Oleh: Dzaky Nurcahyo*

Media Publica – Seiring dengan perkembangan teknologi, perkembangan ponsel kian hari semakin meningkat. Bukan hanya fitur saja yang meningkat, tetapi fungsional dari ponsel juga semakin multitasking. Hal ini membuat ponsel tidak sekadar barang untuk berkomunikasi saja. Dengan mengedepankan multitasking, banyak produsen yang menyulap ponsel bak satu benda yang bisa melakukan 1000 hal. Bagaimana tidak, kita bisa melakukan banyak sekali hal dalam satu genggaman.

Dengan hadirnya berbagai spesifikasi ponsel untuk mendukung peran multitasking, membuat produsen berlomba-lomba untuk menjadi yang terdepan. Salah satu fokus spesifikasi ponsel yang gencar diunggulkan dari para produsen ialah fitur kamera.

Kamera bagi segelintir orang merupakan fitur yang sangat penting, sebab mereka bisa mengekspresikan diri mereka di depan layar datar dan membagikannya kepada orang terdekat. Ditambah dengan banyaknya aplikasi kekinian yang menggunakan fitur kamera, membuat fitur ini merupakan hal yang penting untuk terus dikembangkan. Kualitas kamera yang ditawarkan pun tidak main-main.

Awal tahun ini, para produsen telah berhasil menyulap kamera ponsel dengan kualitas 108 megapixel (MP) untuk kamera belakang dan 24 MP untuk kamera depan. Bisa dibilang ini menjadi kualitas tertinggi yang ada sekarang.

Dengan kualitas gambar yang sangat besar, bisa menjadi angin segar bagi mereka yang suka berkarya dengan sebuah layar datar. Apalagi bagi orang yang simpel dan ingin berkreativitas dalam berkarya, salah satunya ialah para fotografer ataupun sineas. Resolusi gambar yang cukup besar dan kualitas yang dihasilkan tidak jauh berbeda dengan kamera profesional, tentu hal ini sangat menggiurkan bagi mereka.

Kualitas Kamera Ponsel yang Tak Mengenal Batas

Dalam tiga tahun terakhir, perkembangan kamera sangat signifikan apabila kita amati. Dilansir dari Kompas.com, perlombaan MP baru kentara pada awal 2018 hingga 2019, jumlah MP naik drastis, mulai dari 24 MP (Galaxy A9/2018), 48 MP (Honor View 20/2019), 64 MP (Realme XT/2019), hingga 108 MP (Samsung Galaxy S20 Ultra/2020).

Dibalik pergerakan MP yang semakin besar, kita tidak menyadari bahwa resolusi video yang dihadirkan pun melebihi ekspektasi kita. Samsung dan Xiaomi misalnya, dua perusahaan tersebut mengeluarkan produk terbaru mereka dengan menghadirkan resolusi video mencapai 8000 pixel (8K). Resolusi ini mengalahkan banyaknya kualitas kamera profesional yang mayoritas hanya mendukung mode 4K.

Resolusi 8K pada ponsel ini sendiri merupakan pengembangan dari resolusi sebelumnya yang hanya mendukung 4K, walaupun hanya tersedia pada ponsel yang harganya lumayan menguras kantong. Namun, apabila kita lihat dari sisi positifnya, ini akan memajukan para pelaku industri kreatif, khususnya para pembuat film. Mereka bisa bereksperimen membuat film hanya dengan layar datar dan kualitas yang dihasilkan pun bukan main-main.

Film Pendek yang Dibuat Menggunakan Kamera Ponsel

Dalam beberapa dekade terakhir, banyak sineas yang membuat film pendek menggunakan kamera ponsel, salah satunya adalah Zack Synder yang membuat film Snow Steam Iron pada tahun 2017 lalu. Film yang mengusung genre kriminal ini dibuat menggunakan iPhone 7 Plus dan hanya memakan waktu produksi selama satu minggu. Film ini juga mendapatkan sambutan positif dari para penonton film, dengan mendapat rating 7,5/10 dari 755 orang. Hal ini menandakan bahwa film ini cukup diapresiasi walaupun hanya menggunakan ponsel dalam proses pembuatannya.

Salah satu adegan dalam film Snow Steam Iron yang diambil menggunakan kamera ponsel. (Foto: IMDB.com)

Kemudian ada juga film yang berjudul Uneasy Lies the Mind yang dibuat pada tahun 2014 lalu. Film ini mengambil genre thriller psikologis yang dibuat menggunakan kamera iPhone. Film ini juga mendapatkan kesempatan untuk ditampilkan pada Cinequest Film Festival (2014) dan South by Southwest (SXSW) Festival (2014).

Sementara di Indonesia sendiri sudah ada beberapa film pendek yang dibuat menggunakan kamera ponsel pintar, salah satunya adalah film pendek karya Yandy Laurens yang menggunakan Samsung Galaxy S10. Film ini sendiri dibuat sebagai ajang promosi untuk memberitahu khalayak seberapa bagus gambar yang dihasilkan dan membuktikan bahwa kualitas kamera ponsel tidak kalah dengan kamera profesional. 

Biasanya film pendek yang direkam menggunakan kamera ponsel harus melalui proses penyuntingan yang cukup lama, karena kualitas gambar yang dihasilkan biasanya belum memuaskan. Hal ini juga disebabkan fitur pada kamera ponsel tidak sebanyak fitur yang terdapat di kamera profesional, sehingga harus ditambahkan beberapa efek supaya lebih menarik.

Selain itu, tantangan yang dihadapi juru kamera saat merekam menggunakan kamera ponsel ialah penempatan posisi, sebab kamera ponsel belum memiliki fitur zoom in atau zoom out yang memadai, penyerapan cahaya yang belum maksimal, dan beberapa faktor lain sehingga berpengaruh pada hasil yang didapat.

Peluang Ponsel Pintar di Masa Mendatang 

Kamera yang disematkan pada ponsel terus meningkat tiap tahunnya, selalu ada perkembangan maupun perubahan untuk mengikuti perkembangan zaman. Tentu untuk saat ini, kualitas kamera ponsel memang belum bisa menandingi kualitas kamera profesional walaupun dilengkapi dengan resolusi besar. Mengingat banyak fitur yang belum tersedia seperti halnya yang terdapat dalam kamera profesional.

Faktanya saat ini kamera ponsel hanya menyediakan resolusi tinggi tanpa didukung fitur yang memadai, sehingga menyebabkan memori ponsel cepat penuh akibat adanya resolusi yang semakin tinggi. Lantas dengan kualitas video sebesar 8K, sudah pasti akan membuat ruang memori cepat penuh. Namun, hal itu akan sebanding apabila kualitas gambar yang dihasilkan tidak sekadar resolusi tinggi saja, ketajaman serta pencahayaan yang bisa diserap oleh ponsel akan menjadi nilai lebih apabila bisa memenuhi ekspektasi penggunanya.

Samsung, salah satu produsen yang menyediakan ponsel yang mendukung resolusi 8K sudah membuktikannya melalui video yang dirilis di platform YouTube miliknya. Saat itu, ponsel diuji coba untuk merekam sebuah acara dalam kurun waktu beberapa jam dan hasilnya cukup memuaskan.

Ponsel Samsung saat digunakan menjadi kamera live streaming saat peluncuran produk terbarunya. (Foto: Kompas.com)

Namun, ponsel ini masih tergolong mahal karena memiliki harga yang cukup tinggi. Bahkan harganya melebihi harga kamera profesional yang juga bisa digunakan untuk merekam gambar, seperti kamera Digital Single Lens Reflex (DSLR) yang hanya menyentuh angka 10 juta rupiah. 

Hanya saja semua itu dikembalikan lagi kepada selera konsumen, ingin menggunakan kamera profesional atau kamera ponsel. Asalkan memiliki niat serta keterampilan yang memadai, pasti gambar yang dihasilkan akan sesuai ekspektasi.

Seperti yang dikutip dari tagar.id, salah satu sutradara kondang di Indonesia, Hanung Bramantyo mengatakan, “Sekarang sudah tidak ada alasan lagi membuat film susah, karena sudah ada handphone,” ujarnya.

Dengan terus berkembangnya kualitas kamera ponsel, kita tidak dapat menutup sebelah mata mengenai hal ini. Mungkin beberapa tahun ke depan, fitur yang tersedia di dalam kamera profesional juga terdapat di dalam fitur kamera ponsel. Patut kita tunggu perkembangannya dan selalu berkarya menggunakan alat yang ada karena kreativitas tidak ada batasnya.

*Penulis merupakan mahasiswa Fikom UPDM(B) angkatan 2017 yang juga merupakan Pemimpin Umum LPM Media Publica periode 2019-2020

536 total views, 8 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.