Published On: Tue, Mar 20th, 2018

Alter Ego, Kepribadian yang Dibentuk Sendiri

Share This
Tags

Sumber Ilustrasi: www.andrewhwalker.com

Jakarta, Media Publica – Banyak selebriti mengakui dirinya memiliki alter ego guna mencapai sebuah kesuksesan, seperti Sasha Fierce yang merupakan identitas alter ego dari salah satu diva dunia, yaitu Beyoncé. Beyoncé menciptakan Sasha Fierce untuk mempertahankan dirinya agar tetap eksis di atas panggung. Hal tersebut menjelaskan bahwa alter ego bukanlah sesuatu yang buruk untuk dimiliki.

Kesalahan persepsi tentang definisi alter ego kerap kali terjadi. Banyak orang mengira alter ego merupakan gangguan kepribadian atau orang yang memiliki dua jiwa. Hal ini dibantah oleh Fadhilah Amalia, M.Psi, ia mengatakan bahwa alter ego bukanlah suatu gangguan, tetapi cara individu untuk mempertahankan dirinya.

“Alter adalah fungsi dari ego. Ego diibaratkan seperti batang yang menopang pohon, jadi itu (alter) membantu ego untuk menopang kita dari segala badai yang membuat kita kuat. Sebenarnya fungsinya sama, dia tuh tugasnya defense mecanism atau mekanisme pertahanan diri,” jelasnya.

Secara harfiah, alter berasal dari kata another yang berarti sesuatu yang lain. Sedangkan ego menurut Sigmund Freud merupakan bagian dari struktur kepribadian dan berkaitan dengan rasionalitas seseorang dalam menentukan sikap maupun perilaku. Dengan sederhana alter ego didefinisikan sebagai istilah populer yang menggambarkan tentang persona dan diciptakan oleh individu untuk menampilkan sisi dirinya yang lain.

Seseorang akan membuat sebuah alter ego dengan membentuk persona baru yang berbeda dengan kepribadian yang biasanya ditampilkan. Tiara Puspita, M. Psi, menjelaskan bahwa alter ego terbentuk saat individu merasa menjadi dirinya sendiri tidak dapat membuatnya menampilkan potensi diri secara maksimal.

“Misalnya ada politikus yang cenderung pemalu, tetapi karena pekerjaannya menuntut untuk sering tampil di depan umum, ia menciptakan sosok (alter ego) yang lantang, berani dan percaya diri setiap kali tampil,” tuturnya saat diwawacarai Media Publica via email.

Sebagai mekanisme pertahanan diri, alter ego tidak dapat dikatakan sebagai gangguan selama masih digunakan secara wajar. Misalnya untuk membantu mengembangkan potensi atau membantu menyelesaikan tugas tertentu, tidak mengganggu dirinya sendiri maupun orang lain, serta masih dapat membedakan antara realita dengan alter ego yang dijalaninya. Namun, jika seseorang memiliki pertahanan diri yang keliru, maka hal ini akan mengarah kepada DID (Dissociative Identity Disorder).

Tiara mengatakan bahwa terdapat perbedaan yang mencolok antara alter ego dan DID. Alter ego umumnya dapat dikontrol oleh individu tersebut, sedangkan DID membentuk kepribadian baru tanpa disadari. Orang tersebut secara tidak sadar membentuk kepribadian baru sebagai perlindungan diri dan coping mechanism terhadap lingkungan yang dianggap sangat menekan. Seringkali DID terbentuk karena adanya abuse (fisik, seksual, emosional) atau kekerasan di masa kecil, trauma berkepanjangan, dan sebagainya.

“Dengan kata lain, alter ego merupakan subpersonality (bagian dari kepribadian), sedangkan DID merupakan kepribadian yang terpecah, sehingga masing-masing kepribadian dapat sewaktu-waktu mengambil kontrol,” ucap Tiara.

Agar alter ego bisa tetap menjadi hal positif, Fadhilah membagikan tipsnya. Pertama, kenali diri sendiri. Karena penting  untuk tahu kekuatan dan kelemahan kita,apa yang menghambat kita, dan nilai-nilai yang kita pegang. Setelah itu, kita harus punya cukup banyak pertahanan diri, jangan hanya mengandalkan alter ego saja. Ketiga respect, mau menerima dan menjadi teman baik untuk diri sendiri.

Sementara  itu Tiara mengungkapkan bahwa dengan memiliki alter ego bukanlah sesuatu yang harus dikhawatirkan, “Saya rasa tidak masalah. Namun jika sudah diluar batas wajar, merasa tidak dapat bahagia ketika menjalani dirinya yang authentic, apalagi sampai merugikan orang lain, konseling dengan psikolog merupakan saran yang paling ideal,” pungkasnya.

Reporter: Elvina Tri Audya & Gieska Cyrilla Calista
Editor: Ranita Sari 

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>