Published On: Fri, Nov 9th, 2018

Bertahan di Tengah Ketatnya Persaingan Industri Kecantikan

Mario Kristiono saat memaparkan materi bertema Become a Leading in a Competitive Market pada acara Ideafest 2018, Jakarta (26/10).

Jakarta, Media Publica – Indonesia sering disebut sebagai the next beauty hotspot di Asia Tenggara karena memiliki populasi yang sangat besar dan diprediksi menjadi pasar kecantikan yang terus tumbuh. Mario Kristiono selaku Product Inovation Manager of PT Paragon Technology and Inovation (Wardah Cosmetics) mengulas cara bertahan di tengah persaingan ketat industri kecantikan di acara Ideafest 2018, Jakarta (26/10).

Menurut hasil riset Wardah, penggunaan tata rias masyarakat Indonesia untuk mempercantik diri masih sedikit atau low spend. Secara umum masyarakat Indonesia hanya menggunakan lima jenis produk kecantikan dibanding Bangkok yang rerata sudah menggunakan sepuluh jenis produk kecantikan.

Nah, makanya oleh karena itu low spend di Indonesia sangat-sangat menarik dan ini tantangan kami sebagai market leader untuk mengedukasi penggunaan produk kecantikan agar tidak hanya menggunakan produk itu-itu saja tapi bisa menggunakan lebih banyak lagi,” ujar Kristiono.

Walau pengguna jenis produk kecantikan di Indonesia masih sedikit, persaingan industri kosmetik sangat ketat. Sebanyak 760 produk lokal mewarnai pasar kecantikan di Indonesia, belum ditambah produk kecantikan multinasional. “Industri ini sangat-sangat menarik, walaupun ada 760 local player (Re-pemilik produk lokal kecantikan) tapi masih banyak ruang untuk berkembang,” ujar Kristiono.

Kecantikan baik secara konsep maupun pasar sangat dinamis, berkembang secara konstan dan cepat. Menurut Kristiono, terdapat tiga patokan perkembangan dinamis kecantikan di Indonesia. Pertama, multidimensi konsep kecantikan antara wilayah perkotaan dan daerah di luar perkotaan.  Sebagai contoh, Kristiono menjelaskan hasil riset tim miliknya terhadap suatu daerah di luar perkotaan.

Persepsi kecantikan dari daerah tersebut hanya mementingkan kecerahan wajah, untuk makna kecantikan secara emosional yang penting hidup damai, tenang, berkecukupan, dan nyaman digunakan saat arisan. Kecantikan masyarakat perkotaan persepsi berbeda mengenai kecantikan masyarakat di luar perkotaan. Masyarakat perkotaan menganggap kecantikan adalah menampilkan pribadi sebagai diri sendiri.

“Implikasi buat kami adalah we have created business very shape, kita harus pinter menargetkan siapa audiens kita. Lalu,kami membuat series produk berbeda dengan brand yang berbeda,” kata Kristiono.

Kedua, membuat brand sendiri atau Brand Indie sangatlah mudah saat ini, karena platform digital banyak dijumpai dengan mudah. Produk-produk Brand Indie menambah ketat persaingan karena brand tersebut dapat mempengaruhi pikiran konsumen yang berpengaruh pada tren.

Ketiga, kecantikan saat ini sudah seperti kebutuhan primer dan menjadi gaya hidup masyarakat. “Dengan adanya beauty integeration kita bisa lebih gampang untuk kolaborasi dengan hal gaya hidup, contohnya kita jadi sponsor di Jakarta Fashion Week. Kita kolaborasi tata rias dengan pakaian,” ujar Kristiono.

Strategi Pemasaran dan Inovasi

Perkembangan teknologi digital membuat gaya menjual consumer push seperti “Ayo beli produk kami!” harus seimbang dengan gaya consumer pull. Menurut Kristiono, banyak konsumen memutuskan pembelian barang sesuai rekomendasi teman atau vlogger kecantikan.

Marketing planner harus balance antara keduanya. Kita harus bisa mengatur apa materi yang kita akan kasih ke konsumen dan bagaimana untuk kolaborasi dengan konsumen untuk bisa bantu penjualan produk kita,” kata Kristiono.

Selain mengatur strategi pemasaran, produk juga harus melakukan inovasi untuk bertahan dalam persaingan yang makin ketat. Kristiono memaparkan rumus melakukan Inovasi sebagai berikut:

 

 

Keterangan
I = Inovasi T = Trend
m = Market Inside (Pandangan Konsumen) R = Resources (Sumber Daya)
t = Waktu   = Konsep
a = Technology Advancement

(Perkembangan teknologi)

 

Saat ingin melakukan inovasi, produsen harus melihat pandangan konsumen dikali dengan waktu. Contoh, ketika ingin melakukan inovasi namun terlalu cepat dikeluarkan maka inovasi akan sulit diterima oleh pasar. Jika inovasi dikeluarkan terlambat, maka produk sendiri akan tertinggal karena sudah tidak sesuai di mata konsumen.

Setelah itu, kita harus melihat tren yang terjadi di pasar lokal maupun pasar internasional ditambah technological advancement yang memudahkan pencarian informasi. Keduanya dibagi dengan limited resources atau sumber daya yang dimiliki. “Kita harus memperhatikan sumber daya karena orang yang mengerjakan terbatas, waktu terbatas dan fokusnya juga terbatas,” tambah Kristiono.

Terakhir adalah konsep yang terdiri dari ide-ide gila yang harus berbanding lurus dengan teknologi yang sudah mumpuni dan ketersedian bahan kecantikan. “Agar inovasi hasilnya positif maka market inside dan lain-lainnya harus lebih positif dibanding konsep. Oleh karena itu ide memang penting tapi harus melihat kapabilitas,” tambah Kristiono.

Perkuat Internal Perusahaan

Pertama, mampu melihat relevansi tren masa lalu, sekarang, dan memperkirakan masa depan. Sebagai contoh, persepsi kecantikan: Dulu wanita ingin tampil cantik karena takut ditinggal suami, sekarang untuk menjadi cantik adalah keinginan dari setiap individu. Pada perubahan tersebut terdapat sebab dan akibat yang dapat diteliti. Hal itu yang menjadi acuan dasar relevansi untuk memprediksi tren di masa mendatang.

 

  1.       Apa yang kamu inginkan.
2.       Apa yang mereka tertarik.
3.       Relevansi (Past, Present, Future)

 

Kedua, creativity security atau keamanan setiap individu untuk mengungkapkan ide tanpa takut ditolak tanpa sebab. “Kita berada di era big data, semua data tuh ada banyak dan mudah diakses, oleh karena itu saat ada banyak ide liar kita harus sortir lewat brainstorming bersama dengan rumus yang tadi,” tambah Kristiono.

Ketiga, sinergi antar divisi perusahaan yang memiliki kaitan dengan produk menurut Kristiono sinergi malah membuat pengerjaan produk lebih efisien, terkurasi, dan terarah. “Makanya para petinggi tiap divisi khusus brand harus sering-sering bertemu di awal agar menghindari segala hambatan atau inovasi yang gagal padahal sudah setengah jalan,” ujar Kristiono.

Keempat, resilient atau kekuatan untuk bangkit kembali setelah melewati kondisi terberat secara cepat. Bertahan hidup di dunia yang serba cepat, setiap individu harus memiliki ketahanan mental untuk menghadapi segala kemungkinan buruk yang terjadi. “Kita berkerja harus diseimbangkan dengan passion, walaupun banyak rintangan, dengan passion kita bisa tetap bertahan,” jelas Kristiono.

Kristiono menambahkan, Wardah selalu tekankan tiga hal kepada karyawannya, yaitu power, mind, dan hearts. Power artinya dapat memimpin dan mengatur dengan baik, mind adalah menghasilkan ide dan eksekusi ide. “Terakhir hearts, kata yang paling gue suka karena artinya kita harus komitmen dengan apa yang sudah di mulai dan tidak akan menyerah,” ujar Kristiono.

Reporter: Mohammad Thorvy Qalbi
Editor: Rangga Dipa Yakti

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>