Media Publica – Apa yang pertama kali terlintas dalam benakmu jika membicarakan pengalaman masa kecil? Mungkin beberapa orang akan mengatakan menjadi anak kecil itu sangat menyenangkan, tetapi tentu saja tidak semua orang setuju dengan pernyataan tersebut karena banyak juga orang yang mengalami pengalaman buruk saat masih kecil. Terkadang tanpa kita sadari, peristiwa-peristiwa baik maupun buruk yang dialami saat masih kecil ikut membentuk pribadi kita hingga dewasa atau biasa disebut dengan inner child.

Melansir dari Psychology Today, inner child merupakan sisi kepribadian seseorang yang beraksi dan terasa seperti anak kecil. Dengan kata lain, inner child juga diartikan sebagai sisi kekanak-kanakan dalam diri seseorang. Peristiwa yang terjadi dan dialami saat masih kecil akan tertanam di alam bawah sadar hingga dewasa, sehinggaberpengaruh terhadap kepribadian dan cara bersikap seseorang dalam hidupnya.

Ketika anak kecil mengalami trauma, luka yang timbul seharusnya dapat disembuhkan. Sebab, jika pengalaman-pengalaman menyedihkan yang dialami saat masih kecil tidak diatasi dengan baik, bisa jadi ia akan tumbuh dengan rasa trauma dan justru menyebabkan masalah di masa dewasa. 

Salah satu contoh trauma masa kecil yang memiliki dampak saat dewasa ialah pengalaman saat mendapat penolakan, diabaikan, atau tindakan kekerasan yang diterima saat masih kecil membuat seseorang menyimpan rasa takut untuk mendapatkan penolakan maupun disakiti kembali. Rasa takut tersebut akan membuat seseorang menghindari hubungan percintaan atau persahabatan yang serius dikarenakan tidak tahan jika nantinya akan disakiti. Seseorang tersebut pun pada akhirnya akan mengalami kesepian dalam hidupnya.

Contoh lainnya adalah saat orang tua mengontrol atau mengajarkan kita agar selalu bersikap dan terlihat baik di segala situasi. Mereka percaya dengan bersikap seperti itu membuat kita lebih mudah diterima dan dapat disenangi banyak orang. Hal ini tanpa disadari membuat kita menyimpan dalam-dalam perasaan negatif seperti rasa sedih dan amarah serta sulit untuk mengekspresikannya saat sudah dewasa.

Mengetahui Keberadaan Inner Child dan Menerimanya

Di dalam setiap diri manusia memiliki inner child-nya masing-masing. Namun karena tidak dapat dilihat, sukar untuk mengetahui keberadaan hal tersebut. Lebih nahasnya lagi, ada yang sudah tahu tetapi memilih untuk mengabaikannya. Padahal ini bisa menjadi penghambat atau justru pendorong kita untuk tumbuh dan berkembang, tergantung  bagaimana kita menyikapinya.

Ilustrasi: vectorstock.com

Melansir dari Kumparan, Adhesatya Ningsih, seorang psikolog klinis menjelaskan beberapa cara agar kita dapat mengatasi inner child dalam diri sendiri. Cara pertama ialah sadari terlebih dahulu, kemudian kenali inner child kita. Kebutuhan apa yang ingin dipenuhi melalui inner child ini. Setelahnya kita bisa belajar mencintai melalui komunikasi dan penerimaan.

“Setiap pengalaman yang kita alami, tentu kita persepsikan dengan cara kita masing-masing. Seringkali jika pengalaman tidak menyenangkan, kita memilih untuk tidak memikirkannya. Namun, tanpa kita sadari, sikap ini justru membuat persepsi kita terhadap pengalaman ini kita simpan di alam bawah sadar. Tidak hilang, tidak selesai,” ujar Adhesatya.

Dampak inner child bisa beragam, tergantung konteks masing-masing orang. Dampak paling sering muncul lewat emosi yang akhirnya tampak pada perilaku kita. Bisa jadi mempengaruhi hubungan kita dengan orang di sekitar, terlebih orang terdekat.

Dari perilaku abnormal yang muncul, kita bisa mengulas kembali apa yang terjadi dengan kita di masa lalu. Misalnya, pernah jadi korban bullying atau sering melihat kedua orang tua bertengkar, hal-hal inilah yang membentuk pribadi emosional, grogi, ataupun malu bersosialisasi. Memang menyakitkan untuk diingat, tapi cobalah untuk melihat sebab-akibatnya.

Jika sudah mengetahui keberadaannya, langkah selanjutnya adalah berkomunikasi dengan sosok lain tersebut lalu ketahui apa keinginannya. Ketika semua sudah dilakukan, terakhir ialah belajar menerima. Menerima bahwa pengalaman tidak menyenangkan di masa kecil memang pernah ada dan sekarang kita belajar dari pengalaman tersebut sebagai pribadi yang telah bertumbuh dan berkembang.

“Contoh menyadarinya adalah saat kita berpikir, ‘oh ternyata diriku tidak nyaman kalau……., aku sebenarnya ingin diperlakukan seperti….’. Dengan menyadari hal-hal tersebut kita dapat memenuhi kebutuhan yang diharapkan dari inner child tersebut,” jelas Adhesatya.

Ia juga menambahkan proses penyembuhan inner child yang terluka memang butuh waktu. Sehingga akan semakin baik jika kita terus melakukan evaluasi, sudah sejauh mana kita mampu mengkomunikasikan kebutuhan kita pada diri sendiri. Selalu ingat jika dia adalah kita, dia ada di dalam diri kita dan yang dapat merangkulnya hanyalah kita sendiri.

Berceritalah juga pada orang terdekat agar bisa  memahami keadaan kita dan meminimalisir miskomunikasi karena inner child ini. Bila dibutuhkan silahkan menghubungi layanan kesehatan mental terdekat. Penyembuhan inner child dapat pula dibantu melalui terapi psikologi.

Jika sudah mengikuti tahap-tahap menerima keberadaan inner child dan cara menyembuhkannya, maka hidup yang kita jalani pun akan terasa lebih ringan karena telah melepas semua beban yang ada dalam diri sendiri.

Sumber: Dari Berbagai Sumber

Reporter: Duma Oktalia Purba*

Editor: Kevino Dwi Velrahga

*Mahasiswi Fikom UPDM (B) angkatan 2018 yang juga merupakan Calon Anggota LPM Media Publica

 656 total views,  8 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.