Published On: Mon, May 1st, 2017

Menelisik Independensi Pers lewat Perayaan HUT LPM Marhaen

Teguh Santoso (kiri), Wenri Wanhar (kedua dari kiri), Iman D. Nugroho (kedua dari kanan), dan Dita Faisal (kanan) sedang memberikan materi pada acara Dies Natalies LPM Marhaen, Jakarta Pusat (29/4). Materi tersebut mengangkat tema Idependensi Pers dalam Kebhinekaan.

Teguh Santoso (kiri), Wenri Wanhar (kedua dari kiri), Iman D. Nugroho (kedua dari kanan), dan Dita Faisal (kanan) sedang memberikan materi pada acara Dies Natalies LPM Marhaen, Jakarta Pusat (29/4). Materi tersebut mengangkat tema Idependensi Pers dalam Kebhinekaan.

Jakarta, Media Publica – Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Marhaen Universitas Bung Karno (UBK) mengadakan talkshow sebagai bentuk perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) LPM Marhaen yang ke lima (29/4). Bertempat di Aula Dr. Ir. Soekarno, jl. Kimia No. 20 Menteng, Jakarta Pusat,  acara ini mengusung tema ‘Independensi Pers dalam Kebhinekaan’.

Acara tersebut bertujuan untuk bersama mengevaluasi peranan pers di Indonesia. Pers yang bebas dan bertanggung jawab memegang peranan penting dalam masyarakat demokratis. Oleh karena itu, independensi pers sangat diperlukan sebagai dasar sikap kemerdekaan berita dan penyampaian secara objektif.

Menurut Mayzka Daerysa selaku Ketua Pelaksana, media massa seharusnya independen alias tidak memihak terhadap satu sudut pandang, “kayak dalam TV A dan TV B menayangkan berita yang sama tapi berkepihakan. Disini kita menekankan harus independen. Harus netral dan tidak boleh memihak,” ujar Mayzka saat ditemui reporter Media Publica.

Berbeda dengan Mayzka, Teguh Santoso selaku Ketua Umum Serikat Media Siber Indonesia yang mengisi acara talkshow tersebut berpendapat bahwa Independensi dan netral merupakan hal yang berbeda. Independensi adalah kondisi dimana orang bebas menyampaikan pendapat tanpa tekanan pihak lain, atau dipengaruhi pihak luar. Sedangkan, netral merupakan sebuah sikap diam dalam satu titik alias tidak ke kanan maupun ke kiri.

“Jurnalis atau wartawan tidak boleh netral, dia harus berpihak terhadap orang yang harus dibela. Dalam konteks negara ada yang harus dibela, dan dalam konteks kebenaran juga harus ada dibela. Maka, wartawan harus membela,” ujar pria yang juga menjabat sebagai Ketua Bidang Luar Negeri PWI.

Teguh menekankan bahwa wartawan harus memiliki sikap independen terlebih dahulu dibanding media. Independensi memiliki satu syarat dan kondisi yakni wartawan diharuskan selalu merasa kurang terhadap apa yang ia terima sebagai sebuah kebenaran. “Kalau wartawan merasa semuanya sudah perfect, maka dia tidak dapat dianggap sebagai wartawan. Karena wartawan itu merupakan orang yang senantiasa mencari,” tutur Teguh.

Selain acara interactive talkshow, dalam perayaan HUT LPM Marhaen kali ini juga menghadirkan pameran fotografi bertema kebhinekaan, serta pentas seni dan budaya. Yayan Susyanto yang merupakan salah satu pengunjung berharap acara tersebut dapat dikembangkan. “Acaranya cukup bagus, menyemangati generasi kita. Harus dipertahankan, dan dikembangkan karena ini menyangkut pers yang memang benar ada yang berpihak. Namun pers seharusnya independen,” ujar Yayan.

Senada dengan Yayan, Tika Ayuniar berpendapat bahwa acara ini sangat menginspirasi dan dapat terus berlanjut. “Semoga makin sukses, terus berlanjut, berkarya dan mendapat ilmu yang bagus,” tutup Ayuniar.

 

Reporter : Ari Nurcahyo & M. Thorvy Qalbi

Editor : Elvina Tri Audya