Published On: Thu, May 17th, 2018

Bibir Jendela (Bagian 1)

Share This
Tags

*Oleh Rangga Dipa Yakti

Ilustrasi: Instagram/anxiousvveird

Ketika berbicara mengenai rasa percaya ada sebuah analogi yang kupelajari darinya. Waktu itu ia berkata bahwa rasa percaya itu sangat mahal. Seperti matahari yang mempercayai bulan. Ia dapat menerangi malam yang pekat ketika Tuhan meminta matahari untuk tertidur sesaat. Menemani orang-orang yang tenggelam dalam kegelapan. Hingga si jago berkokok, matahari terbangun lalu mengecup sapa pagi untuk meminta sang bulan meredupkan cahayanya.

Kata-kata itu terpaku dalam kepalaku. Tak bisa dalam waktu sekejap untuk mencongkelnya keluar. Begitu manis dan sejuk mengingatnya. Merasa aman didekatnya. Namun, sulit dipercaya bahwa semua itu sudah berlalu dimakan waktu. Aku bukan lagi prioritasnya. Bukan lagi orang yang sama ‘tuk sekadar ngobrol di bibir jendela tentang bulan. Tentang cerita si dewi hujan. Hingga kaki langit. Aku bukan apa-apa lagi di matanya.

Tapi, aku merindukannya.

Malam dingin yang biasa kulewati di tahun kedua setelah dia pergi. Kedua bola mata ini masih setia menatap jendela yang terpampang dihadapannya. Sebuah jendela kayu yang nampak biasa namun meninggalkan sejuta cerita.

Dia sudah tak lagi diduduki oleh dua sejoli yang biasanya bercanda dan berbagi tawa tentang bulan dan hujan. Dari sana, sepasang daun jendela perlahan melambai mengikuti irama angin. Seolah memanggilku yang masih termenung dari kubur ini.

Godaan itu cukup kuat agar aku dapat bernostalgia dengan kenangan bersamanya. Tetapi, tidak. Aku sudah mantap untuk tidak mengingat-ingatnya kembali. Lantas kuubah posisi rebahan ini menghadap tembok yang memudar.

Sesekali dalam kekosongan itu aku bertanya-tanya. Apa yang tengah dilakukannya sekarang? Tidakkah dia menyesal telah mencampakkanku? Atau sebaliknya? Semakin aku sendiri semakin lengah diriku dilumpuhkan oleh pertanyaan-pertanyaan itu. Dan semakin tak berdaya pula diriku untuk mengendalikan rasa menyalahkan diri sendiri.

Mengapa aku terlahir seperti ini?

***

Kaki ini meraba bata menuju toko buku berukuran kecil di pinggir jalan. Daun pintunya terbuat dari kaca transparan sehingga orang yang berlalu-lalang dapat menengok pemandangan surga kata-kata di dalam sana yang dimomong dengan ikhlas oleh sang penulis. Memperkenalkan anak mereka yang berbentuk ide dan lahir dalam sebuah buku untuk memanjakan pembacanya.  Namun sayang, orang-orang lebih memilih untuk acuh ketimbang merangsang saraf bacanya.

Tanganku mendorong pintu kaca yang dingin itu disusul getaran bel emas yang bertengger di atasnya. Suasananya terasa sepi namun tak mencekam. Sementara aku menoleh ke belakang. Pintu kaca itu menyuguhkan pemandangan pusat kota yang sibuk dan mencekam.

Keramaian membuatku takut. Bukan karena orang-orang yang kulihat, namun siapa jati diri mereka sebenarnya. Apakah tukang gosip atau pencopet? Aku tidak tahu. Aku merasa takut melihat isi dari sebuah keramaian.

Tak mau berlama-lama aku berdiri di sana. Rak-rak buku itu sudah memanggilku. Sementara di meja informasi telah duduk manis seorang perempuan bernama Linda si penjaga toko buku yang di tangannya menggenggam buku dengan cover pastel tua. Aku tidak tahu judulnya. Namun, bukanlah dia yang mengalihkan pandanganku.

Melainkan perempuan berambut hitam lurus menjulur seperti lidah api yang hendak menyebrang dengan tergesa-gesa. Memeluk buku  layaknya bayi mungil. Dari kejauhan aku menatap selaput pelanginya yang berwarna biru serta raut wajah yang mengisyaratkan gugup.

Dengan rasa takut ia menyebrang jalan raya, berlari kecil sesekali memejamkan matanya. Sesampainya di ujung jalan ia menghela napas panjang lalu menengok kembali ke belakangnya seakan baru saja melewati jembatan dengan jurang tanpa batas.

Kini giliranku yang dibuatnya gugup. Karena ia berhasil menangkap basah diriku yang tengah sibuk memandanginya. Aku malu karena tatapan kami saling bertautan. Reflek tubuhku langsung mengarah ke dalam  rimba rak buku dengan maksud untuk menyelamatkanku dari rasa malu.

***

Kegelapan kembali menguasai belahan bumi tempatku tinggal. Dari bibir jendela aku menyaksikan cahaya yang berasal dari pusat kota. Mereka nampak kecil dan indah seperti kawanan kunang-kunang menyinari dataran hijau.

Lagi, aku dibuat mengenang dia. Membayangkan hal yang mustahil untuk terjadi. Kesempatan kedua, percakapan mengenai sorotan sinar bulan dan lembut telapak tangannya kala menyentuh kedua pipiku. Kenangan itu berhasil memukul rontok hati ini.

Lambat laun ombak kegelapan mulai meredupkan cahaya-cahaya gedung di perkotaan. Dan aku masih duduk termenung di bibir jendela bersama dinginnya malam  menggelitik tulangku juga kenangan tentangnya yang perlahan merusak bagian amygdala-ku.

Untuk sesaat aku menyesal telah mengenal perempuan  itu. Tapi aku bisa apa? Menyalahi waktu?

Helaan napasku yang berat menyatu dengan udara malam. Tempo napas berat  itu mengingatkanku dengan si gadis ujung jalan. Di mana saat tatapan kami saling bertautan, aku langsung membuang wajah yang memerah.

Ya, aku menyebutnya helaan napas orang gugup. Unik, bukan?

Jauh di lubuk hatiku terdalam. Ia bertanya pada jantung. “Mengapa dirimu berdegup tak keruan ketika memandangnya?” Jantung tidak menjawab. Dia semakin detakannya semakin kuat ditambah aliran darah yang tiba-tiba mengalir cepat menuju otak.

Begitu aku mengingatnya rasa penasaran mulai menyelimuti. Kira-kira dia siapa? Mengapa kami bisa bertemu dengan cara seperti itu? Maksudku, tidak bertemu tatap muka. Namun keanggunannya dan wajahnya yang imut itu … seolah langsung akrab dalam memori ini.

Aku tidak tahu kau siapa. Aku hanya berharap kau merasakan hal yang sama sepertiku. Si gadis ujung jalan.

***

Belum pernah seumur hidup aku merasakan api semangat yang berkobar seperti ini. Mengisyaratkan bahwa sudah mantap ingin mengenalnya. Si gadis ujung jalan. Aku penasaran bagaimana reaksi tubuhku ketika melihatnya tersenyum. Jika saja pada detik itu aku kritis. Setidaknya, aku bahagia.

Namun aku terlalu cepat untuk berpendapat.

Langkah kaki ini terpaku karena melihat si gadis ujung jalan baru saja keluar dari toko buku itu. Seolah rencana yang kuramu semalaman lenyap karena rasa gugup tatkala bertemu dengannya.

Demi menyelamatkan wajah yang memerah terbakar malu aku berpura-pura acuh mendongak ke arah pencakar langit. Teknik ini juga dapat membantuku agar tatapan kami tak lagi bertautan.

Lagi, aku terlalu cepat untuk berpendapat.

Kedua mata ini melirik iseng ke tempat si gadis ujung jalan berdiri. Dan di sanalah dirinya berhasil membuatku membeku sekali lagi. Dirinya yang nampak imut. Berdiri, menunggu dan sabar. Dengan pakaian yang kontras bahkan terkesan tabrakan warnanya.

Akankah hati dan pikiran bisa senada? Bagiku tidak. Jauh di lubuk hati ini aku ingin melambai kepadanya. Namun, pikiranku memutuskan untuk diam menyerahkannya pada perasaan malu.

Kemudian ia membidik mata birunya itu ke pencakar langit seakan mengorek informasi yang baru saja kulakukan barusan. Gadis itu tidak tahu alasanku mendongak adalah dia. Namun ia tetap mencari untuk memastikan ada hal menarik di atas sana. Padahal yang menarik adalah dia.

Ia tak dapat menemukan apa-apa di atas sana sehingga kata bisu dapat mewakili kondisi kami setelahnya. Di satu sisi aku takut ia mengetahui jati diriku yang sebenarnya. Di sisi lain, aku merasa bahwa ia siap untuk mengenal diriku.

Namun, aku tidak siap.

Hingga akhirnya ia memutuskan untuk pergi menyebrang ke ujung jalan menyimpan rasa penasarannya yang lebih terkesan pada rasa kecewa karena segalanya tak sesuai ekspektasi. Begitupun aku.

Andaikan aku lebih percaya diri.

Sebelum ia benar-benar pergi dan aku masuk ke dalam toko buku untuk menjalankan rutinitas. Aku mencoba untuk menyempatkan diri menengok ke ujung jalan berharap bahwa dia berputar arah kembali padaku. Namun, pikir ini terlalu berpusat pada kepingan cerita romantis yang pernah kubaca menawarkan adegan manis.

Sementara dunia nyata jauh lebih kejam dari itu. Sial. Dia tak kembali.

Selagi menyesali perbuatan tadi. Aku melihat Linda tengah menguncir rambutnya. Masih sama. Terpampang buku yang ada di pangkuannya. Mungkin dia bisa membantuku mencari tahu jawaban mengenai gadis ujung jalan.

“Perempuan tadi, siapa namanya?” tanyaku.

Linda, seperti biasa dia tak banyak omong dan membalas pertanyaanku dengan mengangkat kedua bahunya sementara tangannya sibuk memindahkan kuncir rambut yang sedari tadi digigit, “Tapi dia nanyain lo,” balasnya lalu melekatkan tatapan dinginnya padaku.

“Masa, sih?” tanyaku, lagi.

“Iya, dia juga beli novelnya John Green.”

Ingin aku berlari mengejarnya. Namun dirinya telah lenyap ditelan kejauhan. Hujan di tengah Bulan November pun pecah membasahi aspal kering di luar sana. Cuaca itu lucu. Mereka bisa berubah tanpa harus lelah diprediksi seolah mewakili perasaanku detik ini.

Andai aku mengerti pasti kita sudah saling mengenal. Si gadis ujung jalan. Kuharap besok waktu mempertemukan kita.

-Bersambung-

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>