Published On: Sun, Mar 11th, 2018

Musik Tradisional belum Menggaung di Panggung Nasional

Share This
Tags

Sumber Ilustrasi: www.musicindonesia.com

Oleh: M. Fernando Avi*

Lima tahun silam mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menetapkan Hari Musik Nasional tepatnya pada tanggal 9 maret 2013. Seperti yang tertuang pada Keputusan Presiden Nomor 10 Tahun 2013 bertujuan untuk meningkatkan kepercayaan diri dan memotivasi agar masyarakat mampu meningkatkan prestasi musik di Indonesia baik pada tingkat nasional maupun internasional.

Pertimbangannya adalah musik merupakan ekspresi budaya yang bersifat universal dan multidimensional dapat mempresentasikan nilai-nilai luhur kemanusiaan serta memiliki peran strategis dalam pembangunan nasional.

Bila melihat dari poin–poin yang menjadi pertimbangan bahwa tanggal 9 Maret ditetapkan sebagai hari musik nasional. Apakah semua itu telah tercapai melihat perkembangan musik sekarang? Apakah esensi dari poin “mempertimbangkan bahwa musik adalah ekspresi budaya yang bersifat universal dan multidimensional” sudah terpenuhi sekarang?

Menggaris-bawahi hal ini tentunya dapat menjadi perhatian penting karena pada masa kini musik yang mengusung budaya lokal kurang mendapat perhatian dan apresiasi baik di masyarakat maupun pemerintahan. Pada realitanya saat ini yang mendapat apresiasi khusus di masyarakat ialah musisi lokal yang kurang mengusung budaya lokal.

Jika dilihat ada beberapa musisi yang memadukan musik “kekinian” dengan budaya lokal. Seperti Jogja Hip-Hop Foundation, Amalgama, hingga Youtuber Gamelawan serta Gafarock yang sering membuat cover lagu barat dengan bahasa Jawa.

Padahal pada tahun 2017 lalu Gamelawan dan Gafarock turut ikut serta diundang dalam gelaran acara besar se-asia yang berjudul Popcon Asia. Pada saat bersamaan, acara yang mengusung tema Pop Parade itu mendapat penghargaan dari Rolling Stone Indonesia melalui Editor’s Choice Awards 2017. Acara tersebut juga turut mengundang artis-artis pop ternama di penjuru Benua Asia. Namun, mereka tetap memberikan apresiasi kepada musisi lokal Indonesia yang mengusung budaya lokal dalam acara besar itu. Mengapa masyarakat kita sendiri tidak peka akan hal tersebut?

Sudah sepatutnya masyarakat dan pemerintah mengapresiasi musisi yang mengusung budaya lokal, kita sebagai masyarakat yang menikmati musik harus sedikit menaruh perhatian pada musisi yang mengusung budaya lokal dengan cara mendengarkan bahkan membeli karya–karya mereka tanpa membajak karya yang mereka buat

“Music is music, tapi akan jadi lebih bermakna kalau kita put something on it.” Bimbim Slank.

 

*Penulis merupakan anggota aktif LPM Media Publica angkatan 2015

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>