Published On: Sun, May 20th, 2018

Ketahui Resiko DEBM Sebelum Melakukan

Share This
Tags

Jakarta, Media Publica – Naiknya berat badan dapat menjadi permasalahan serius bagi sebagian orang. Sehingga, beberapa orang rela melakukan berbagai cara untuk mendapatkan bentuk tubuh yang ideal. Salah satunya dengan melakukan Diet Enak Bahagia Menyenangkan (DEBM). Namun, sebelum menjalankan diet tersebut, ada baiknya anda mengetahui beberapa resikonya.

DEBM adalah jenis diet yang memiliki prinsip rendah karbohidrat serta tinggi lemak dan protein. Pada DEBM, karbohidrat yang harusnya menjadi sumber energi tidak menjalankan fungsinya dikarenakan minimnya jumlah karbohidrat yang masuk. Sehingga lemak dan protein diurai menjadi sumber energi hingga terjadi ketosis atau kondisi dimana hati manusia memproduksi “ketone” untuk digunakan sebagai bahan bakar atau energi bagi seluruh tubuh. Karena hal inilah berat badan kita akan turun secara drastis.

Pafitri, S.K.M, RD selaku ahli gizi saat memaparkan resiko DEBM pada Rabu, (9/5). (Foto: Media Publica/Ari Nurcahyo)

Diet ini memiliki kemiripan dengan diet ketogenik, ketofatosis dan atkins. Di mana pada diet ketogenik digunakan sebagai pengobatan untuk mengurangi kejang pada anak penderita epilepsi dalam jangka waktu tertentu. Perbedaan yang mencolok antara ketogenik dan DEBM adalah asupan lemak yang dikonsumsi. Jika pada ketogenik, lemak yang dikonsumsi adalah lemak tak jenuh seperti salmon dan minyak zaitun. Sedangkan pada DEBM, asupan lemak yang dikonsumsi cenderung bebas dan tidak terkontrol.

Menurut Pafitri, S.K.M, RD., seorang ahli gizi sekaligus konsultan Nutripaf mengatakan bahwa DEBM ini memang sangat terlihat menggiurkan terutama bagi orang-orang yang ingin kurus dengan cara instan. Namun ia menjelaskan bahwa banyak efek samping yang bisa diderita jika dilakukan dalam jangka waktu yang panjang. “Efek jangka pendeknya diet ini bisa menyebabkan orang akan sering pusing, mual dan tremor. Hal tersebut sebenarnya merupakan sinyal bahwa tubuh kita menolak diet tersebut,” ujar Pafitri.

Sementara efek jangka panjangnya diantaranya kerusakan pada ginjal, penyakit jantung, osteoporosis, gangguan hormonal, potensi kanker bahkan kematian. Kenapa bisa demikian?

Pafitri menjelaskan ketika melakukan DEBM tubuh kita dikondisikan seperti restorasi atau puasa. Banyaknya asupan protein dan lemak yang masuk ke dalam tubuh kita sehingga terjadi akumulasi lemak. Protein itu membebani kerja ginjal. Selain itu, konsumsi protein yang tinggi akan menyembabkan banyak kalsium yang hilang, “Belum lagi efek dari penyesuaian dalam tubuh, yang awalnya tubuh kita ada karbohidrat, dipaksa puasa.” Tambah Pafitri.

Ketika mengonsumsi karbohidrat, pancreas akan mengeluarkan insulin agar gula tidak mengendap dalam tubuh. Jika karbohidrat dikonsumsi dalam porsi yang minim tentu insulin tidak bekerja. Sehingga metabolism akan terganggu. “Insulin kita jadi gak berfungsi, kita dibuat seperti orang diabetes. Jadi jangan berpikir jangka pendek, tapi jangka panjang juga,” himbaunya.

Lalu, sebaiknya diet apa yang perlu kita lakukan?

Pafitri menyarankan untuk memilih diet yang berpedoman dengan gizi seimbang yaitu rendah karbohidrat, rendah lemak, cukup vitamin dan mineral serta aktivitas fisik seperti olahraga untuk membantu proses pembakaran kalori agar lebih cepat. Ia juga menghimbau semua kelompok gizi memiliki fungsinya masing-masing. Sangat beresiko jika ada yang dihilangkan dan akan mengganggu sistem metabolisme tubuh. “Diet apapun silahkan bila tujuannya memang untuk membuat tubuh kita menjadi sehat. Sehat nomor satu, langsing nomor sekian.” Tutupnya.

Bagaimana MP-ers masih yakinkan untuk melakukan DEBM? Ada baiknya lakukan riset terlebih dahulu sebelum menentukan diet mana yang akan kita jalani. Selamat beraktivitas.

 

Reporter: Elvina Tri Audya & Ari Nurcahyo

Editor: Gieska Cyrilla Calista

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>