Jakarta, Media Publica – Saat ini virus corona tengah menjadi masalah terbesar di muka bumi. Selain menyebabkan kematian massal, virus ini memberikan dampak ke berbagai bidang yang ada di setiap negara seperti pendidikan, ekonomi, dan lain sebagainya. Dari segi pendidikan, seluruh aktivitas sekolah maupun perkuliahan pun menerapkan sistem pembelajaran jarak jauh.

Kalau bahas perkuliahan pasti tidak jauh dengan yang namanya skripsi. Apalagi ini merupakan tugas akhir wajib bagi mahasiswa tahun terakhir. Janji temu dengan dosen pembimbing dan bimbingan mengenai hal-hal yang berkaitan dengan skripsi adalah hal yang lumrah dilakukan oleh para mahasiswa. Namun, bagaimana dengan para nasib pejuang skripsi di masa pandemi saat ini?

Jawabannya adalah secara online. Dari bimbingan dengan dosen pembimbing hingga sidang skripsi berlaku pula secara online di Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) (UPDM (B)). Dalam proses pembuatan skripsi ada banyak hal yang terjadi di antara para mahasiswa, ada keuntungan dan kerugian tersendiri. Dari sisi mahasiswa, keuntungan yang diambil adalah tidak perlu ke lokasi tempat bimbingan karena sekarang pertemuan tatap muka diganti menggunakan aplikasi video call.

“Bisa mengerjakan (skripsi) full di rumah tanpa kemana-mana termasuk bimbingan tidak secara tatap muka dengan dosen pembimbing, hanya mengandalkan beberapa aplikasi yaitu Zoom atau sekedar lewat WhatsApp dan e-mail,” tutur Nabilla Dian, mahasiswi Fikom angkatan 2016.

Selain itu, ada juga yang berpendapat bahwa dapat menghemat pengeluaran karena mengirimkan skripsi ke dosen pembimbing hanya melalui e-mail atau surat elektronik (surel).

Gak perlu capek-capek fotocopy hasil skripsi buat dicek sama pembimbing, cuma kirim lewat e-mail atau share screen lewat Zoom aja, jadi menghemat pengeluaran,” ujar Ratu Cindy Nabila, mahasiswi Fikom angkatan 2016.

Namun, di lain sisi ada pula duka yang dirasakan para pejuang skripsi seperti kesulitan untuk bertemu dengan narasumber wawancara mereka. Idealnya jika bertemu langsung mereka akan selesai pengerjaan dalam tiga bulan, tetapi karena narasumber yang sulit ditemui mengharuskan penambahan waktu pengerjaan skripsi.

“Saat mengerjakan (skripsi) biasanya gampang bisa bertemu narasumber atau ke perusahaan mana yang dituju, tetapi saat (pandemi) ini tidak semua narasumber bisa bertemu dan susah untuk diwawancara,” tutur Yunita, mahasiswi Fikom angkatan 2016.

Nabilla pun menambahkan bahwa selama bimbingan skripsi secara online harus menunggu revisi dari dosen pembimbing sampai seminggu lamanya dan hal ini cukup menyita waktu. Selain itu juga terdapat miskomunikasi yang terjadi selama masa bimbingan karena komunikasi yang terjadi hanya satu arah.

“Susah untuk bimbingan, apalagi hanya mengandalkan aplikasi chatting itu membuat wasting time banget karena nunggu balasan revisinya bisa seminggu lebih. Kendala lainnya banyak miscommunication karena ketika bimbingan hanya satu arah komunikasinya, tidak dua arah,” tuturnya.

Sedangkan M. Farhan Achmad Suryadi, mahasiswa Fikom angkatan 2016 menuturkan hal serupa bahwa dosen pembimbing agak lama dalam memberikan respon ketika mahasiswa meminta bimbingan. “Banyak mahasiswa yang kesusahan pada saat bimbingan online karena rata-rata ya slow response dari dosen pembimbingnya,” ujarnya.

Suasana pelaksanaan sidang profesor online menggunakan aplikasi Zoom, Kamis (13/08). (Foto: Media Publica/Rizka)

Walaupun berbagai kesulitan dialami, tidak menyurutkan niat para pejuang skripsi untuk terus berharap agar Fikom UPDM (B) lebih baik dalam pelaksanaan bimbingan skripsi hingga sidang secara online. Berbagai harapan pun dilontarkan, salah satunya kepada para dosen pembimbing agar dapat meluangkan waktunya bagi para mahasiswa yang ingin bimbingan.

“Untuk kedepannya kalau memang kuliah atau bimbingan skripsi secara online masih berlaku, para dosen harus lebih aktif buat menanggapi mahasiswanya,” harap Farhan.

Selain itu, Nabilla juga berharap agar kedepan sistem bimbingan skripsi online bisa melalui aplikasi video sehingga meminimalisir miskomunikasi dan dapat berkomunikasi secara dua arah.

“Semoga sistem bimbingan online-nya dikasih syarat yaitu semua dosen pembimbing jika melakukan bimbingan harus memakai aplikasi video seperti Zoom, Google Meet, dan lainnya. Karena dengan begitu dapat meminimalisir miskomunikasi dan bisa berkomunikasi secara dua arah,” tuturnya.

Untuk pelaksanaan sidang skripsi dan sidang profesor semester genap periode 2019/2020 sudah dilakukan pada tanggal 3-21 Agustus 2020 lalu. Sidang skripsi menggunakan aplikasi Microsoft Teams dan sidang profesor menggunakan aplikasi Zoom. Kedua sidang ini dilakukan oleh dua dosen penguji yang live dari Kampus Swadharma dengan tetap menerapkan protokol kesehatan. Sedangkan mahasiswa melaksanakan sidang dari rumah, sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan.

Reporter: Nurbaiti Elsafarina* dan Safitri Amaliati

Editor: Kevino Dwi Velrahga

*Mahasiswi Fikom UPDM (B) angkatan 2019 yang juga merupakan Calon Anggota LPM Media Publica

 264 total views,  8 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.