Published On: Fri, Mar 31st, 2017

Dari Kacamata Sang Awam

Ilustrasi www.Tribunnews.com

Ilustrasi
www.Tribunnews.com

 Oleh: Minke*

saya berani bilang, selama kalian tidak punya keberanian, kalian akan terus diinjak-injak dan hanya menjadi seperempat manusia. (Marco Kartodikromo 1890-1932).

Teriakan adalah kepastian yang mutlak saat berjuang melawan. Tulisan dan suara bersatu menjadi sebuah pesan perlawanan. Disana mereka telah lahir dan besar, kerja dan mati. Disawah itulah mereka semua menyandarkan takdirnya pada padi, pada rumput, pada tanah, pada hujan, pada matahari, dan Pada kita hari ini…

Hai orang miskin tidur yang nyenyak agar kami tetap berkuasa.Hai orang miskin tetaplah bodoh biar kami bebas tuk menipu. (Teruslah Miskin Teruslah Bodoh-iksan Skuter)

Mungkin, lirik lagu diatas yang dapat mewakili perasaan sang yang diatas sana, bukan diri-Nya, melainkan dirinya. Dengan uang dan kekuasaan mereka keruk sawah itu beserta nyawanya, nyawa orang yang bersandar dan tertidur diatasnya. Bagi mereka bukan hal yang sulit untuk merengkuh sebuah nyawa tak berharga cukup bersanding dengan pemerintah semua hal dapat disulapnya seketika.

Harusnya dapat kita dengar dengan jelas suara itu, suara para petani yang berteriak melawan. Lawan PT. Semen Indonesia !!!

Tapi sayangnya hilang sudah berita itu tenggelam didasar laut panggung hiburan.

Dua kali sudah mereka datang ke Ibu Kota, dua kali sudah mereka melihat indahnya istana putih, namun 2 kali pula mereka campur kaki mereka dengan semen. Ini tanda bentuk penolakan serta hancur dan hilangnya mata pencaharian mereka.

Surat Putusan Mahkamah Agung sudah keluar dan hari ini mereka semua berharap pada surat itu agar dibawa kepada pemerintah pusat. Belum selesai masalah, datang lagi masalah baru yaitu berita pemalsuan dokumen, dari mereka yang berteriak melawan kini menjadi dilawan. Berapa lama lagi mereka diperbudak oleh sistem? Diperlambat oleh birokrasi, dipermainkan oleh hukum, dijinakan dengan janji dan dibutakan oleh kata.

Hijaunya rumput, kuningnya padi, dan coklatnya tanah, kini diambang kehancuran, diambang tepi jurang yang dalam. Apakah Ganjar Pranowo selaku Gubernur Jawa Tengah yang bertanggung jawab atas hal ini? Atau Dwi Soetjipto sebagai mantan Direktur Utama PT. Semen Indonesia? Atau Suparni yang saat ini sedang menjabat sebagai Direktur Utama PT. Semen Indonesia? Atau Joko Prianto sebagai pembela para petani yang saat ini menjadi tersangka karena pemalsuan dokumen? Atau kita?

Kita menunggu apa dan siapa untuk tahu? Sudah butakah kita untuk menentukan mana yang salah? Terlalu takutkah kita untuk menunjuk dia yang salah? Atau apa?

Antara kendang dengan semen banyak sudut pandang yang bisa diambil antara atas dan bawah, kiri atau kanan, depan atau belakang, ujung ataupun pinggir. Namun bagi sang penulis cukup hanya satu sudut pandang yaitu keadilan, ketidakadilan ada di depan mata jangan ragu untuk menilainya.

semua yang terjadi dibawah kolong langit adalah urusan setiap orang yang berfikir” (Anak Segala Bangsa – Pramoedya ananta Toer).

*Penulis merupakan mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Prof. Dr. Moestopo