Published On: Wed, May 16th, 2018

Bijak Menghadapi Terorisme di Indonesia

Share This
Tags

Aksi damai mahasiswa Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) dalam menanggapi aksi teror bom di beberapa kota, (15/5).

Oleh: Mohammad Thorvy Qalbi*

Media Publica – Beberapa hari lalu publik dikagetkan dengan aksi peledakan bom bunuh diri sebanyak tiga kali. Tak ada banyak prasangka kejadian memilukan hati kembali mengguncang tanah air. “Tindakan terorisme kali ini sungguh biadab dan di luar batas kemanusiaan,” kata Jokowi dalam jumpa pers di RS Bhayangkara, Surabaya, Jawa Timur.

Biadab? Ya memang. Merusak kedamaian negeri bhineka setelah guncangan isu SARA dalam tubuh Indonesia yang terus mencoba menumbangkan kekokohan tunggal ika. Entah ini upaya politikus si tikus berdasi dalam mencapai kekuasaan, atau jihadis yang ingin buru-buru masuk surga karena paham akan dunia ini sudah rusak. Pastinya telah banyak nyawa menjadi korban kebodohan intelektual pelaku maupun aktor intelektual.

Nyawa melayang, tubuh terbakar api laknat buatan manusia. Ketakutan menyebarluas, menusuk, membongkar memori pilu masa lalu. Isak tangis kehilangan keluarga yang tak menyangka telah ditinggalkan oleh korban. Air mata sedih dan marah bercampur aduk mengutuk perbuatan pelaku. Tak ada kata maaf bagi pelaku teror karena perbuatannya. Hukum mati saja para pelaku teror!

Mungkin kalimat-kalimat diatas dapat menggambarkan suasana hati masyarakat Indonesia saat ini. Boleh saja merasa geram, namun hal yang perlu disadari adalah bagaimana masyarakat bersikap menghadapi aksi terorisme di Indonesia. Komentar-komentar di pusaran arus informasi media mainstream maupun platform media sosial mulai bermunculan dengan nada provokatif.

Dikutip dari tulisan Hizkia Yosias Polimpung dalam indoprogress.com tentang terorisme dan disiplin emosi. Ia menjelaskan bahwa emosi itu melelahkan: ia menyedot energi, pikiran (overthinking: seolah-olah berpikir, namun sebenarnya tidak), waktu, dan bahkan ia juga menyedot energi sekelilingnya: teman, keluarga, rekan kerja, dan seterusnya. Emosi ini memiliki kekuatan luar biasa, namun sayangnya irasional (dalam artian, ia tiba-tiba saja muncul; ungkapan seperti “entah mengapa, tapi aku merasa…”, dst.); sehingga apabila tidak diimbangi dengan kawalan pikiran logis, sudah pasti kehancuran yang terjadi. Begitu juga sebaliknya, pikiran logis tidak akan bergerak kemana-mana tanpa asupan energi yang berasal dari emosi.

Rasionalitas masih diperlukan masyarakat menghadapi isu seperti ini, kita tidak perlu hingga menyerukan hukuman mati terhadap tindak pidana teroris apa pun bentuknya. Apakah lupa dengan kalimat sila kedua ideologi Pancasila? Mereka masih warga negara kita, hukuman harus adil dengan tindak pidana yang dilakukan pelaku.

Selain itu, terdapat beberapa hal yang ingin penulis soroti tentang peristiwa ini. Pertama adalah kalimat teroris tidak punya agama. Apakah benar sepenuhnya teroris tak punya agama? Tentu saja mereka punya agama. Jujurlah, bahwa mereka memang bagian dari agama kita, tapi mereka memakai jalan yang salah dan tidak sesuai pada hakikat agamanya.

Kedua, pelurusan makna embel-embel radikal dalam hal agama. Banyak mengatakan jikalau pelaku teroris tersebut berpaham radikal. Radikal sendiri berasal dari bahasa latin yakni radix yang berarti akar. Artinya radikal tidak berkonotasi semua hal yang merusak dan memaksakan kehendak. Radikal adalah soal cara berpikir berlandaskan akar dari prinsip hidup masing-masing manusia. Jadi, konotasi agama radikal tak sepatutnya dikategorikan agama kekerasan. Padahal akar dari semua agama adalah kesejahteraan, kedamaian dan hubungan simbiosis mutualisme bagi seluruh manusia.

Ketiga, peringatan untuk hati-hati membuat postingan dan bahaya berkomentar dalam penggunaan media sosial. Platform media sosial digunakan untuk mempermudah aktivitas manusia dalam melakukan hubungan sosial. Namun perlu disadari komentar-komentar provokatif dapat dengan mudah menjamur cepat di mana-mana.  Hal ini perlu diwaspadai dapat menimbulkan kesemrawutan dan perpecahan masyarakat. Tinggalkan budaya tuduh-menuduh atau saling menyalahkan tentang hal yang diunggah oleh orang lain dalam akun media sosialnya.

Sebagai contoh: Si A menulis bahwa tidakan teroris adalah pengalihan isu pilpres. Si B pun berkomentar bahwa ini kasus sudah menimbulkan banyak korban jiwa, dan di mana hati nurani si penulis status. Hal tersebut merupakan budaya buruk dalam memanfaatkan teknologi. Jadikanlah media sosial tempat berdiskusi, bukan tempat saling menjatuhi. Rasionalitas akan seseorang yang membuat status seperti itu seharusnya dipuji karena memiliki sudut pandang tersendiri. Namun pujian tetap diberikan apabila penulis status dapat memaparkan landasan dan maksud dari tulisannya. Jika tidak, ya biarkan saja.

Terakhir, mari kita mendoakan para korban semoga diampuni dosa dan masuk surga. Serta keluarga baik pihak korban dan pelaku yang telah ditinggalkan agar tetap hidup damai dan bisa saling memaafkan.

*penulis merupakan Pemimpin Redaksi LPM Media Publica Periode 2017/2018.

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>