87 total views, 7 views today

" /> Kekuatan WOM pada Influencer - Media Publica
Published On: Tue, Mar 27th, 2018

Kekuatan WOM pada Influencer

Share This
Tags

Ilustrasi: www.gadis.co.id

Jakarta, Media Publica – Word of Mouth (WOM) atau dikenal dengan istilah Ghetok Tular, merupakan salah satu konsep marketing berupa rekomendasi dari mulut ke mulut tentang kebaikan maupun keburukan suatu produk atau jasa. Seiring berkembangnya teknologi, pengaruh WOM dipercepat dengan adanya internet dan menjadi pendorong munculnya influencer di media sosial. Namun, apakah influencer memiliki kekuatan lebih dalam melakukan konsep WOM?

WOM menjadi konsep yang sering digunakan dalam dunia pemasaran karena dinilai lebih efektif, hemat biaya, serta menghasilkan respon baik di masyarakat. Namun, tidak semua konsep WOM terjadi secara alami, karena konsep ini terbagi menjadi dua yaitu tidak disengaja dan disengaja. Tidak disengaja biasanya terjadi ketika seseorang merekomendasi suatu produk atau jasa karena merasakan kepuasannya sendiri, sedangkan disengaja terjadi karena telah direncanakan.

Di era digital saat ini, WOM yang disengaja dapat dilihat ketika Influencer diminta oleh suatu produk atau jasa untuk membicarakan produknya. Influencer sendiri merupakan seseorang yang memiliki banyak pengikut di media sosial serta memiliki pengaruh dalam memberikan opini terhadap pengikutnya.

“Kekuatannya (red-WOM) adalah brand itu diceritakan, yang menceritakan adalah orang terkenal dan dia rekomendasikan. Itu yang membuat WOM itu lebih efektif dibanding dengan bentuk promosi lainnya,” jelas H.M. Saefulloh, S.Sos, M.Si selaku Dosen Fikom Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) (UPDM(B)).

Kehadiran influencer turut andil bagian dalam berhasil atau tidaknya taktik dari WOM. Drs. Hilwan Arif selaku Koordinator Konsentrasi Periklanan Fikom UPDM(B) menjelaskan, pemilihan influencer akan mempengaruhi  citra brand tersebut.

Influencer sangat menentukan dalam menyampaikan sebuah pesan produk. Gunakanlah influencer atau public figure yang memang namanya bagus, peran dan kontribusinya juga bagus. Karena kalau influencernya memiliki image buruk akan merusak citra produk,” tuturnya.

Selain memiliki citra diri yang baik, Saefulloh berpendapat WOM yang baik harus dilakukan secara natural dan tidak terdapat rekayasa. Sehingga influencer tersebut tidak terlihat sedang melakukan promosi. Hilwan menambahkan, bahwa konteks dan konten yang disajikan oleh Influencer juga menjadi hal penting dan berpengaruh pada berhasil atau tidaknya di masyarakat.

Meskipun promosi WOM yang dilakukan oleh Influencer dapat berpengaruh, tetapi WOM yang dilakukan oleh teman atau keluarga sendiri akan memberikan pengaruh yang lebih besar. “Terdapat faktor lain yang dapat mempengaruhi masyarakat dalam memaknai hasil dari proses mulut ke mulut tersebut. Yakni ketika seseorang menceritakan sesuatu akan cenderung dibumbui oleh subjektivitas, sehingga akan lebih percaya ketika teman kita yang melakukan WOM tersebut.” Jelas Saefulloh.

Hingga saat ini, belum ada tolak ukur pasti atas efektivitas dari promosi melalui media konvensional atau melalui influencer dengan konsep WOM di media sosial. Namun, jika dilihat dari media sosial akan lebih mudah dipantau audiencenya melalui pengikut dan viewer-nya. Sedangkan untuk media konvensional seperti Televisi belum bisa terpantau sedetail media social.

“Karena Televisi hanya menghitung rating acara, artinya dalam waktu bersamaan masyarakat menonton acara tersebut hingga jutaan orang, tetapi pertanyaannya apakah mereka menonton iklannya? Belum tentu. Tetapi kalau di Youtube atau di Instagram sudah jelas dapat terhitung berapa viewernya,” tutup Saefulloh.

 

Reporter: Via Oktaviani & Dian Fitriyanah

Editor: Gieska Cyrilla Calista

90 total views, 10 views today

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>