2,570 total views, 22 views today

" /> Hari Kedua Belas Agustus - Media Publica
Published On: Tue, Aug 27th, 2019

Hari Kedua Belas Agustus

Share This
Tags

*Oleh: Ranita Sari

Ilustrasi

 

Seseorang membawakanku
Seikat bunga di Agustus kesukaanmu
Seperti biasa..
Terselip sepucuk surat di dalamnya
Darimu

Kata demi kata kubaca dengan seksama
Seiring detak jantungku yang berirama
Terlalu magis, terlalu sederhana
Tapi aku suka
Suaramu seolah bergema di balik deretan aksara
Dan kali ini aksaramu berbisik pelan kepadaku
“Aku rindu, kamu”

Jarak memang pendesak
Hingga ku alami irama sesak
Pertanda bahwa rindu semakin merasuk
Tangisku luruh tak tertahan
Ini bukan sebuah perpisahan
Tapi mengapa terasa begitu menyakitkan?

Masih di Agustus kesukaanmu
Kita berjanji untuk bertemu
Hari Sabtu pukul tujuh
Aku menunggu dan menunggu
Dengan rindu-rindu yang tak terucap
Dengan perasaan yang berharap

Kamudian..
Kamu, sebuah senyum yang sepasang dengan tatapan menghidupkan detak
Menyuguhkan kebahagiaan dalam benak
Dan sekejap kau membuat hatiku tersentak

Kau memutuskan pergi setelah mengatakan rindu
Lalu untuk apa bertemu?
Untuk apa bersama merindu
Bila akhirnya buat hati tak menentu

Sejak saat itu aku tak pernah lagi mendengar kabarnya
Bahkan disetiap Agustus kesukaannya
Aku tak lagi menerima bunga beserta surat yang sengaja diselipkannya untukku
Dan di bulan-bulan Agustus berikutnya
Aku terus menunggu dan menunggu
Berharap akan ada kiriman bunga untukku
Dan sepucuk surat yang terselip di dalamnya

Hingga pada suatu hari
Tepat di hari kedua belas
Bulan Agustus yang masih menjadi kesukaanmu
Seseorang membawakanku seikat bunga
Seperti biasa..
Terselip sepucuk surat di dalamnya
Tapi bukan darimu
Seseorang menuliskannya untukku dan mengatasnamakan dirimu

Kata demi kata kubaca dengan seksama
Seiring detak jantungku yang tak menentu
Aku tidak suka
Suaramu memudar bersamaan dengan deret aksara yang luntur terkena air mataku
Dan kali ini aksaranya berbisik pelan kepadaku
“Maaf, aku pergi”

Jarak memang pendesak
Aku menangis terisak
Lara menyiksa karena ketiadaan
Ini benar-benar sebuah perpisahan
Berpisah dengan cara Tuhan
Dan maut yang memisahkan

Masih di Agustus kesukaanmu
Aku kembali menemuimu
Jangan hiraukan tangis di mataku
Aku hanya terlampau merindukanmu
Lelaki yang kukenal itu
Kini terbujur kaku
Aku bergeming dalam kesunyian
Dengan rindu-rindu yang tak terucap
Dengan perasaan yang berharap
Dia kan kembali.

Sejak saat itu aku sering mengunjungi pemakamannya
Bahkan disetiap Agustus kesukaannya
Aku selalu menaburkan bunga dan merapalkan do’a untuknya
Dan di bulan-bulan Agustus berikutnya
Aku masih terus menunggu
Bersama secangkir kopi di usia senja
Berharap akan ada kiriman bunga untukku
Dan sepucuk surat yang terselip di dalamnya

Aku akan selalu mengenangmu
Di bulan Agustus yang selamanya menjadi kesukaanmu

 

*Penulis merupakan mahasiswa Fikom UPDM(B) angkatan 2016 yang juga merupakan Pemimpin Redaksi LPM Media Publica periode 2018-2019.

2,573 total views, 25 views today

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>