu sukses meningkatkan mutu kesehatan masyarakat dan mengurangi tingkat kematian ibu hamil maupun anak bayi. Program era Presiden Soeharto ini melejit pada dekade 80-an hingga 90-an dan menjadi titik awal kesadaran masyarakat mengenai pentingnya kesehatan.

Dibuat dengan prinsip gotong royong, program ini mampu menyedot animo masyarakat. Pembentukan Posyandu ini diinisiasi oleh Prof. Dr. Haryono Suyono, M.A, Ph.D yang juga bekerja sama dengan Menteri Kesehatan pada saat itu dr. Suwardjono Surjaningrat.

Suasana Posyandu di Kota Medan yang tetap berkegiatan saat pandemi Corona Virus Disease 2019 (COVID-19), Rabu (10/6) (Foto: dnaberita.com)

Awal Mula Pembentukan Posyandu

Pada tahun 1957, ada sebuah gerakan untuk mengurangi tingkat kematian ibu hamil. Gerakan ini diawali oleh dokter-dokter ahli kandungan atau Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) karena melihat tingginya tingkat kematian ibu hamil dan anak bayi. Selain itu, minimnya jumlah dokter ahli kandungan membuat tingkat kematian semakin tinggi. Bahkan di provinsi Nusa Tenggara Timur (NTB) hampir setiap harinya terdapat kasus kematian seorang bayi ataupun ibu hamil.

“NTB pada tahun-tahun itu cukup miris keadaannya. Ada bayi yang lahir tapi tidak punya ibu, ada juga seorang ibu yang telah mengandung tetapi bayinya tidak terselamatkan. Jadi intinya pada awal itu ingin menyelamatkan ibu hamil dan para bayi,” ujar Haryono saat diwawancarai Media Publica pada Selasa (1/9).

Haryono yang baru kembali ke Indonesia setelah menyelesaikan studinya di Amerika Serikat, kemudian menjabat sebagai Deputi Penelitian Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Ia mengusulkan kepada Suwardjono yang saat itu menjabat sebagai Kepala BKKBN untuk membangun Pos Keluarga Berencana (KB).

Alasannya karena Haryono merasa adanya kejanggalan program KB yang terdapat di desa-desa. Ia mempertanyakan mengapa masyarakat yang ingin mengikuti program KB harus dilakukan di klinik, padahal klinik merupakan tempat orang sakit. Kemudian, timbul pemikiran untuk membuat tempat khusus bagi masyarakat yang ingin mengikuti Program KB, yaitu Pos KB. Pos KB terletak di seluruh desa di Indonesia untuk melayani program KB. Pos-pos tersebut berfokus untuk memasang spiral KB ataupun memberi pil KB kepada masyarakat.

Seiring berjalannya waktu, Pos KB desa sudah berjumlah 40 ribu unit. Karena kesuksesan program ini, Suwardjono diangkat menjadi Menteri Kesehatan (Menkes) pada 1978 oleh Presiden Soeharto. Kemudian, Haryono yang waktu itu sudah menjabat sebagai Deputi Operasional pun diangkat menjadi Kepala BKKBN. 

Pada saat itu, Suwardjono ingin membuat sebuah program yang mirip dengan Pos KB sebagai program kerjanya dan ia bercerita secara gamblang kepada Haryono. Namun, Haryono menganggap bahwa program itu belum tentu bisa sesukses Pos KB. Ia menyarankan untuk mengembangkan Pos KB menjadi Pos KB terpadu, sehingga dapat melayani KB dan kesehatan. Oleh karena itu, Pos KB diubah menjadi Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu).

Posyandu Semakin Berkembang

Setelah kesepakatan untuk mengganti Pos KB desa dengan Posyandu terealisasikan, akhirnya program tersebut diresmikan pada ulang tahun BKKBN Ke-30 sebagai program kerjasama antara BKKBN dan Menkes. 

“Setelah penandatanganan nota kesepakatan, Pos KB yang berada di desa-desa diubah namanya menjadi Posyandu. Posyandu di bawah Menkes hampir berjumlah 40 ribu dan tersebar di seluruh wilayah Indonesia,” kata Haryono.

Pada tahun 80-an, Posyandu semakin berkembang pesat. Tidak hanya melayani program KB saja, tetapi juga melayani program gizi anak. Kemudian setiap anak balita wajib ditimbang untuk mengukur sejauh mana kesehatannya. Balita dinyatakan sehat apabila terus bertambah berat badannya. 

Kemudian ketika Menkes Suwardjono digantikan oleh Prof. Dr. Sujudi pada 1993, Posyandu melakukan program imunisasi untuk pertama kalinya dan berjalan sukses. Pada tahun ini, tingkat kesehatan anak di Indonesia semakin meningkat, gizi buruk dan stunting menghilang.

“Setelah Posyandu melakukan berbagai program, hasilnya berbuah manis. Pada tahun 90-an gizi buruk hilang, stunting hilang dan tingkat kesehatan di Indonesia meningkat,” tutur Haryono.

Mati Suri Posyandu

Sejak pembentukan Posyandu, taraf kesehatan masyarakat Indonesia meningkat. Banyak bayi lahir dengan sehat dan dapat bertumbuh kembang dengan baik. Ibu hamil pun lebih terjaga kondisinya selama masa kehamilan. Tentu hal ini merupakan puncak kesuksesan dari program Posyandu.

Namun, peralihan politik pada akhir 90-an membuat Posyandu kehilangan tajinya. Banyak program yang terbengkalai dan tidak diawasi dengan baik. Akibatnya Posyandu mulai meredup secara perlahan.

“Pada awal tahun 2000 timbul pergantian politik, di situ program BKKBN banyak yang terbengkalai, tidak ada lagi program Posyandu secara baik karena hiruk pikuk kondisi saat itu hanya berbicara tentang politik,” sesal Haryono.

Pada tahun 2015, terbukti stunting anak di Indonesia meningkat tajam setelah 15 tahun terbengkalai. Gizi buruk pun ikut meningkat akibat tidak jelasnya program Posyandu. Pada pemerintah Presiden Jokowi ini Posyandu sedang dicoba untuk dihidupkan kembali karena peningkatan stunting dan gizi buruk.

“Namun, saya kira akan sangat sulit untuk membangkitkan Posyandu yang sudah redup selama bertahun-tahun. Masyarakat pun belum tergerak untuk mengikuti program ini lagi, hal ini akan menjadi tantangan bagi pemerintahan saat ini,” ujar Haryono.

Walaupun Haryono sempat menyesalkan keadaan Posyandu saat ini, ia juga sangat yakin bahwa Posyandu bisa untuk dibangkitkan kembali dan sesukses seperti dahulu. Hanya saja harus menerapkan cara yang kekinian untuk menarik minat masyarakat, salah satunya menggunakan media video untuk mengkampanyekan kembali Posyandu.

“Dengan membuat video, minimal dibikin beberapa part, masyarakat akan aware terhadap hal tersebut. Dibuat repetisi dan diulang secara terus menerus, saya yakin masyarakat akan tergerak pelan-pelan,” tutupnya.

Reporter: Dzaky Nurcahyo

Editor: Media Publica

 176 total views,  4 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.