Published On: Sat, May 20th, 2017

Yang Terdidik Harusnya Mendidik

ilustrasi www.inspirasimagz.com

ilustrasi
www.inspirasimagz.com

*Muhamad Fernando Avi

Tanggal 20 Mei diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Jika kita melihat 109 tahun kebelakang, hari itu ialah hari dimana lahirnya organisasi Budi Utomo yang didirikan oleh Dr.Soetomo dan para mahasiswa STOVIA (Sekolah Pendidikan Dokter Hindia Belanda) dengan memanfaatkan kondisi pada saat itu Ia dengan beberapa  mahasiswa STOVIA memanfaatkan peluang dalam pendidikan untuk mencerdaskan masyarakat. Pada akhirnya ia memanfaatkan politik etis pemerintahan Belanda dalam bidang pendidikan dengan mendirikan organisasi Budi Utomo sebagai strategi awal memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Dilihat dari peristiwa tersebut, yang memperjuangkan kemerdekaan adalah kaum intelektual atau kaum berpendidikan.

Menurut laporan UNESCO dalam Education For All Global Monitoring Report (EFA-GMR), Indeks Pembangunan Pendidikan Untuk Semua atau The Education for All Development Index (EDI) Indonesia pada tahun 2014 berada pada peringkat 57 dari 115. Kita masih tertinggal jauh oleh Singapura dan Brunei.

Melihat data di atas, tentunya pendidikan yang layak dan merata menjadi tugas untuk kita semua sebagai mahasiswa. Sudah sepatutnya generasi muda peduli terhadap kondisi pendidikan sekarang.

Jika dikaitkan dengan kondisi sekarang sejatinya kita belum benar – benar bangkit dalam arti yang sebenarnya, kita belum bangkit dalam banyak hal salah satunya pendidikan. Melihat apa yang terjadi pada masa sekarang banyak masyarakat baik dari kalangan anak – anak maupun dewasa yang belum mendapat pendidikan yang layak. Berdasarkan Pusat Data dan Statistik Kemendikbud tahun 2015, angka buta aksara di Indonesia masih tergolong tinggi. Yaitu mencapai 5.984.075 orang yang tersebar di enam provinsi, yaitu:

1. Jawa Timur (1.258.184 jiwa)
2. Jawa Tengah (943.683 jiwa)
3. Jawa Barat (604.683 jiwa)
4. Papua (584.441 jiwa)
5. Sulawesi Selatan (375.221 jiwa)
6. Nusa Tenggara Barat (315.258 jiwa)

Kebanyakan mahasiswa tidak peduli akan kondisi pendidikan di negeri sendiri karena yang menjadi orientasinya adalah bagaimana cara agar lulus dengan cepat dan mendapat pekerjaan tanpa memikirkan ilmu yang mereka dapat semasa kuliah bermanfaat atau tidak. Kelulusan dengan cepat agar mendapat pekerjaan menjadi perhatian utama sehingga terkesan melupakan kondisi pendidikan,  bukannya tidak boleh berorientasi kepada pekerjaan tapi setidaknya kita harus sedikit peduli terhadap kondisi pendidikan sekarang.
Salah satu cara untuk peduli terhadap kondisi pendidikan di Indonesia ialah dengan membuat suatu komunitas atau acara yang berhubungan dengan pendidikan, seperti mengajar dipelosok desa atau bakti sosial dan banyak komunitas yang mengadakan acara serupa, sebagai contoh yaitu Komunitas Indonesia Mengajar. Sebenarnya sebagian mahasiswa sudah mulai peduli dengan kondisi pendidikan ini, tapi banyak pula yang masih acuh tak acuh, tanpa disadari dengan kita peduli pada pendidikan, sudah mengamalkan dua poin dari tri dharma perguruan tinggi yaitu pendidikan dan pengabdian masyarakat.

Setidaknya dengan mengamalkan tri dharma perguruan tinggi kita sudah sedikit bermanfaat bagi orang – orang diluar sana yang membutuhkan bantuan dalam hal pendidikan, dan sudah menjadi tugas kita untuk mengingatkan sesama agar bisa menjadi lebih bermanfaat bagi orang lain.

Rasulullah S.A.W bersabda “Sebaik – baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia yang lainnya.”

*penulis merupakan anggota Media Publica