Published On: Thu, Aug 3rd, 2017

Terribilis Nimis

*Oleh: Rangga Dipa Yakti

Ilustrasi: Twitter

‘Mereka’ sangat menyukai gadis cilik berumur 13 tahun bernama Keiko McNamarra. Gadis berambut panjang lurus sehitam langit malam dengan mata bulat dan dikaruniai paras wajah yang manis. Memiliki garis ketururnan Jepang-Amerika Serikat. Konon, kakek dari Keiko adalah veteran Perang Dunia-II yang menikahi wanita Jepang yang dulu terkenal dengan sebutan Oiran.

Belakang ini, Keiko yang sering ditinggal sendiri di kamar apartemennya kerap dihantui suara-suara bahkan penampakan yang sulit ditafsirkan lewat logika. Pasca kematian Ayahnya, Ibu Keiko harus lebih giat bekerja di tengah sibuknya Negara Bagian Massachussets demi menyambung hidup.

Sejak saat itulah gadis keturunan Jepang itu seolah tak sanggup menghadapi kejahatan-kejahatan dimensi lain yang kuat sekali untuk mengajak Keiko pergi ke dunia mereka.

Bukan hanya itu. Ayah dan Ibu kandung Keiko adalah warga asli dari Negara Amerika Serikat. Namun, gen yang diturunkan oleh Nenek Keiko saat Perang Dunia-II nyatanya sangat kental. Padahal Ibu kandungnya tidak sama sekali mendapat gen oriental tersebut.

Keiko juga tak ingin menceritakan kejadian itu kepada Ibunya karena ia kerap disangka berimajinasi. Ibu tidak mengerti yang dirasakan oleh Keiko. Ia berharap Ayahnya masih hidup dan menolongnya melewati masa-masa sulit ini.

Jika Keiko tak memiliki kucing hitam kurus yang iris matanya berwarna hijau di sebelah kiri dan biru di sebelah kanan. Mungkin Keiko akan terus mearasa tertekan. Karena tak ada yang ingin mendengarkannya.

Kucing itu adalah pemberian tetangganya, Mrs. Dorothy, katanya kucing hitam adalah sebuah simbol kuno untuk mengusir roh jahat. Maka, ia namakan kucing itu Kamikaze yang artinya sekelompok Angakatan Udara Jepang pada Perang Dunia-II yang rela bunuh diri demi kejayaan negeri matahari terbit tersebut.

Namun, Keiko memberi alasan bahwa Kamikaze akan rela melakukan apa saja demi keselamatan nyawanya.

Seperti tentara Kamikaze mengorbankan nyawa untuk Kaisar mereka.

Pasca kematian Ayahnya. Keiko lebih sering menghabiskan waktu sendiri, merenung, di tempat gelap dan sepi. Ibunya heran, karena Keiko tidaklah menyukai tempat seperti itu. Ia selalu ditemukan oleh Ibunya, berteriak saat tengah malam di lemari kayu apartemennya bahkan pernah ditemukan menggigil dan pucat di dalam lift.

Kekhawatiran Ibunya nampak semakin menjadi setelah Keiko lebih sering berbicara sendiri. Menghadap tembok. Menjedotkan kepalanya hingga berdarah. Berulang kali. Berteriak. Menggambar pemandangan yang mengerikan dan penuh darah di buku gambarnya. Lalu menulis tulisan penuh kutukan di tembok kamar apartemen mereka.

“Sebenarnya apa yang sedang terjadi dengan gadis manis itu? Dia tak pernah menunjukkan tindak agresif sebelumnya,” jelas Mrs. McNamarra kepada seorang laki-laki berwajah tegas dengan pakaian trench coat rapihnya dan sebatang rokok yang ia selipkan di ujung jarinya.

Laki-laki itu menyesap rokoknya perlahan sebelum menjawab pertanyaan Mrs. McNamarra, “Syok pasca kematian Ayah kandungnya itu jelas normal. Namun, aku tidak habis pikir bahwa Keiko berani mengambil tindakan senekat itu.”

McNamarra menggigit bagian bawah bibirnya. Ia mencoba untuk mengeluarkan semua beban pikirannya kepada Peter, adiknya yang juga psikolog. Namun, semua beban itu seolah tertahan karena ia tak sanggup menceritakannya dengan detail.

“Katakan saja. Anggap kau sedang berada di depan tungku api yang hangat di tengah badai salju. Menceritakan segala permasalahanmu kepadaku. Persis seperti dulu saat kita masih anak-anak dengan polos menunggu malam natal.”

Penjelasan itu dapat membuat hatinya sedikit tenang. McNamarra menyesap wine-nya, malam ini bukanlah sebuah perayaan besar namun tidak ada salahnya mereka meminum anggur.

“Sudah satu bulan sejak kematian Bradley. Aku merasa, hubunganku dengan Keiko semakin renggang.”

“Sejak kapan kau mulai merasa seperti itu?” tanya Peter di mana tangannya tengah sibuk menulis poin penting yang diujarkan oleh kakaknya.

McNamarra sesekali membuang tatapan ke sekeliling restoran tempat mereka makan malam. Musik merdu abad 19 yang seharusnya membuat hatinya tenang nyatanya tidak membantu. Bau anggur dan roti yang tercium tidak menggugah selera Ibu tunggal itu.

McNamarra sangat khawatir akan keselamatan jiwa anak sematawayangnya.

“Maggie, Maggie McNamarra. Kau masih di sana?”

Wanita berambut pirang itu kembali menatap adiknya dengan mata birunya yang lelah dan napasnya sedikit tersekal.

“Ya, ya, Peter. Seminggu setelah kematian Bradley ia masih terlihat biasa saja. Dia tak segan bercerita, menangis, dan berbagi keluh kesah di dalam pelukanku.”

Di sanalah puncaknya. McNamarra tak kuasa menahan air matanya yang perlahan jatuh sehingga melunturkan sebagian kecil dari make-up-nya.

“Oh, Keiko, Ibu tidak ingin kehilanganmu.”

Sebagai seorang adik kandung, Peter seolah merasakan apa yang dirasakan oleh kakaknya. Ia mengepal dengan kuat pena yang sedari tadi ia pakai. Mencoba untuk tetap tegar dan mencari cara agar Maggie kembali tenang.

“I swear to God, Maggie. I’ll never let you down again, not this time.”

Entah karena ada angin apa. McNamarra tiba-tiba bersenandung pelan. Menyanyikan dengan lirih lagu tradisional Jepang berjudul ‘Tooryanse’. Lagu yang biasa ia nyanyikan sebelum Keiko pergi tidur. Suaranya lembut menambah kesan damai siapapun yang bisa mendengarkan lantunan McNamarra.

Namun, kesan itu seolah pudar bagi Peter. Tengkuknya merinding mengingat lagu tersebut penuh dengan makna yang mistis. Peter bukanlah orang yang mudah percaya hal semacam itu. Tetapi, malam ini. Ia tak bisa menahan rasa gelisahnya yang ia tunjukkan lewat jari yang diketuk di atas meja dengan tempo cepat.

“Malam itu, aku terbangun karena suara pintu apartemen kamar kami terbuka. Ternyata Keiko baru saja keluar. Tepat pukul sepuluh malam, aku ketiduran di sofa ruang TV. Aku sedang menonton program berita, namun aku tidak mengerti bahwa ada seseorang yang mengganti channel-nya ke gambar semut. Aku pikir itu Keiko, namun ia tidak mengaku. Dia hanya bungkam. Pucat. Dan terlihat butuh bantuan. Aku tahu dia sedang tertekan, namun ia memilih untuk menghiraukanku lalu bersenandung lirih lagu ‘Tooryanse’ dan menutup pintu kamarnya.”

Peter menulis kata-kata yang diutarakan oleh McNamarra. Matanya masih lembap, namun ia paksakan bercerita mengenai kejadian aneh yang menimpa Keiko. Semua ini demi kebaikan Keiko.

“Apakah kau melihat ada sesuatu yang mencolok ketika Keiko masuk ke dalam ruangan? Baik itu benda yang ia bawa masuk atau yang lainnya?” tanya Peter dengan suara beratnya.

Suara percakapan samar yang terdengar di dalam restoran sepertinya tidak mengganggu konsentrasi McNamarra. Walaupun, beberapa kali ia sempat melamun dan dari lamunannya itu dirinya terlempar kembali ke masa lalu yang indah bersama Bradley dan Keiko.

“Ya, aku melihat kakinya basah dan tatapannya tajam seperti tidak menyukai kehadiranku. Kucing hitamnya pun tidak berada di sisinya. Aku merasa ada yang aneh dari tingkah lakunya. Aku mulai kehilangan ikatan batin dengan Keiko sejak malam itu.”

Peter menyesap rokoknya sebelum mencapai filter. Ia melingkari poin-poin penting seperti mencari jawaban dari suatu puzzle. Kemudian menatap mata kakaknya dalam-dalam seolah memastikan bahwa yang diutarakan olehnya ialah benar.

“Mungkin dia baru saja keluar dari kamar mandi? Ngomong-ngomong tentang kucingnya, sudah berapa lama ia kehilangannya?”

“Kamar mandi kami masih kering dan Kamikaze menghilang sejak malam itu.”

“Atau kamar mandi lain?” tegas Peter sekali lagi sehingga berhasil membuat McNamarra menghela napas panjang.

“Mustahil dia pergi ke kamar mandi apartemen yang lain. Keiko saja tidak berani mengetuk pintu tetangganya.” McNamarra mengelus perlahan kepalanya yang berdenyut, pikiran itu membuat kepalanya sakit seperti ditusuk jarum, “Bisakah kita membicarakan Keiko daripada kamar mandi di apartemenku?”

Peter menuangkan wine itu ke gelasnya yang sudah kosong. Ronde kedua. Peter harus berhati-hati dalam berucap agar menjaga perasaan McNamarra.

“Baiklah, aku hanya penasaran adakah tempat lain yang memungkinkan Keiko membasahi kakinya selain kamar mandi.”

McNamarra berdecak keras.

“Peter, hentikan.”

“Aku hanya penasaran, Maggie!” sergahnya.

Akhirnya wanita berumur 35 tahun itu mengalah. Ia memberi tahu ada sebuah ruangan pendingin di lantai dasar dekat gudang. Ruangan itu tempat menyimpan balok es namun sudah lama tidak dipakai. Bagaimanapun juga, ruangan tersebut pendinginnya masih menyala dan suaranya yang berisik terkadang membuat bulu kuduk merinding di tengah malam.

“Baik, mungkin ini ada hubungannya dengan hilangnya Kamikaze,” kata Peter lalu menutup buku catatan kecilnya dan menaruhnya kembali ke saku coat.

“Kau tidak berpikir bahwa Keiko menaruh kucingnya di sana bukan?”

Peter menggeleng pelan lalu menaruh lembaran dollar di meja tempat mereka makan malam.

“Aku tidak mengatakan demikian. Boleh aku mengecek tempat itu?”

McNamarra menurut. Kemudian mereka kembali ke apartemen dengan mengendarai sedan milik Peter menyusuri malam yang dingin di Negara Bagian Massachussets. Memecah kesunyian dengan suara mesin mobil yang lembut seperti dengkuran kucing. Namun satu dan lain hal yang membuat Peter masih merinding adalah …

Lantunan ‘Tooryanse’ yang terngiang di kepalanya.

***

“Ruangan pendingin sudah tidak aktif dipakai sejak tahun lalu karena kami telah memiliki yang baru. Bagaimanapun, es-es balok yang berkualitas rendah masih disimpan di dalam  sana sebagai cadangan. Kau ingin masuk, Mrs. McNamarra?” tanya seorang penjaga malam yang memiliki aksen Latin bernama Pique tersebut.

McNamarra mengeratkan jaketnya sementara di sampingnya masih setia Peter yang kembali menyalakan rokok kelimanya hari ini. Ia harus tetap konsentrasi, malam panjang ini harus ditaklukan. Asumsi mengenai Kamikaze yang ada di dalam sana harus benar.

Semua ini demi kepulihan McNamarra.

“Ya, bisakah kau membuka pendingin itu untuk kami?”

“Tentu, Mrs. McNamarra!”

Pique membuka pintu besi yang tebal itu. Suhu dingin yang menggigit langsung menyapa dan membuat mereka berdua menggigil hebat. Ruangannya sangat gelap, hanya meninggalkan satu cahaya biru negatif  yang samar membawa kesan tak bersahabat bagi siapapun yang ingin masuk ke dalamnya.

Pique memberikan sebuah senter kepada Peter dan menjelaskan sedikit instruksi sebelum mereka melanjutkan ke dalam sana.

“Pintu hanya bisa dibuka dari luar karena engsel di dalam sana macet. Untuk berjaga-jaga aku akan tetap di luar sini,” ujar Pique yang meninggikan suaranya karena mesin pendingin itu lebih berisik daripada mesin diesel.

“Baik, terima kasih Pique!” seru McNamarra.

Seketika rokok yang menempel di bibir Peter mati setelah mereka mendekat ke dalam ruangan yang gelap nan mencekam itu. Suhu di dalam sana di bawah 0 derajat, mereka tidak boleh berlama-lama di sana. Belum lagi, udara malam di bulan Oktober yang semakin membuat keadaan tak bersahabat bagi kesehatan paru-paru.

McNamarra sempat mendongak sebelum masuk ke dalam sana. Melihat ke arah kamar apartemennya dan memastikan bahwa lampunya masih menyala karena Keiko takut dengan gelap … Secara teknis, sebelum kejadian ia masuk dengan kaki yang basah.

Mereka berdua mencari dan terus mencari. Siulan angin di dalam sana membuat Peter merinding, namun sugestinya kembali mengarahkan Peter ke satu nada yang mengerikan dan cepat membuat tengkuknya merinding bahwa siulan tersebut membentuk lagu ‘Tooryanse’.

Lampu senternya mengarah pada satu gundukan yang berbentuk aneh. Peter menyolek leher kakaknya dan ia mengikuti dari belakang. Perlahan-lahan Peter mendiagnosis kemungkinan dari gundukan itu. Bentuknya tidak balok melainkan seperti manusia yang sedang terduduk lemas.

Di sanalah puncaknya.

Peter menjatuhkan lampu senternya namun sinarnya masih tepat mengarah ke tempat Keiko yang sudah terbujur kaku—membeku—bersama Kamikaze yang juga setia mati dipangkuannya.

McNamarra menjerti histeris namun samar dalam bisingnya mesin pendingin. Tanpa berpikir panjang ia berlari lalu memeluk anaknya yang sudah membeku itu. Tubuhnya sangat kaku dikubur kembang es. Mulutnya yang menganga sudah tidak bisa tertutup kembali. Namun jelas terpancar dari raut wajahnya yang mungil itu bahwa sebelum Keiko wafat, ia seolah melihat sesuatu yang mengerikan … mencoba untuk mengajaknya pergi ke dimensi lain.

Peter mundur perlahan lalu berbalik arah dan berlari keluar karena merinding setengah mati. Selain jeritan kakaknya yang terngiang di kepalanya hingga membuat hatinya pilu, lagi-lagi lantunan nada ‘Tooryanse’ masih berhasil menguasai pikirannya. Peter benar-benar ketakutan. Ia tak pernah merasakan takut sehebat ini.

“Pique! Cepat telpon polisi. Kita mendapat situasi darurat sekarang.”

Laki-laki berbadan gempal keturunan Mexico itu langsung berlari ke pos-nya dengan niat menersukan pesan yang diterima dari Peter.

Sementara bagi Peter, ia langsung membungkuk. Merasakan keringat dingin bercucuran membasahi punggungnya. Napasnya tersekal seperti kuda pacuan yang baru selesai balapan. Jantungnya berdebar hebat dan adrenalinnya seketika menciut.

Ada satu hal yang sangat membuatnya heran. Lantas, selama sebulan ini Maggie McNamarra tinggal bersama siapa?

Peter mendongak ke arah kamar apartemen kakaknya berada. Di sanalah ia melihat seorang wanita dengan kepalanya yang besar menatap Peter sinis dari atas sana. Matanya yang bulat dan semerah darah, giginya runcing seperti pedang dan penuh nanah. Bahkan dari jarak sejauh ini Peter seolah dapat menciumnya.

Namun yang paling membuatnya diam terpaku adalah …

Peter dapat mendengar lantunan lirih ‘Tooryanse’ yang dinyanyikan oleh makhluk itu dari jarak mereka yang terbilang jauh.