Media Publica – The Platform merupakan film garapan sutradara asal Spanyol, Galder Gaztelu-Urrutia yang mengusung tema kesenjangan sosial lewat cerita fiksi tentang eksperimen brutal pada suatu kondisi sosial di dalam penjara vertikal. Dalam kiprahnya, film The Platform berhasil memenangi kategori The Glorsch People’s Choice Midnight Madness Award atau film paling populer di Festival Film Internasional Toronto 2019.

Film yang bergabung ke Netflix pada Maret lalu ini berlatarkan penjara bertingkat berbentuk menara tinggi berisi pelaku tindak kriminal yang ditempatkan secara acak di tiap lantai. Masing-masing lantai hanya terdiri dari satu sel penjara yang berisikan dua orang tahanan dan terdapat lubang menganga berbentuk persegi di tengah lantainya. Melalui lubang itulah, sebuah platform membawa berbagai jenis makanan dan akan berhenti untuk beberapa menit di setiap lantainya agar para tahanan bisa makan.

Judul: The Platform | Sutradara: Galder Gaztelu-Urrutia | Tahun tayang: 2019 | Genre: Horor-Thriller (Foto: netflix.com)

Masalah muncul karena penghuni lantai yang paling atas mendapat makanan paling banyak, sedangkan lantai paling bawah hanya mendapatkan makanan sisa dari lantai yang di atasnya. Di antara para tahanan sendiri tidak ada yang yakin dengan jumlah lantai di penjara tersebut dan orang-orang di lantai atas cenderung tamak saat makan. Mereka tidak memikirkan nasib tahanan di bawahnya sehingga sistem pembagian makanan seperti ini mengubah para napi menjadi seperti hewan.

Kisah film ini dibuka oleh Goreng (Iván Massagué), seorang tahanan yang sukarela di penjara di sana selama enam bulan dengan iming-iming mendapatkan gelar diploma setelah keluar dari penjara tersebut. Tidak dijelaskan mengapa ada bentuk transaksi yang aneh tersebut di dalam film, yang jelas Goreng bukanlah seorang kriminal.

Sebelum Goreng masuk ke dalam penjara ia diwawancarai oleh seorang sipir yang ditugaskan untuk menanyakan dirinya, mulai dari barang yang ingin Goreng bawa dalam penjara dan salah satu makanan yang ia suka. Goreng pun memilih membawa buku Don Quixote untuk menemaninya selama di penjara.

Setelah wawancara selesai, Goreng diberikan sebuah gas yang membuatnya tertidur hingga tidak sadarkan diri. Ketika bangun, Goreng sudah berada di lantai nomor 48 bersama Trimagasi (Zorion Eguileor), teman satu tingkatan di penjara yang berada di sana karena tuduhan pembunuhan.

Trimagasi menjelaskan kepada Goreng sebagai orang yang sudah lebih dulu berada dalam penjara tersebut bahwa dalam 24 jam para tahanan akan diberi makanan melalui platform yang bergerak dari atas ke bawah dengan lubang cukup besar yang berada di langit-langit dan di lantai. Dalam sebulan sekali, setiap tingkatan akan berubah dengan acak dan semakin berada di lantai bawah maka makanan yang didapat menjadi lebih sedikit.

Jika dipahami dengan sederhana, The Platform ingin menunjukkan pada kita bahwa semakin seseorang berada di tingkatan bawah maka akan mengalami kelaparan karena berkurangnya makanan hasil dari ketamakan orang-orang pada tingkatan atas dan sebaliknya saat tingkatan seseorang semakin di atas maka kesempatan mendapatkan makanan yang layak semakin tinggi. Hal ini menggambarkan bagaimana sistem kehidupan kapitalisme mengakibatkan kesenjangan sosial yang terjadi di dunia saat ini. 

Kesenjangan tidak hanya antara yang kaya dan miskin, tapi juga yang lebih dekat pada akses sumber daya dan yang tidak. Kesenjangan terjadi karena tidak adanya rasa peduli dari pihak yang lebih memiliki akses terhadap yang tidak memiliki akses. 

Film ini juga memperlihatkan perputaran roda kehidupan dan cara manusia menghadapi situasi pada saat posisi di atas maupun posisi terpuruk di bawah. Kebrutalan dan sisi tergelap manusia pun menjadi nyata di film ini sehingga membuat kita mempertanyakan sisi kemanusiaan dalam diri sendiri.

Sebagai catatan, film ini memuat konten sadis, kekerasan, serta adegan dewasa. Jika kamu adalah orang yang sensitif terhadap hal tersebut, ada baiknya untuk mempertimbangkan kembali keputusanmu untuk menonton film The Platform.

Peresensi: Giras Bernardi Abimanyu*

Editor: Kevino Dwi Velrahga

*Mahasiswa Fikom UPDM (B) angkatan 2018 yang juga merupakan Calon Anggota LPM Media Publica

316 total views, 16 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.