Media Publica – Istilah terminologi bad news is good news yang beranggapan bahwa semakin dramatis kondisi duka korban, maka akan semakin tinggi rating yang diperoleh perusahaan media, menjadi perhatian cukup besar pada sebagian media massa di Indonesia. Apalagi jika hal ini menyangkut kehidupan pribadi seseorang yang diekspos secara berlebihan.

Di era kebebasan pers saat ini memberitakan hal terkait kehidupan pribadi seseorang menjadi tantangan tersendiri bagi media dalam praktik etika jurnalistik. Jika tidak dilakukan dengan benar, hal ini dapat melanggar hak privasi seseorang. 

Menurut Stephen J. A. Ward (2009), etika jurnalistik adalah aplikasi dan evaluasi dari prinsip dan norma-norma yang memandu praktik jurnalisme dengan perhatian khusus terhadap permasalahan yang paling penting di lapangan. Etika jurnalistik dibutuhkan untuk mengkaji apa yang harus dilakukan oleh jurnalis dan organisasi berita sesuai dengan perannya di tengah masyarakat.

Michael Davis dalam bukunya yang berjudul “Journalism Ethics: A Philosophical Approach” memaparkan bahwa perusahaan media besar saat ini memperlakukan berita sebagai cara untuk mendapatkan iklan, bukan sebagai pelayanan publik (Journalism Ethics hal. 91). Hal ini dapat dilihat dari cara media menyiarkan pemberitaan yang justru bertendensi memainkan emosi, dan mendesak korban yang sedang berduka melalui berbagai pertanyaan, tanpa menaruh rasa empati. 

Misalnya pada kasus meninggalnya Ashraf Sinclair, aktor dan suami artis Bunga Citra Lestari (BCL) yang kemudian gencar-gencarnya diberitakan media seolah tidak memberikan ruang privasi bagi pihak yang sedang berkabung.

Kesedihan Bunga Citra Lestari bersama sang anak, Noah Sinclair saat prosesi pemakaman Ashraf Sinclair di San Diego Hills Memorial Park, Karawang, Jawa Barat, Selasa (18/2). (Foto: ANTARA FOTO)

Dandy Koswaraputra selaku Ketua Bidang Pendidikan, Etik, dan Profesi Aliansi Jurnalis Independen (AJI), menjelaskan bahwa jurnalis dalam meliput berita bencana haruslah menunjukkan sikap empati dan memiliki kepekaan terhadap korban. Hal ini dapat dilakukan dengan cara memberitakan angle yang memunculkan motivasi dari pihak korban. 

“Etika dalam meliput bencana, kematian, berita duka yang paling esensial adalah harus menghargai atau menunjukkan empati kepada korban terlebih dahulu. Jangan eksploitasi korban. Jangan kita monetize tangisannya, teriakannya, yang harus kita lakukan memunculkan motivasi dari pihak korban meskipun sudah mengalami musibah yang begitu dalam, tapi tetap memiliki motivasi tinggi untuk bangkit agar bisa menghadapi kehidupan selanjutnya. Angle-angle seperti itu yang mesti dipilih,” terangnya saat ditemui Media Publica, Senin (2/3).

Terkait batasan sejauh mana hak privasi seseorang dapat diberitakan, Dandy menambahkan bahwa wartawan dapat memberitakan privasi seseorang ketika hal tersebut ada kaitannya dengan publik. Adapun kehidupan pribadi yang berkaitan dengan publik ialah tindakan dari pejabat publik. 

Salah satunya ia memberikan contoh mengenai anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang memiliki hobi mengoleksi motor besar. Dalam hal ini, publik berhak tahu mengenai aktivitas tersebut dilakukan atas biaya sendiri yang diperoleh dari pekerjaannya sebagai anggota DPR atau justru menggunakan biaya negara.

Loyalitas dan Independensi Jurnalistik dalam Meliput Berita

Di Indonesia terdapat Kode Etik Jurnalistik yang dirumuskan oleh Dewan Pers sebagai acuan dalam beretika jurnalisme yang baik dan benar. Pemberitaan mengenai kehidupan keluarga BCL yang diekspos sedemikian rupa tentu berbenturan dengan Kode Etik Jurnalistik pasal 9 yang berbunyi: Wartawan Indonesia menghormati hak narasumber tentang kehidupan pribadinya, kecuali untuk kepentingan publik.

Dalam pasal tersebut, para wartawan haruslah menahan diri dan berhati-hati dalam meliput kehidupan pribadi narasumber agar tetap menghormati hak narasumber tersebut. Sementara, menurut penjabaran pasal tersebut, yang dimaksud kehidupan pribadi ialah segala aspek kehidupan seseorang dan keluarganya selain yang terkait dengan kepentingan publik.

Menurut Bill Kovach dan Tom Rosenstiel dalam bukunya “Sembilan Elemen Jurnalisme”, loyalitas pertama jurnalisme adalah kepada warga, karena dari sinilah timbul makna independensi jurnalistik.  Kaitannya dengan bisnis media, Kovach menyebutkan bahwa di antara ketiganya, kedudukan warga harus lebih diutamakan dibanding yang lainnya. Hubungan ini disebut Triangulasi Media, yakni hubungan antara negara, pasar, dan warga yang masing-masing mempunyai kepentingan berbeda.

Kendati demikian, menurut Kovach, sistem komunikasi massa menjadi bagian dari industri dan kepentingan ekonomi tidak dapat dielakkan, begitu pula kepentingan pemerintah sebagai pemegang kekuasaan yang mungkin memengaruhi kerja media. Namun, hal ini harus dikalahkan oleh kepentingan publik. Adanya independensi jurnalistik agar media tidak menjadi ajang komersialisasi, alat politik atau penyajian kebenaran yang bias oleh media, demi kepentingan tertentu.

Peran Masyarakat sebagai Kontrol Sosial

Ilustrasi: google.com

Tidak hanya pers yang melaksanakan fungsinya sebagai kontrol sosial (watchdog), masyarakat juga dapat berpartisipasi dalam membantu pengawasan media yang melakukan pelanggaran terhadap kode etik jurnalistik. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Nasrullah Kusadjibrata, S.Sos, M.Si selaku Kepala Konsentrasi Jurnalistik Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama).

Menurutnya, pemberitaan media yang kebanyakan mengekspos ranah privasi seseorang saat ini dikarenakan masyarakat juga ikut serta menikmati tayangan tersebut. Hal inilah yang membuat rating tayangan tersebut kian meningkat.

“Bagaimana kalau media yang mementingkan rating, viral dan share tinggi itu semakin tidak terkendali? Diperparah dengan kondisi masyarakat, seharusnya mereka bisa menjadi watchdog. Tetapi publik juga banyak menikmati. Di satu sisi terkecam tapi di sisi lain menikmati. Indikasinya kenapa berita itu banyak muncul? Karena viewernya banyak,” ujarnya saat ditemui Media Publica (28/2).

Senada dengan Nasrullah, Dandy mengatakan perlu adanya etika media baru karena saat ini penyedia informasi tidak hanya institusi media, melainkan seluruh masyarakat juga memiliki peran atas pengaruh media terhadap dunia, terutama media besar dalam kehidupan sosial.

“Nah ini fungsi kita sebagai jurnalis untuk meliterasi masyarakat agar paham. Memang untuk mengatur agar kita bisa bermedia dengan beretika itu agak pekerjaan rumah (PR), tetapi harus dilakukan. Kita semua ini harus memikirkan,” pungkasnya.

Hal ini terkait bagaimana cara masyarakat agar dapat mencari kemudian mengelola informasi, tidak mudah percaya dengan pemberitaan yang memungkinkan adanya informasi kebohongan (hoax), serta agar masyarakat dapat bertutur dengan bijak di media sosial dengan hanya menyampaikan informasi yang benar serta data yang sudah valid terverifikasi.

Reporter: Kevino Dwi Velrahga dan Ranita Sari

Editor: Safitri Amaliati

700 total views, 8 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.