Published On: Sat, May 12th, 2018

Revolusi Interaktif Multimedia dalam Kekuasaan dan Hiburan

Share This
Tags

Judul : Kekuasaan dan Hiburan
Penulis : Garin Nugroho
Penerbit : Yayasan Bentang Budaya
Tebal Buku : 180 halaman

Media Publica – Kekuasaan dan Hiburan buku karya Sutradara dan Produser asal Indonesia ini berisi tentang kumpulan berbagai tulisan kritik Garin dalam melihat perkembangan media elektronik, televisi, bahkan perbandingan berbagai industri film dan festival di berbagai negara. Bukan hanya itu saja, nilai-nilai ideologis, pandangan terhadap persoalan baik sains, estetika, tekonlogi, maupun etika, hingga sejarah perfilman pun di ungkapkan Garin dalam tulisan bukunya kali ini.

Dunia tumpang tindih yang berhadapan dengan produk berbagai fase pramodern, modern hingga pascamodern telah melahirkan anak-anak yang kini hidup dan menikmati dalam revolusi interaktif multimedia. Televisi adalah salah satunya. Plot, situasi, nyanyian, tarian, dan watak yang di munculkan dalam televisi mampu menjadi bagian ruang dan waktu mereka mengisi hari-hari. Dengan kata lain, televisi adalah urbanisasi kesadaran yang mampu mewujudkan dunia kedalam rumah.

Informasi dari berita televisi kini dianggap memenuhi kebutuhan signifikan individu untuk memberinya identitas, aspirasi, dan realitas diri. Berita di televisi menentukan persepsi orang terhadap dunia dan masyarakatnya. Persoalannya, berita televisi seperti teknologi itu sendiri yang nilai objektivitasnya tidak lagi ditentukan oleh dirinya sendiri, namun oleh kekuatan dari luar mulai dari ekonomi hingga politik. Adapun berita di televisi dibahas dalam bukunya ini. Menurutnya, berita di televisi tak lepas dari campur tangan penguasa atau kekuasaan. Intervensi kekuasaanlah yang menyebabkan banyak peristiwa dan tokoh pelanggar hukum tak tersentuh kamera televisi karena adanya kedekatan dengan kekuasaan. Mereka disebut The Untouchable.

Sebuah situasi dicontohkan Garin ketika Sudomo yang saat itu menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan hadir di Kejaksaan Agung karena terlibat kasus pembobolan Bank. Dalam pemberitaan, kamera televisi merekam gambar yang begitu jauh sehingga sosok Sudomo hanya samar tak terlihat. Berbeda kondisi ketika para buruh atau garong kecil yang terkena masalah. Kamera sangat dekat menceritakan peristiwa mereka, selama itu tidak mengguncang kursi penguasa.

Disisi lain Garin juga menilai situasi komedi saat itu, seperti Dunia Dara,Opera Tiga Jaman, dan Si Manis Jembatan Ancol yang condong meremehkan bahkan melecehkan. Proses spin off yang dilakukan dari berbagai komedi situasi impor pun hanya diambil peristiwa atau adegan per adegan begitu saja. Proses penciptaan kembali dengan mengadaptasi persoalan jarang dimunculkan. Hal ini di dukung hanya karena pendewaan terhadap jumlah rating yang tinggi semata. Masih banyak hal menarik seperti persoalan, metode, rating, hingga sejarah perfilman yang di bicarakan Garin dalam buku Kekuasaan dan Hiburan ini.

Industri jasa televisi bukanlah semata-mata teknologi, tetapi dunia gagasan yang di lembagakan lewat pola ekonomi, sosial, politik, dan budaya tertentu. Teknologi dan sistem industri tidaklah bertumbuh perlahan-lahan, melainkan bertumbuh secara eksponensial. Namun nyatanya pertelevisian di indonesia masih banyak yang harus di perbaiki. Seperti yang dipahami Garin saat dirinya melihat pembuatan film Wings di Amerika Serikat, bahwa pekerjaan rumah kita untuk memecahkan persoalan industri pertelevisian adalah pengajaran dan perencanaan umum tentang industri pertelevisian Indonesia dalam tatanan pertelevisian global.

Peresensi : Rizka Kumala Dewi

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>