Published On: Fri, Sep 15th, 2017

Indonesia International Book Fair (IIBF) 2017: Literasi yang Memberdayakan

Sesi penjelasan materi tentang ‘Literasi Yang Memberdayakan’ di acara Indonesia International Book Fair (IIBF) 2017 yang bertempat di Assembly Hall Jakarta Convention Center, Jakarta Pusat, Sabtu (9/9). Dihadiri oleh para pegiat literasi urut dari sebelah kiri, yakni Pratiwi Retnaningdyah, Sofie Dewayani, Hernowo Hasim, Wien Muldian (moderator), dan Ani Ema Susanti.
(Foto: Media Publica/Ranita).

Jakarta, Media Publica – Dalam rangka memperingati Hari Literasi Internasional yang jatuh pada tanggal 8 September,  Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) menyelenggarakan acara pameran buku Indonesia International Book Fair (IIBF) 2017 yang bertajuk ‘Literasi yang Memberdayakan’. Acara yang bertempat di Assembly Hall Jakarta Convention Center, Jakarta Pusat ini telah berlangsung sejak 6 September 2017 dan didukung oleh Badan Ekonomi Kreatif Indonesia (BEKRAF), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) serta dihadiri oleh sejumlah penulis dan penerbit buku yang turut menyuarakan gerakan literasi di Indonesia.

Literasi merupakan kemampuan untuk mengakses, menganalisis, mengevaluasi, dan mengomunikasikan informasi dalam berbagai bentuk. Penyelenggaraan acara IIBF 2017 ini tidak lepas dari upaya memaknai pentingnya literasi dalam mengolah dan mengkritisi informasi. Diperlukan kemampuan untuk mengetahui informasi dengan benar. Hal ini seperti yang disampaikan oleh Pratiwi Retnaningdyah selaku penulis buku ‘Suara Dari Marjin’ sekaligus anggota Satuan Tugas (Satgas) Gerakan Literasi Sekolah di Kemdikbud.

“Literasi saat ini perlu dimaknai bahwa kita harus mempunyai kemampuan untuk mendapatkan, mengolah, mengevaluasi, mengkritisi, dan juga menciptakan informasi. Semua itu harus diawali dari membaca dan menulis, tapi memang sekarang ini kita tidak lagi bicara tentang baca tulis. Kita harus bicarakan bagaimana kita mempunyai kemampuan untuk mengolah informasi itu,” ujarnya saat ditemui oleh Media Publica, Sabtu (9/9).

Menurut Pratiwi, pemahaman literasi tidak hanya diperoleh dari buku-buku bacaan, melainkan cerita yang dibuat dari kearifan lokal juga merupakan bagian dari literasi. Baginya, literasi tidak hanya buku yang bersifat cetak. Adanya tradisi lokal melalui pembacaan dongeng juga menjadi bagian dari upaya penumbuhan literasi di sekolah. “Di daerah terpencil ada banyak guru yang karena tidak ada buku mereka bisa membuat cerita dari kearifan lokal, itu kan bagian dari literasi. Tapi karena kita suka terobsesi dengan sesuatu yang besar dan kolosal, hal-hal yang marjinal itu jadi tidak dilirik,” jelasnya.

Selain itu, Pratiwi menjelaskan bahwa cara lain yang dapat dilakukan sebagai transisi ketika anak mulai bosan membaca adalah dengan menyaksikan film pendek dan membaca buku bergambar. Cara ini diharapkan mampu melatih kecakapan literasi anak dan belajar berdiskusi.

Upaya meningkatkan pemahaman literasi juga dilakukan oleh pemerintah melalui Kemdikbud dengan membuat Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Gerakan ini bertujuan untuk menumbuhkan minat baca peserta didik serta meningkatkan keterampilan membaca agar para siswa memiliki budaya membaca dan menulis. Salah satu kegiatan di dalam gerakan tersebut adalah membaca buku non pelajaran selama  15 menit sebelum waktu belajar dimulai.

Hernowo Hasim selaku penulis buku ‘Mengikat Makna’ yang juga hadir dalam acara tersebut menambahkan bahwa konteks dasar dari literasi adalah membaca. Meskipun minat membaca masyarakat Indonesia tergolong rendah, hal ini dapat ditingkatkan kembali melalui gerakan literasi sekolah. Selain itu, perlu adanya sosok public figure  yang ikut serta memberi teladan untuk gemar membaca.“ Kalau di Barat ada sebutan ‘The Reading Mother’ untuk orang yang memberikan teladan. Contohnya seperti Presiden Obama, pemain NBA dan tokoh-tokoh penyanyi. Semua menggalakkan literasi. Jadi, semua turun tangan untuk menunjukkan bahwa membaca itu penting dan menjadikan saya sukses,”  tutupnya.

 

Repoter: Ranita Sari & Via Oktaviani

Editor : Elvina Tri Audya