Published On: Fri, Sep 15th, 2017

Telusuri Dampak Penggunaan Gadget Bagi Anak Usia Dini

Ilustrasi: glacialblog.com

Jakarta, Media Publica – Pesatnya perkembangan teknologi yang semakin canggih membuat sejumlah kegiatan sehari-hari tak luput dari penggunaan teknologi. Salah satunya dalam pola pengasuhan anak. Sering kali orang tua memberikan gadget di usia dini seiring dengan tumbuh kembang anak. Padahal orang tua memiliki peran penting untuk mendidik dan mengawasi anak sesuai dengan pola perkembangannya.

Menurut Gisella Tani Pratiwi, M.Psi selaku Psikolog Anak Yayasan Pulih, hal yang tidak dapat dihindarkan ialah orang tua masih salah menggunakan gadget sebagai pengganti untuk mengasuh anak. Tidak disarankan anak yang berusia di bawah 3 sampai 5 tahun untuk bermain gadget maupun elektronik lain karena anak masih sangat membutuhkan stimulasi interaksi yang aktif dan langsung.

“Kalau bisa anak sama sekali tidak ada pemakaian gadget maupun elektronik lain. Tapi seringkali itu tidak terhindarkan. Mungkin yang bisa dikelola orang tua adalah durasi anak menggunakan gadget ataupun menonton TV. Banyak orang tua masih salah kaprah menggunakan gadget sebagai pengganti dalam mengasuh anak. Padahal itu tidak tepat apalagi untuk anak-anak yang masih berusia di bawah 5 tahun” ungkap Gisella saat ditemui Media Publica, Jumat (8/9).

Gisella menambahkan jika anak telah memasuki usia remaja, orang tua dapat mempertimbangkan untuk memberikan gadget dengan berbagai macam alasan. Namun perlu diingat bahwa pemberian gadget pada anak harus tetap dengan pengawasan orang tua. Jangan sampai pemakaian gadget menjadi fokus utama bagi anak sehingga lupa untuk berinteraksi dengan lingkungan di sekitarnya.

Ketika anak terlampau sering diberi kesempatan menggunakan gadget, hal ini akan berdampak pada pola perkembangan anak. Kemampuan untuk bersosialisasi dan menjalin hubungan dengan orang-orang di sekitarnya akan berkurang. Selain itu, kemampuan diri untuk mengekspresikan emosi anak tidak terlatih dengan baik, akibatnya hal ini akan berpengaruh terhadap hambatan sosial, emosi, interaksi serta kognitifnya. “Secara sensorik, anak menjadi kurang terstimulasi. Ketika anak usia muda seharusnya dipaparkan dengan berbagai macam stimulus, termasuk hal-hal yang berkaitan dengan kegiatan. Sehingga si anak dapat mengembangkan sensoriknya sekaligus mengembangkan wawasan, pola pikir kognitif, dan emosinya,” tutur Gisella.

Secara terus-menerus dampak gadget yang ditimbulkan bagi anak dapat dilihat melalui intervensi yang dilakukan dari pola pengasuhannya. Menurut Gisella, hal yang bisa dilakukan sebagai orang terdekat ketika anak di sekitar mulai berlebihan bermain gadget yaitu orang tua bisa mengajak anak beraktivitas bersama seperti berjalan-jalan di taman, atau menyesuaikan dengan aktivitas yang diminati oleh anak.

Peran orang tua dalam mengawasi anak agar tidak kecanduan bermain gadget dapat dilakukan dengan menerapkan kegiatan non gadget, artinya anak diperkenalkan kembali dengan kegiatan-kegiatan yang mengasah kreatifitas. Saat anak bermain gadget sebaiknya orang tua juga paham mengapa anak ingin bermain gadget. Apakah anak itu sedang bermain game, mengulik hobinya, atau si anak sedang mencari informasi tentang apa yang dia senangi. “Sebisa mungkin orang tua bisa paham apa sih yang di konsumsi anak ketika ia bermain. Disaat orang tua sudah paham, itu bisa menjadi bahan obrolan bagi mereka atau mungkin bisa jadi kegiatan bareng antara orang tua dan anak,” jelasnya.

Ketika anak mulai ketagihan bermain gadget, orang tua dapat memberikan diskusi atau nasehat yang tegas. Sehingga anak juga dapat memahami maksud dari orang tua melarangnya bermain gadget. Hal ini sekaligus dapat mengedukasi anak terhadap dampak negatif yang ditimbulkan apabila terlalu sering menggunakan gadget.

“Misalnya si anak menyukai keterampilan tangan, olahraga atau seni. Anak bisa mengembangkan potensinya lewat kegiatan yang tidak melibatkan gadget. Sehingga gadget ditempatkan pada posisi yang seharusnyas aja, tidak melulu dengan gadget. Karena menggunakan gadget secara berlebihan dapat menimbulkan perilaku asosial,” tutupnya.

 

Editor: M. Fernando Avi

Reporter: Ranita Sari & Intan Chrisna Devi