Published On: Sat, Oct 28th, 2017

Sosialisme ala Indonesia: Impian Prof. Dr. Moestopo pada Bangsa

“Sosialisme terang bukan kapitalisme, terang bukan individualism, terang bukan feodalisme. Sosialisme adalah anti kapitalisme, anti feodalisme, anti fasisme, anti individualisme, anti imperialisme.” Itu lah pemahaman Mayjend (Purn) Prof. Dr. Moestopo tentang sosialisme menyambut manifesto politik Soekarno tahun 1959.

Judul Buku: Sosialisme ala Indonesia
Pengarang: Mayjend (Purn) Prof. Dr. Moestopo
Penyunting: Azhary Soelaiman
Penerbit: –
Tebal: 105 Halaman
Ilustrasi: Media Publica/Thorvy

Media Publica – Mayor Jendral pendiri Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) yang berada di kawasan senayan tersebut memiliki sebuah buku yang jarang diketahui banyak mahasiswanya sendiri. Buku yang berjudul Sosialisme ala Indonesia pun hanya ada satu cetakan dan berada di perpustakaan UPDM(B).

Sosialisme ala Indonesia merupakan paham pendamping Pancasila dalam melaksanakan kehidupan bernegara. Elemen terpenting yang diungkapkan Moestopo antara lain: persatuan yang bulat, musyawarah toleran, pengorbanan baik jasa, harta, maupun tenaga demi membangun bersama dengan semangat gotong royong. “Sosialisme ala Indonesia adalah jalan satu-satunya untuk mempebaiki nasib rakyat Indonesia dari semula, makmur, adil, sejahtera merata,” tulis Moestopo.

Indonesia jangan pula memaksakan kehendak negara dengan menjalankan radikal sosialisme. Dengan adanya tekanan, dan menyinggung hati rakyat hanya akan menambah ketidakpuasan rakyat marhein. Malah akan menghambat proses sosialisme ala Indonesia. Hal terpenting dari pelaksanaan adalah penuh pengertian terhadap seluruh rakyat Indonesia.

Beliau menerangkan bahwa cara penerapan sosialisme ala Indonesia yang sesuai dengan Pancasila dibagi menjadi Sembilan area. Antara lain area kepartaian, area front nasional, area kekuatan tenaga pembangunan (buruh, tani, dan intelegensia), area keamanan, area Pendidikan, area kepemudaan, area kewanitaan area keagamaan dan kepercayaan, serta area keveteranan.

Pertama, menerapkan sosialisme ala Indonesia lewat area kepartaian. Penghapusan parta ssama sekali tidak masuk dalam kamus negara demokrasi. Hanya bisa masuk dalam kamus negara fasisme, dan totaliter. Namun, melancarkan dan memperbolehkan bertumbuh-biaknya partai hanya akan merugikan negara.

Jika dalam suatu negara terdapat lebih dari empat partai dengan arah tujuan berbeda, maka hanya menghasilkan kehancuran negara. Oleh karena itu, sistem kepartaian agar disederhanakan menjadi tiga golongan. Antara lain partai yang memprimerkan kebangsaan, partai yang memprimerkan kesosialisan, dan partai yang memprimerkan keagamaan.

Kedua, menerapkan melalui area front nasional. Jika ketiga golongan telah lahir, maka front nasional bisa terbentuk. Seperti halnya front nasional negara sosialis, front nasional Indonesia ini diperuntukan bagi kesejahteraan, keadilan, dan kemakmuran merata untuk rakyat dan memperbaiki nasib hidup rakyat.

Ketiga, kekuatan tenaga pembangunan merupakan suatu perpaduan antara tiga elemen pembangunan dari sisi sumberdaya manusia. Tiga elemen tersebut adalah kaum tani, buruh, dan intelegensia atau disebut mahasiswa. Dalam proses pembangunan, tiga elemen ini harus sangat diperhatikan kesejahteraan hidup mereka oleh negara.

Keempat, terciptanya keamanan Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan sebuah kerja sama yang kompak antara Polisi dan Angkatan Perang (sekarang TNI). Peran angkatan tua harus menjadi pembimbing pemuda yang akan membela dan menjaga tanah air tercinta.

Kelima, Pendidikan adalah suatu alat terpenting dan menjadi dasar penjelmaan dari sosialisme ala Indonesia. Pendidikan pasti sukses apabila para tenaga pendidik mendidik rakyat dengan sabar, teladam teliti, dan kemampuan besar. Pendidik ialah bapak dari muridnya, janganlah berlaku sebagai majikan atau penguasa otoriter.

Keenam, Pemuda adalah seorang dengan kekuatan lebih dibanding orang tua, memiliki semangat bergelora, daya tahan kuat, dan giat berkerja. Pemuda haruslah menjadi tulang punggung baru pengganti generasi tua, guna memperbaiki nasib rakyat menuju kesejahteraan merata.

“Waspadalah para pemuda akan godaan-godaan (harta benda, dan wanita cantik) di kanan-kirimu yang sadar atau tidak, dapat melemahkan semangat pemuda, motor revolusi yang belum selesai. Sadar atau tidak, bahwasanya godaan tersebut adalah kemungkinan alat dari perangkap dan perang urat syaraf pihak musuh,” tulis Moestopo.

Ketujuh, dalam negara sosialis ala Indonesia, wanita dijadikan kuat, dapat mengerjakan pekerjaan pria dengan hak yang sama seperti pria. Namun, wanita tetap tidak boleh meninggalkan fungsi sebagai isteri, dan ibu. Wanta adalah tetap wanita dengan kehalusan jiwanya.

Kedelapan, soal agama merupakan hal penting karena bertalian dengan perasaan. Oleh karena itu, pemerintah dan rakyat disarankan untuk tidak mengutik-kutik kepercayaan orang, agar potensinya dapat dipergunakan untuk pembangunan negara. Tidak saja agama, tetapi urusan sendiri jangan diampurkan dengan urusan perjuangan patriotisme.

Kesembilan, veteran merupakan salah satu wilayah yang teramat sangat diperhatikan oleh negara. Mereka telah memerjuangkan kemerdekaan sedemikian rupa, janganlah ditinggalkan saja dan tidak diberikan kenyamanan menikmati masa tuanya. Selama mereka masih dapat bernafas, melihat, mendengar, dan berbicara, maka nasihat mereka akan selalu menjadi benang merah pemersatu bangsa.

Selain Sembilan hal tersebut, Mayor Jendral yang wafat pada 29 September 1986 tersebut menceritakan bagaimana ia berjuang melawan Jepang, dan Belanda di pasca kemerdekaan. Beliau juga menceritakan tentang suasana perobekan bendera belanda di Surabaya sebagai salah satu pelaku sejarah peristiwa tersebut.

Peresensi : M. Thorvy Q.