Media Publica – Pada (14/5) lalu, Bank OCBC NISP merilis sebuah film pendek berjudul Sepuluh Meter yang digarap oleh sutradara Indonesia, Yandy Laurens dengan durasi selama 21 menit. Film ini sebagai salah satu rangkaian kampanye #NYALAkanHati yang bertujuan mengajak masyarakat untuk bersama-sama menjaga kesehatan mental. Terlebih lagi di situasi pandemi saat ini yang penuh dengan ketidakpastian.

Film Sepuluh Meter menceritakan tentang kegelisahan seorang pekerja seni, yaitu Ringgo Agus Rahman saat berada di rumah saja selama dua bulan lamanya akibat pandemi. Selama berada di rumah saja, Ringgo merasa gelisah dan stres karena baginya ini bukan kegiatan yang dilakukan secara sukarela dan menjadi pilihannya, tetapi hal ini justru menjadi sebuah ancaman. Ringgo mencari berbagai macam cara untuk mengatasi rasa stresnya, seperti mendengarkan lagu berirama sendu dan menelepon sahabatnya, Nirina Zubir.

Judul: Sepuluh Meter | Sutradara: Yandy Laurens | Tahun tayang: 2020 | Genre: Film Pendek (Foto: youtube.com/BankOCBCNISP)

Kegelisahan Ringgo pun tercetus dalam percakapannya dengan Nirina, “Gue dalam situasi sekarang lagi sibuk ngejaga pikiran gue gimana biar tetap waras. Lama-lama kayak begini, gue bisa gila”. Tanpa disadari hal ini barangkali juga dirasakan oleh kita semua, masyarakat Indonesia maupun dunia. Akibat pandemi COVID-19, muncullah rasa bosan, cemas, khawatir, dan stres.

Sikap Ringgo yang penuh dengan rasa negatif ini menjadi kontradiktif dengan sikap Nirina yang selalu positif dan memberikan dukungan kepada Ringgo. Ia bahkan menyarankan beberapa cara untuk melewati hari-hari saat di rumah saja dengan berolahraga dan membuat jadwal untuk kesehariannya.

Sayangnya, hal ini tidak terlalu memberikan perubahan yang berarti kepada Ringgo. Ia masih merasakan perasaan gelisah walaupun sudah melakukan apa yang disarankan oleh Nirina. Pada beberapa titik, keduanya mengakui bahwa ada rasa stres yang tetap menghampiri dan mereka tidak bisa membohongi diri sendiri. “It’s okay if you’re not okay” menjadi salah satu kata kunci dalam film ini, bagaimana seharusnya kita jujur pada diri sendiri bahwa kita memang sedang tidak baik-baik saja. Hal ini yang menjadikan diri kita bisa menerima kenyataan dan lebih bersyukur dengan apa yang didapat setiap harinya.

Selain itu, Nirina pun melontarkan analogi cara menghadapi stres selayaknya sedang mengendarai atau menyetir mobil ketika malam hari. Pengemudi tidak bisa melihat jauh ke depan dan hanya mempunyai jarak pandang sepanjang sepuluh meter yang diberikan oleh lampu mobilnya.

Analogi ini bagaikan filosofi untuk menjalani hidup satu hari dulu saja dan tidak perlu terlalu khawatir mengenai hari esok yang akan datang. Seperti saat kita menyetir di malam hari, yang bisa dilakukan hanyalah memaksimalkan cara kita menyetir di setiap sepuluh meter yang dapat terlihat. Dengan begitu kita dapat membuat pikiran dan kesehatan mental tetap terjaga.

Peresensi: Safitri Amaliati

Editor: Kevino Dwi Velrahga

 460 total views,  4 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.