Published On: Tue, Aug 8th, 2017

Fenomena LGBT Menurut Sigmund Freud

Judul Buku: Cinta yang Tak Semestinya (Deviant Love)
Penulis: Sigmund Freud
Penerjemah: Dian Vita Ellyanti
Penerbit: Ecosystem Publishing
Jumlah Halaman: 172 halaman

Media Publica–Sigmund Freud merupakan seorang psikoanalisis terkemuka serta banyak hasil penelitiannya terhadap ilmu psikologis yang dijadikan acuan hingga sekarang. Salah satu karya beliau adalah Deviant Love atau dapat diartikan sebagai Cinta yang Tak Semestinya. Buku setebal 172 halaman ini merupakan pemaparan hasil Analisa Sigmund Freud tentang penyimpangan yang terjadi dalam percintaan manusia, termasuk fenomena LGBT (red: Lesbian, Gay, Bisexual, and Transgender).

Teori populer mengenai dorongan seksual (libido) diekspresikan melalui fabel puitis yang menggambarkan pertemuan antara jiwa laki-laki dan perempuan yang saling menyatu dalam cinta. Maka, fenomena LGBT dianggap sebagai sebuah kejadian yang mengejutkan dan tabu.

Menurut Sigmund Freud, orang-orang pengidap LGBT dapat disebut sebagai kontraseksual atau lebih tepatnya disebut invert. Sedangkan, jumlah data dan fakta di lapangan dapat juga disebut inversi. Sigmund Freud berasumsi bahwa jumlah orang seperti itu sangatlah banyak, walaupun sulit untuk memperoleh angka pasti. Perilaku inversi dibagi menjadi tiga jenis, yakni invert absolut, invert amfigenus, dan invert sesekali.

Invert absolut merupakan fenomena di mana orang yang mengartikan objek seksualnya hanya dapat berjenis kelamin sama. Pengidap invert absolut tidak pernah merindukan jenis kelamin berbeda sebagai objek seksual. Jenis kelamin yang berbeda dengan pengidap akan membangkitkan penolakan seksual di dalam diri mereka. Sedangkan bagi para lelaki, mereka menjadi tidak mampu melakukan aktivitas seks secara normal dan kehilangan rasa senang ketika melakukannya.

Invert amfigenus atau hermafrodit psikoseksual adalah kondisi di mana orang yang memilik objek seksual sesama jenis dan berbeda jenis kelamin. Sehingga inversi mereka tidak terlalu kuat karakter eksklusifnya.

Sedangkan invert sesekali dapat terjadi dan dipengaruhi oleh kondisi eksternal tertentu. Ketika seseorang tidak memiliki akses untuk melampiaskan libidonya terhadap objek atau imitasi seksual normal, maka orang tersebut akan melampiaskannya kepada berjenis kelamin sama. Dalam hal ini, mereka pun merasakan kepuasan di dalam aktivitas seksual dengan objek seksual barunya.

Konsep inversi pertama kali tercakup di dalam gagasan yang menjelaskan bahwa hal tersebut adalah tanda bawaan dari adanya degenerasi nerveus (kemunduran syaraf). Karakter ini mengandung dua ciri terpisah yaitu degenerasi dan pembawaan yang menjadi faktor penyebab inversi.

Degenerasi merupakan suatu perubahan keadaan secara fisika dan kimia dalam sel, jaringan, atau organ yang bersifat menurunkan efisiensinya akibat faktor eksternal seperti radioaktif. Penurunan efensiensi tersebut dapat berpengaruh pada hasrat seksual dalam diri seseorang. Sedangkan faktor pembawaan biasanya sering diungkapkan oleh kelompok invert absolut yang percaya bahwa mereka tidak pernah menunjukkan arah dorongan seksual selain berjenis kelamin sama.

Sigmund Freud menganggap degenerasi tidak dapat menjadi faktor penyebab inversi. Menurutnya, invert bukanlah sebuah kemunduran. Pertama, inversi adalah fenomena umum, dan yang kedua inversi dapat ditemukan serta tersebar luas secara tidak umum di antara orang primitif dan liar. Hal tersebut ditinjau dari asumsi bahwa degenerasi hanya terjadi pada kelompok manusia dengan peradaban tinggi, bahkan di antara orang-orang eropa yang beradab dengan iklim dan ras sebagai faktor yang paling kuat dalam distribusi inversi.

Selain degenerasi, Sigmund Freud juga menyangkal opini populer kalangan invert yang mengaggap inversi merupakan sifat bawaan sejak kecil. Dalam antitesis faktor pembawaan, Sigmund Freud memaparkan tiga poin yang mendukung sangkalannya terhadap faktor pembawaan.

Pertama, di antara banyak invert (beberapa di antaranya absolut) memiliki sebuah impresi seksual yang berpengaruh pada awal kehidupan dapat ditunjukkan mempunyai konsekuensi yang kekal pada kecenderungan menuju homoseksualitas.

Kedua, dalam banyak kasus lain dapat terungkap pengaruh  luar yang mendorong dan menghambat dalam kehidupan yang telah mengakibatkan cepat atau lambatnya fiksasi inversi. Contohnya adalah persetubuhan eksklusif dengan sesama jenis, kawan seperjuangan saat perang, penahanan di penjara, bahaya penyakit yang mengancam persetubuhan heteroseksual, selibat (pemikiran atau pandangan seseorang yang tidak akan pernah menikah), kelemahan seksual, dan sebagainya.

Ketiga, inversi dapat diakhiri dengan sugesti hipnotis, sehingga akan mengejutkan apabila karakteristik invert merupakan pembawaan.

Selain membahas tentang inversi yang fokus dengan jenis kelamin sebagai objek seksual, buku terbitan Ecosystem Publishing tersebut juga membahas secara mendalam tentang jenis inversi lain. Antara lain inversi terhadap hewan sebagai objek seksual, pedofilia, hubungan sedarah, hasrat untuk bercinta dengan orang tua, tabu keperawanan dan seksualitas perempuan.

Peresensi : Moh. Thorvy Qalbi