Published On: Wed, Sep 13th, 2017

Kupu-Kupu dan Kura-Kura

*Oleh Mohamad Thorvy Qalbi

Ilustrasi: Ayomaju.info

Mentari pagi sudah selesai membakar gelapnya malam dengan sinar hangatnya. Gemuruh ratusan besi berjalan pun telah memadati tumpukan abu-abu penghantar manusia menuju tujuan. Udara pagi terasa sesak karena polusi kendaraan tua yang tak kunjung diperawani kembali. Saking sesaknya, burung-burung pun lebih baik tidur daripada berkicau tak karuan menyambut pagi. Manusia di sini tak ada yang bisa disebut manusia, mungkin manusia setengah robot ala robo-cop yang kurang berperasaan ialah lebih cocok.

Kota adalah tujuan semua orang. Cari duit lah, foya-foya, relasi, hubungan, status sosial, jilat, nyopet, ngepet, apalah itu. Namun, dalam hiruk-pikuk tak menentu itu masih ada segelintir pemuda beridealis tinggi yang tergabung dalam “Lembaga Kemahasiswaan”. Ntah, ini haruslah disyukuri atau tidak. Agus ialah mahasiswa gondrong semester tiga yang sangat mencintai organisasi kampusnya. Dari awal masuk hingga sekarang, tak pernah sekalipun Agus mangkir dari rapat organisasi tercintanya kecuali perutnya mules ingin buang hajat.

Berbeda dengan kiprah sohibnya, Jono yang juga sedang menempuh semester tiga lebih senang langsung kabur dari kampus seusai kuliah berakhir. Walaupun begitu, pria krempeng berambut ikal itu tetap bersahabat dengan Agus. Setiap pagi sebelum mereka memulai kuliahnya, Agus dan Jono selalu ngopi di warung depan kampusnya. Ada yang berbeda dengan obrolan hari ini. Biasanya Agus selalu membicarakan Gina wanita pujaannya sejak bertemu dalam satu kelompok ospek, kini Agus malah membicarakan hal lain.

“Jon, kopi mbok Darmi selalu nikmat yo?”

“Yang bikin nikmat itu bukan pembuatnya, tapi kopinya.”

“Kopinya gimana, Jon?”

“Iya, kenikmatan kopi itu terletak ketika masih panas, hahaha.”

“Lha, kalau hal itu nggak usah diragukan lagi.”

Jono mengangguk pelan sambil menikmati kehangatan kopi yang telah masuk ke perutnya.

“Oiya Jon, Aku saranin ke kamu satu hal.”

“Apa itu, Gus?”

“Kalau kuliah jangan cuma dikelas doang, rugi Jon.”

“Tenang aja Jon, kalau hal itu udah sering Aku lakukan.”

“Maksudmu, Jon?”

“Iya lah, kalau Aku kuliah cuma dikelas doang bisa mati bosan Aku. Makanya pas lagi nggak ada dosen Aku ngopi lagi di warung mbok Darmi sambil ngerokok, hahaha.”

“Oalah, bukan itu maksudku, Jon. Dari pada kamu cuma kuliah pulang kuliah pulang alias kupu-kupu, mending kamu ikut organisasi, Jon.”

“Lha, untuk apa?”

“Lha pakai nanya …”

“Iya lha aku nanya, pepatah mengatakan malu bertanya maka sesat di jalan.”

“Tapi Nabi Musa gagal berguru pada Nabi Khidir karena kebanyakan nanya sama komen, Jon.”

“Lha, Aku kan Jono bukan Musa, sedangkan kamu kan Agus bukan Khidir.”

“Oiya, yaudah pokoknya kamu mending masuk organisasi dari pada cuma jadi Kupu-kupu.”

“Ah, mending Aku, daripada kamu yang cuma kuliah rapat kuliah rapat nggak menghasilkan perubahan di masyarakat. Ingat Gus! Kamu itu Mahasiswa, bukan kura-kura!”

Belum sempat menanyakan perkataan Jono, perkuliahan keduanya harus dimulai. Pembicaraan antara kedua sahabat itu sepakat ditunda hingga jam 12 siang. Hati Agus mulai goyah mendengar ucapan sahabatnya itu.

Apakah aku salah masuk ke dalam organisasi kampus? Ah, tidak. Ini sudah benar, dia yang salah. Agus tak bisa berhenti memikirkannya, apa itu Mahasiswa? Siapa Mahasiswa? Tugasnya apa? Pertanyaan terus berputar sampai akhir perkuliahan yang menyebabkan Agus tidak mencatat satupun materi yang diberikan dosen. Setelah menunggu beberapa menit di warung Mbok Darmi, akhirnya Jono muncul batang hidungnya dan menghampiri Agus dengan santai.

“Jon, maksud kamu tadi itu apa? Yang Mahasiswa itu loh.”

“Lha, kamu kan yang udah masuk ke ‘lembaga mahasiswa’, masa nggak ngerti arti mahasiswa?”

“Hehehe.”

“Mahasiswa itu orang yang sedang menuntut ilmu di perguruan tinggi, dan memiliki peranan terpenting bagi masyarakat.”

“Peran apa Jon?”

“Ah kamu itu mahasiswa yang ga ngerti jadi mahasiswa. Sasaran empuk bualan senior-senior organisasi, hahaha. Peranan mahasiswa itu sebagai agen perubahan alias membawa perubahan bagi masyarakat sekitar sehingga negara ini bisa maju. Lalu, peranan mahasiswa selanjutnya adalah sebagai kontrol sosial. Mahasiswa hadir sebagai pengendali kehidupan sosial masyarakat, membentuk opini dan berani membicarakan kebenaran. Selanjutnya, mahasiswa adalah kumpulan manusia yang bermoral baik. Menjadi contoh bagi masyarakat lain dan calon penerus bangsa.”

“Ya kalau gitu, lembaga mahasiswa kampus menjadi sarana yang tepat merealisasikan itu semua kan? Kau ingat waktu demo 221 kemarin? Aku bersama lembaga mahasiswaku berada paling depan, Jon. Kami juga sering membuat acara yang mengundang warga sekitar saat penutupan.”

“Ah, kamu mahasiswa yang asal-asalan ikut demo. Kalian sering bikin acara? Kalian lembaga organisasi atau event organizer?”

“Maksudmu!”

“Santai kawan, bukannya Aku menjelek-jelekkan organisasimu. Aku hanya kesal melihat mahasiswa sekarang. Banyak rakyat menjerit, tapi mahasiswa hanya bisa membuat acara yang meriah untuk kampus yang minim profitnya untuk masyarakat umum. Rapat doang, minim aksi. Kayak kura-kura yang lambat jalannya dan jago kandang. Mending Aku jadi mahasiswa biasa aja lah. Seperti kupu-kupu yang terbang bebas dengan senangya.”