Published On: Thu, May 17th, 2018

Tan dan Sjahrir dalam Kemelut Sejarah

Share This
Tags

Judul : Tan Malaka dan Sjahrir dalam kemelut sejarah
Penulis : Kholid O. Santosa, Dkk
Penerbit : Sega Arsy
Tebal Buku : 210 halaman

Berbicara mengenai Tan Malaka dan Sutan Sjahrir adalah bicara tentang revolusi dan Kemerdekaan Indonesia. Para sejarawan menempatkan keduanya pada barisan “Tujuh Begawan Revolusi Indonesia” yang terdiri dari Soekarno, Hatta, Sjahrir, Tan Malaka, Amir Sjarifuddin, Jendral Sudirman, dan A.H. Nasution.

Buku berjudul Tan Malaka dan Sjahrir dalam Kemelut Sejarah ini, menceritakan bagaimana peranan kedua tokoh melegenda itu dalam beberapa kesempatan momen revolusi. Seluruh cerita merupakan kumpulan-kumpulan tulisan dari beberapa pengamat dan sejarawan senior.

Tan Malaka sebagai tokoh pergerakan selama 51 tahun hidupnya telah menjelajahi 21 tempat dan 11 negara dengan kondisi sakit-sakitan serta pengawasan ketat agen-agen Interpol. Memiliki 23 nama palsu serta perjalanan dua benua sepanjang 89 ribu kilometer setara dengan dua kali jarak yang tempuh Che Guevara di Amerika Latin. Sebuah perjuangan yang luar biasa dengan sebuah tujuan : Kemerdekaan Indonesia.

Lain halnya Sjahrir, ia diceritakan pergi meninggalkan kampusnya di Belanda pada 1931 untuk kembali ke tanah air dan terjun dalam pergerakan nasional. Ia memulai dengan menjadi ketua dari organisasi Pendidikan Nasional Indonesia Baru (PNI Baru) pada Juni 1932. Lalu, pada Februari 1934 ia bersama Hatta dibuang ke Boven Digul.

Buku ini juga membahas pertemanan, persamaan serta perbedaan pemikiran kedua tokoh tersebut. Salah satunya momen revolusi ketika Belanda menggempur Indonesia. Sjahrir lebih memilih jalan diplomasi namun Tan Malaka menentang dengan gagasan merdeka 100%. Artinya, revolusi harus ditempuh dengan usaha rakyat sendiri. Tidak boleh menjalankan politik diplomasi. Karena gagasan tersebut Tan harus dipenjara selama dua tahun.

Pada sebuah pertemuan pertama kali pada September yang ditulis Harry Poeze, di rumah Achmad Subarjo, Tan dan Sjahrir pernah mendiskusikan cara mengganti kekuasaan Presiden Soekarno dan Hatta dengan pemerintahan parlemen yang dikepalai Sjahrir. Dalam kerja sama yang erat mereka merencanakan langkah – langkah untuk mengambil alih kekuasaan tersebut.

Tapi belakangan Sjahrir berpikir dalam keadaan segenting itu, Indonesia perlu mempertahankan mereka sebagai simbol negara. Alhasil rencana mereka pun batal. Walaupun seringkali berbeda pandangan dengan Tan, Sjahrir menaruh rasa hormat pada Tan Malaka yang ia sapa dengan sapaan kehormatan minangkabau, Engku.

Hingga akhir hayatnya gagasan mereka berdua masih berguna dan relevan hingga saat ini, ironi yang menyedihkan bahwa seorang humanis besar seperti Sjahrir harus menderita ditangan negara yang sudah dibantunya berdiri. Ia meninggal sebagai tahanan politik. Dan Tan Malaka oleh M. Yamin disebut sebagai bapak Republik Indonesia harus mati ditembak oleh tangan bangsanya sendiri.

Dan mereka tumbal dalam revolusi bangsa nya!

Peresensi: Jurnal Indonesia Simbolon

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>