Published On: Sun, Apr 16th, 2017

Linger

*Oleh: Rangga Dipa Yakti

Ilustrasi: Twitter

Ilustrasi: Twitter

Tahun 2002 merupakan awal kejayaan surel dimana mereka telah beroperasi secara masif di kalangan masyarakat. Semua orang tertarik untuk mendaftar pada aplikasi dunia maya itu agar mendapatkan komunikasi yang lebih efektif dan cepat. Khususnya anak muda yang selalu penasaran akan hal baru.

Beberapa anak muda rela menjual Nintendo mereka demi bergabung pada euphoria ini. Segelintir dari mereka memandang surel menjadi sesuatu yang mewah. Salah satunya Joel Upshur. Laki-laki berbadan tegap asal Chicago yang kecanduan dengan software itu. Sepulang sekolah, Joel selalu meluangkan waktu untuk online dan saling mengirim pesan dengan sahabatnya. Dia adalah Ellen Poet-Snodgrass. Gadis dengan rambut cokelat sebahu, mata hitamnya yang memikat dilindungi oleh lensa tebal serta dua gigi serinya yang mirip kelinci menjadi ciri khas gadis keturunan Irlandia itu.

Masa peralihan remaja menuju kedewasaan. Ketika hormon mereka tak terkontrol dengan baik dan muncul perasaan memberontak akan sistem yang telah disepakati bersama, baik di lingkungan keluarga maupun sekolah. Seni mural memenuhi tembok dan anak-anak berkeliaran dari jam malam yang telah ditentukan oleh orang tua mereka menjadi hal legal bagi mereka yang baru saja menikmati masa muda pasca-pubertas.

Tetapi Joel tidak begitu tertarik memberontak sistem. Dalam artian, dia lebih lembut daripada anak muda pada umumnya. Sepulang sekolah, Joel pergi ke dapur untuk mengambil jus jeruk di dalam kulkas. Di sana tertulis sebuah memo yang ditempel pada magnet warna-warni yang mengatakan bahwa Ibunya sedang pergi berbelanja. Tentu saja ada kata-kata yang membuatnya risih, “I love you, Joel”. Bukan berarti Joel durhaka, hanya saja dia merasa sudah tidak pantas dengan kalimat itu.

“Rasanya seperti anak 8 tahun,” kata Joel yang langsung menyesap jus jeruk itu dari botolnya.

Joel bukan anak yang spesial di sekolahnya. Hidupnya hanya ia habiskan duduk di bangku paling belakang lalu menggambar hal-hal yang ada dipikirannya. Ia juga selektif dalam memilih teman dan cenderung menjauhi interaksi sosialisas yang intens. Joel akrab dengan Ellen karena mereka pernah ditunjuk satu grup oleh guru geografi, Mr. Adams dalam projek pembuatan peta negara Indonesia. Siapa sangka, Joel menemukan sisi lain yang menarik lewat pendekatan antar-pribadi mereka. Sama-sama pecinta Star Wars, Zombi, dan film-film Jepang klasik karya Akira Kurosawa. Walaupun tidak sepenuhnya Ellen menyukainya, namun Joel dapat memengaruhi minat dari sahabtanya itu.

Joel menyeringai lebar ketika melihat username: PoetOfTheMorning sedang online. Poet of The Morning merupakan pelesetan dari Top of The Morning, sapaan “Halo!” dalam bahasa Irlandia.

Tiap hari mereka bertemu. Namun selalu ada yang spesial ketika Ellen sedang online.

“Top o’ the Morning,JediJoel!”

 “Howdy, PoetOfTheMorning!”

            Walaupun tak bertatap secara langsung Joel dapat merasakan sebuah perasaan yang berbeda. Rasanya seperti kupu-kupu bergerumun di perutnya. Seperti biasa mereka menghabiskan waktu chatting tidak lebih dari topik sekolah dan bertanya rencana kuliah mereka. Namun ada makna lain dari percakapan itu. Begitu pun Ellen, saling bertukar pikiran dengan Joel adalah hal paling istimewa menurutnya. Surel menjadi media yang sangat berdampak bagi kedua anak ini.

“Jadi, kau ingin mendaftar ke mana?”

            Sejujurnya Joel belum memiliki opsi banyak terkait fakultas yang akan dipilihnya. Namun Fakultas Bisnis merupakan salah satu tujuan utamanya—atau lebih tepatnya pilihan dari Ibu. Sementara Ellen ingin memperdalam ilmu bahasanya dalam Fakultas Antropologi. Ia jatuh cinta setelah meneliti bahwa dibalik sebuah fosil ada jutaan cerita tersimpan di dalamnya.

“Entahlah, namun Fakultas Bisnis telah menjadi tujuanku, bagaimana denganmu?”

            Begitu seterusnya.

            Joel sangat menikmati percakapan ini. Di sisi lain, Ellen juga merasakan hal sama. Terkadang mereka tersenyum sendiri ke arah layar, seolah lawan bicaranya ada di hadapan mereka.

“Hei, bagaimana akhir pekan nanti kita pergi. Aku dengar Star Wars Episode II telah release. Ayolah, sebelum kita merayakan malam perpisahan.”

            Ketika hendak mengetik kata-kata itu tangan Joel terasa berat dan jantungnya berdegup. Dia hanya takut Ellen memiliki janji lain atau menolaknya dengan lembut, tetapi prasangka itu salah keliru Ellen selesai menulis jawabannya.

“Tentu, itu akan sangat menarik. Baiklah Joel, sampai bertemu akhir pekan!”

            “Ide bagus, sampai jumpa!”

            “Sampai jumpa, Joel!”

            Lalu terdengar suara pintu kayu ditutup yang artinya orang itu sudah offline. Joel melempar badannya ke ranjang dan meninggalkan bunyi berdecit yang lembut. Ia menatap langit-langit atap memikirkan hal yang kemungkinan terjadi hari sabtu ini. Bersama Ellen, gadis Irlandia yang memiliki bercak bintik-bintik menarik di bagian hidungnya.

***

Tahun 2003 dimana surel telah menjadi hal lumrah bagi kebanyakan orang. Segelintir dari mereka masih mengganggap surel itu istimewa, apalagi lawan bicara yang mereka anggap spesial sedang online. Salah satunya Joel yang telah berhasil menyelesaikan masa SMU-nya dan melanjutkan ke jenjang lebih tinggi menjadi mahasiswa Fakultas Bisnis. Sudah beberapa bulan Joel tidak online. Di asrama tempatnya tinggal kondisinya cukup baik, karena komputer berbentuk tabung pemberian Ibunya yang ia taruh di dekat jendela itu dapat terakses internet dengan mudah. Namun sayangnya, belakang ini Joel tidak melihat PoetOfTheMorning sedang online. Itu cukup membuatnya resah karena sahabat lamanya tidak ada kabar.

Lalu terdengar suara ketukkan pintu—tanda salah satu username sedang online. Di sanalah muncul sebuah nama yang berhasil membuat Joel tersenyum lebar.

“Top o’ the Morning, JOEL!!!”

            Joel dapat merasakan energi positif dari sahabatnya. Ia sangat senang mendapat pesan itu, mungkin dapat dikatakan Joel adalah laki-laki paling bahagia sedunia karena setelah mendapat pesan itu, ia membuka jendela kamarnya lalu berteriak “Top of The Morning!” hingga beberapa mahasiswa yang ada di bawah melihatnya dengan heran.

Joel kembali ke layar tetap. Sinarnya terkadang menyipitkan mata biru Joel. Lalu ia berusaha untuk kembali tenang dan mengetik percakapan yang dirindukannya.

“Hey! Bagaimana kabarmu, Poet?”

            Respon yang baik selalu didapatkan Joel. Hari itu, Ellen memakai logo band Queen sebagai Porfil Picture-nya. Kemudian menjadi topik pembicaraan mereka setelah bertanya kabar dan kesan berkuliah.

Langit di Kota Dallas kala itu cerah seakan mewakili suasana hati Joel. Sahabat lama yang akhirnya kembali bertukar pikiran melalui surel. Namun, Joel tetaplah Joel yang sama. Ia masih terlihat kaku di mata Ellen. Nampak dari percakapan mereka dimana Ellen yang aktif bertanya.

“Kau ada kesibukan apa akhir pekan ini?”

            “Aku dan Alan akan berkencan, bagaimana denganmu?”

            Hanya butuh beberapa detik Joel menangkap makna pesan itu. Rasanya seperti jatuh dari tebing yang tinggi lalu menimpa tanaman kaktus di bawahnya. Ellen telah berpacaran dengan laki-laki lain, yang terlintas di benaknya, Alan adalah seorang laki-laki berbadan proposional dengan lekuk leher yang bagus dan memiliki tatapan tegas seperti pemain rugby. Entahlah, Joel kehilangan hasrat untuk melanjutkan percakapan ini.

“Oh, aku dan temanku, Amanda akan mengerjakan sebuah projek.”

            Ellen berulang kali mengetik lalu menghapus, mengetik dan menghapus kembali pesan yang hendak ia kirim. Pop-up itu dapat terlihat ketika seseorang sedang mengetik pesannya.

“All righty, how close you guys?”

            Sepertinya pertanyaan itu memiliki makna lain. Cemburu.

“We’re just friends. So, how do you guys met?”

            Ellen menceritakan kisahnya dengan laki-laki bernama Alan itu. Ia terlihat sangat tertarik berbagi cerita dengan Joel. Walaupun Ellen sudah memiliki kekasih, namun persahabatan mereka masih dikatakan baik. Joel merespon seperti biasanya, begitupun Ellen.

“Joel, apakah kita masih bersahabat?”

            “Kau bercanda?! Tentu saja, Ellen.”

            “Terima kasih, JediJoel! Hei, mungkin Amanda sudah menunggumu. Sampai bertemu akhir pekan selanjutnya, Joel!”

            Joel berpikir untuk tidak membalas pesan itu namun hati kecilnya menyuruh untuk menjawabnya.

“Tentu, sampai jumpa!”

***

            Tahun 2004 surel telah masuk ke era komersil. Beberapa orang menggunakannya sebagai bisnis dan media para mahasiswa untuk mengirim tugas yang berupa data software. Namun bagi segelintir orang, surel telah menjadi mimpi buruk mereka. Kabar buruk, berita duka, bahkan kehilangan orang yang mereka sayang, mengkomunikasikan kabar itu dapat diakses dengan mudah melalui surel saat ini, mungkin akan menjadi trend seterusnya. Salah satu laki-laki yang merasakan itu adalah Joel Upshur.

Musim panas ini ia telah menginjak Senior Year. Dalam hitungan setahun lagi ia akan menyelesaikan perkuliahannya dan menikmati graduation day, bersama Ibu dan pergi ke makam Ayah setelahnya. Rencana-rencana ini telah ditata dengan baik oleh Joel. Layaknya merangkai pohon natal pada akhir Desember. Joel telah memikirkan itu matang-matang dengan tujuan yang mulia pula.

Akhir-akhir ini Joel merasa tidak senang dengan sistem online. Terutama surel. Berulang kali ia melihat status dari Ellen yang sangat mesra dengan Alan. Mereka bahkan tidak malu mempertontonkan kemesraannya lewat profil picture yang dipakai. Menggelikan juga menyakitkan bagi Joel.

Joel menggerakkan kursor mouse-nya ke atas dan bawah. Melihat siapa saja yang sedang online. Namun entah mengapa matanya selalu tertuju pada nama PoetOfTheMorning. Perempuan itu masih menyimpan sejuta perasaan sepsial bagi Joel walaupun, telah memberikan satu rasa sakit yang fatal untuknya. Suara lembutnya membuat Joel rindu, ciuman mesranya dengan Alan membuatnya iri, dan rasanya sangat membuat Joel kesepian tanpa canda tawa yang diungkapkan oleh … that tiny, Irish.

Rasanya sangat kontradiktif antara perasaan Joel dengan realitas yang ada.

            Lalu terdengar suara ketukan pintu tanda satu orang lagi sedang online. Siapa sangka, orang itu berhasil membuat Joel kembali semangat dan duduk tegak seperti orang pada umumnya.

“Top o’ The Morning, Joel!”

            Sapaan itu belum berubah. Tepat setelah makan malam di Kota Dallas yang berawan. Setelah sekian lama, Ellen kembali menyapa Joel. Namun ada yang berbeda darinya. Ellen hanya memasang gambar penyanyi Coldplay sebagai profil picture-nya. Bahkan statusnya mencurigakan dengan meninggalkan satu bait lirik Coldplay yang berbunyi. “Nobody said it was easy. No one ever said, it would be so hard. I’m going back to the start.”     

            “Hi, Poet!”

            Semua itu kembali lahir; semangat persahabatan yang pernah hilang beberapa waktu silam. Tanpa menunggu jeda lama, Ellen membalas surel-nya. Begitupun sebaliknya.

Joel tidak peduli dengan suara ketukkan pintu lainnya. Bahkan ketika ada orang yang menyapanya, Joel tidak ambil pusing untuk mensenyapkan percakapan itu. Karena ia terlalu bersemangat mengobrol dengan Ellen.

“Apa yang kau lakukan belakang ini? Rasanya sudah seumur hidup kita tidak … mengobrol,” kata Ellen. Joel membayangkan raut wajahnya yang seketika berubah sendu dan aksennya yang sedikit manja.

“Tidak banyak, bagaimana denganmu?”

            Namun Joel kembali mengambil langkah aman. Ia tidak ingin semangatnya meruntuhkan hubungan Ellen dengan Alan. Joel melempar badannya ke ranjang, lalu membiarkan bunyi pop-up yang dikirim Ellen berbunyi tanpa ia balas. Joel tidak ingin menjadi bencana.

Ruangan kamarnya cukup panas. Maka dari itu Joel membuka jendela kamarnya, sementara diujung gedung asramanya terdengar suara musik konser yang agak senyap karena tertutup oleh jarak. Ditambah gelapnya langit malam yang perkasa mulai menguasai jalan setapak tempat ia biasa berjalan-jalan di wilayah kampusnya.

Joel akhirnya memutuskan untuk kembali ke depan layar komputer tabungnya. Setelah 5 pesan yang belum dibaca olehnya ternyata berisi tentang—kabar buruk bagi Ellen dan berhasil membuat Joel terkejut.

“Ya, hubunganku dengan Alan tidak berjalan baik.”

            “Dia hanya memberikan janji kosong. Bodohnya, aku mempercayai laki-laki itu!”

            “Aku tidak mengerti mengapa ia sangat, sangat, sangat menyebalkan.”

            “Aku pikir hubungan kami berjalan baik. Namun dengan mudahnya ia memutuskan janji ikatan kami. Tepatnya seminggu lalu.”

            “Joel, aku … aku tidak mengerti.”

            Kali ini Joel merasa bersalah karena memberikan prasangka buruk sebelum melihat kondisi yang ada. Joel dengan cepat membalas pesannya, dengan sepenuh hati dan berharap menemukan titik terang semua masalah ini. Seakan ia berkamuflase dari mahasiswa bisnis menjadi pakar psikologis.

“Ellen, tidak apa. Aku ada di sini. Kau tidak sendiri.”

            Berbagai pendekatan terus dilancarkan oleh Joel. Waktu berjalan sangat singkat. Ellen terus menceritakan keluh kesahnya bahkan mengakui bahwa dirinya menangis ketika membagikan pengalaman pahit itu kepada Joel.

“Sudahlah lupakan saja, Joel. Maaf merepotkanmu, aku hanya ingin tahu apakah kau ada waktu luang akhir pekan ini?”

            “Tentu, Poet!”

            Joel menelan ludah. Berharap jawaban yang ia dapat sesuai dengan harapannya. Pop-up Ellen sedang mengetik pesan terlihat jelas di layar komputer.       

“Tunggu sebelum aku lanjutkan. Joel, apakah kau masih mengingat kejadian yang kita lakukan pada malam perpisahan ketika kita masih SMU?”

            “Ya, tentu saja.”

            “Kau ingat ketika aku mengajakmu keluar gedung karena bosan dengan pembacaan naskah pidato kepala sekolah dan kita berdua merebahkan badan di atas lapangan hijau sembari menghitung bintang?”

            “Aku tidak lupa tiap detiknya, Ellen.”

            Waktu seakan berjalan lebih lama. Joel tidak sabar dengan jawaban yang akan diberikan oleh Ellen. Lalu jawaban itu muncul dan membuat Joel menganga tidak percaya.

“Aku membayangkan, andai kau menciumku malam itu. Pasti semua ini akan berbeda, mengapa kau tidak melakukannya, Joel?”

            “Aku hanya tidak ingin merusak malam bahagia itu, Ellen.”

            “Haha kau benar, Upshur!”

            Sepertinya kenangan itu akan terus melekat di hati mereka. Joel senang mendengarnya belum lagi Ellen yang ingin datang bertamu ke asramanya akhir pekan ini. Ellen menawarkan barang bawaan seperti bir atau pizza. Namun Joel menolaknya karena ia dapat menyediakan itu semua.

Ada satu hal yang membuatnya bertanya-tanya. Ellen baru saja menyelesaikan hubungannya dengan Alan seminggu lalu dan kembali dengan Joel semudah itu. Joel mulai berpikir yang tidak-tidak. Atau lebih tepatnya pikiran buruk itu datang dengan sendirinya. Bagaimana jika Ellen hanya memanfaatkan Joel untuk melampiaskan penyesalannya karena Joel adalah sahabat baiknya Ellen?

“Baiklah, sampai berjumpa akhir pekan nanti, Tuan Upshur!”

            Joel tidak membalasnya. Ia langsung memutuskan untuk offline karena perasaan curiganya.

***

Tahun 2005 surel menjadi hal biasa bagi anak muda yang mengenalnya. Bukan aplikasi istimewa lagi. Banyak yang mulai meninggalkannya karena bosan dan segelintir dari mereka masih beranggapan bahwa surel nantinya akan menjadi benda penting yang turun temurun. Salah satunya adalah Joel yang merasakan hal itu.

Masa graduation day telah dilewatinya. Joel merasa gembira telah lulus menjadi salah satu mahasiswa paling berpengaruh di universitasnya. Namun rasanya kurang jika disana tidak hadir perempuan spesial selain Ibu.

Ellen Poet-Snodgrass.

Joel sengaja tidak mengundangnya karena berbagai alasan. Salah satunya, ketika terakhir kali mereka bertemu; akhir pekan musim panas setahun lalu. Joel dan Ellen berharap ada aktivitas yang dapat menggerus perasaan rindu mereka atau bermesraan demi mengundang status yang langkahnya lebih serius dari sahabat, yakni masa berpacaran.

Entahlah, semua itu tidak berjalan dengan baik kecuali hanya percakapan canggung dan peraturan yang dibuat oleh Joel sehingga membatasi kegiatan mereka. Joel terlalu kaku untuk mengungkapkan yang sebenarnya. Ia terlalu mudah berprasangka, sehingga perkataannya mudah menyinggung perasaan orang lain bahkan membuat Ellen menyesal telah datang ke asramanya setahun lalu.

Lalu Joel melihat Ellen sedang online malam itu. Aneh, tidak seperti biasanya Ellen hanya diam. Biasanya ketika melihat Joel sedang online, ia tidak segan untuk menyapanya terlebih dahulu.

Ellen cantik sekali. Mungkin malaikat akan iri melihat kecantikannya. Joel sangat mengagumi wajah Ellen yang sedang ia pakai sebagai profil picture. Ia cantik sekali, membuat jantung Joel berdegup tak karuan. Lalu ia mengintip statusnya yang berbunyi, “Overthinking kills you!”

Mungkin sudah saatnya Joel yang angkat bicara setelah kejadian tidak mengenakkan setahun lalu.

“Hi, Poet!”

Butuh beberapa menit sebelum akhirnya Ellen membalas pesan Joel dan itu berhasil membuat Joel sedikit resah.

“Hi, Joel.”

            Mereka akhirnya mengobrol setelah lama tak saling menyapa. Ellen sangat berubah, perempuan itu tidak atraktif seperti sedia kala. Hal itu membuat Joel sedih juga kecewa. Joel mengharapkan percakapan seperti dulu. Bukan jawaban singkat bahkan Ellen cenderung diam tak bertanya. Membiarkan Joel yang menjadi reporter untuk terus bertanya, kebanyakan hal-hal yang tak penting.

“Anyway, Poet. What’s new in your life?”

            “Well, Alan and I are officialy together again.”

Kalimat itu cukup menyakitkan. Joel tidak bisa berbuat banyak selain menyesali ini. Membiarkan udara malam di Kota Chicago, kampung halamannya meniup Joel hingga menusuk tulang punggungnya. Napasnya seketika berat dan Joel memukul keras meja komputernya.

“Joel, aku hanya ingin mengatakan yang sejujurnya. Ketika aku bertamu ke asramamu, aku harap semua itu akan berjalan baik. Setelah apa yang kita bicarakan melalui surel, aku merasa bahwa aku adalah perempuan paling beruntung sedunia. Namun aku salah, Joel kau benar-benar membuat hatiku hancur. Kau tidak tahu metafora jika hati serapuh gelas kaca? Mungkin kau memang pintar, namun tidak pada persoalan perasaan. Aku ingin kau juga mengatakan yang sejujurnya padaku, Joel. Aku tidak ingin semuanya berjalan buruk.”

            Berulang kali Joel membaca kalimat yang baru saja dikirim olehnya. Tidak sedetik pun Joel menoleh ke sekeliling karena terlanjur pahit memaknai pesan itu. Joel sudah terlanjur emosi. Ia memang menyesal, namun penyesalan itu seakan berlanjut ketika Joel menjawab pesan surel Ellen.

“Hei, kau sudah menonton film The Punnisher?”

            “Joel, kita sudah membicarakan ini sebelumnya. Ya, aku sudah. Sekarang kau jawab pertanyaanku yang tadi.”

            Joel mencoba untuk mengetik apa yang ada di pikiran dan perasaannya. “Ellen, do you miss me?” namun ia hapus kembali dan mengganti pertanyaan bodoh yang lainnya.

“Hei, bagaimana dengan berita Presiden Bush yang menarik pasukan dari Timur Tengah?”

            “For God SAKE! Joel, don’t pass out on me!”

            Joel seakan dapat mendengar jeritan setengah kecewa dari pita suara Ellen. Joel kembali mengetik apa yang ada di benaknya. “I love you, Ellen. Do you love me?” namun Joel menghapusnya lagi sebelum ia menekan tombol kirim.

“Hei, bagaimana cuaca disana?”

            “Joel … please …”

            “Ellen, I really want you to stay with me. Let’s go back to the start, shall we?” (JediJoel deleted the message).

“Goodbye, Ellen.” (JediJoel is Offline).

           

            “It’s funny how we seen people grown ups,” kata Joel Upshur mengusap air matanya, “Sometimes you’re not even ready to face it. Then, there goes the regret!”

 

*Penulis merupakan mahasiswa Fikom UPDM(B) angkatan 2015 yang juga merupakan anggota Media Publica.