Published On: Sun, Aug 27th, 2017

Melirik Lebih Dalam Dampak Bullying terhadap Korban

Ilustrasi: www.takepart.com

Jakarta, Media Publica – Bullying atau penindasan merupakan suatu tindakan yang dilakukan oleh satu individu kepada individu lain atau kelompok terhadap kelompok tertentu untuk menunjukkan bahwa dirinya atau kelompok mereka lebih hebat daripada orang-orang disekitarnya. Indikasi lain juga menunjukkan bahwa bullying (selanjutnya disebut penindasan) dapat berupa penyiksaan baik itu berbentuk verbal maupun kontak fisik.

Penindasan memiliki banyak dampak signifikan yang membuat korbannya merasa tak stabil secara mental. Bahkan dalam beberapa kasus yang terkuak banyak dari korban melakukan pelampiasan dengan self-harm hingga bunuh diri. Menanggapi hal tersebut, Nirmala selaku pakar Psikolog menyatakan bahwa faktor-faktor itu tak lepas dari pelaku penindasan yang dirinya ingin diakui hebat tanpa memikirkan dampak kepada korban.

“Mungkin bagi orang lain nggak penting mau dianggap dia punya nilai dan lain-lain. Tapi, bagi beberapa orang, untuk menunjukkan dia kuat itu menjadi penting dan itu yang menyebabkan mengapa bully sering terjadi. Tidak hanya anak kecil bahkan orang dewasa melakukan hal itu untuk menunjukkan bahwa dia powerfull walaupun kenyataannya tidak,” terangnya saat ditemui oleh Media Publica, Senin (21/8).

Nirmala menegaskan bahwa penindasan di masa kini nampak lebih ekstrem jika dibandingkan dengan penindasan pada masa lalu, sebelum kemajuan teknologi yang pesat. Bahkan penindasan yang ekstrem menurut Nirmal, berupa perlakuan kontak fisik dengan korban hingga kekerasan secara seksual. Ditambah, perkembangan teknologi yang semakin maju. Penindasan pun juga berkembang dengan yang saat ini dikenal sebagai cyber bullying.

Namun, Nirmala mengetengahkan bahwa faktor yang mempengaruhi hal itu, terutama anak muda zaman sekarang adalah karena mereka semakin terpapar oleh kemajuan teknologi seperti semakin aktifnya mereka di dunia sosial sehingga membuat jarak dalam kehidupan sosial yang tentunya lebih penting. Tayangan televisi juga ikut andil dalam hal ini, karena tidak jarang tayangan televisi menayangkan adegan kekerasan atau penindasan itu sendiri.

“Sehingga rasa empati, kemanusiaan, dan rasa sayang itu bentuknya sudah berubah. Nah, itu yang membuat orang makin gila-gilaan mem-bully orang lain dan malah sibuk foto-foto untuk di share. Dia tidak lagi melihat bahwa hal itu tidak manusiawi. Sudah nggak bisa lihat. Karena yang terpenting bagi anak muda zaman sekarang adalah viral. Hal itu yang membuat makin memperburuk bullying sebenernya,” lanjut Nirmala.

Kerap kali seseorang secara tak sadar melakukan penindasan kepada orang lain. Misalnya dalam satu indikasi yang paling familier seperti bercanda. Karena belum tentu orang yang menerima pesan bercanda itu dianggap sebagai candaan. Seperti yang dijelaskan oleh Nirmala, bahwa bercanda itu dapat menjadi sesuatu yang berlebihan dan menjadi tindakan penindasan secara tidak sadar.

Selain menerangkan dampak bagi para korban, Nirmala juga menjelaskan bahwa peran orang-orang di sekitar yang dapat membantu menghentikan penindasan itu sangat penting. Ia menambahkan bahwa siapapun dapat mencegah tindak penindasan yang marak terjadi. “Sebenarnya, tidak harus orang-orang memiliki power yang bisa menghentikan bullying tapi siapapun bisa asal kompak. Karena ada social pressure bahwa mem-bully itu nggak keren. Itu pesan yang harus ditekankan,” jelasnya.

Pada akhir wawancara Nirmala juga memaparkan mengenai hal-hal sederhana yang dapat dilakukan untuk menghentikan penindasan. Seperti berani lapor jika terjadi penindasan di lingkungan sekitar dan speak up sehingga dapat membantu menolong korban dari tindak penindasan yang meresahkan.

Reporter: Rangga Dipa Yakni & Via Oktavia

Editor: Anisa Widiasari