Published On: Sat, Mar 25th, 2017

Tuntutan Pers yang Bebas Tanpa Kekangan

Judul Buku :Tuntutan Zaman Kebebasan Pers dan Berekspresi Penulis : Atmakusumah Penerbit : Spasi dan VHR Book Jumlah Halaman : 432 halaman

Judul Buku :Tuntutan Zaman Kebebasan Pers dan Berekspresi
Penulis : Atmakusumah
Penerbit : Spasi dan VHR Book
Jumlah Halaman : 432 halaman

Media Publica– “Hal yang perlu diingat bahwa media massa adalah pembebas manusia. Pembebas dari keterasingan kehidupan dan kesempitan pikiran.” Begitulah salah satu kutipan yang terdapat dalam buku Tuntutan Zaman Kebebasan Pers dan Berekspresi karya Atmakusumah. Buku setebal 423 halaman ini merupakan himpunan catatan, tulisan, dan makalah yang pernah dipublikasikan secara terpisah di sejumlah media selama masa Orde Baru dan masa Reformasi.

Selama 500 tahun sejarah pers modern yang diawali oleh kelahiran mesin cetak di Eropa, media massa selalu menjadi rebutan antara penguasa dan rakyat. Penguasa yang ingin mengendalikan gerak-gerik rakyat, sedangkan rakyat menginginkan pencerahan, pembaruan, dan pembebasan. Awal sejarah percetakan di Eropa ditandai dengan maklumat seorang pejabat tinggi Inggris yang memperingatkan bahaya media terhadap penguasa.

Kebebasan pers merupakan jantung kebebasan berekspresi, tanpa media yang bebas dan independen tidak akan ada demokrasi. Atmakusumah menyatakan dalam bukunya, pers yang bebas seharusnya dapat memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang makna perbedaan pendapat dan pergaulan demokratis. Dengan membiasakan diri untuk bersedia menerima perbedaan pendapat, orang dapat menjauhi naluri kekerasan.

Pers memang dapat menjadi alat penguji kehidupan demokrasi yang efektif. Selain sebagai alat penguji, pers jugamenjadi pengukur apakah demokrasi berjalan baik atau tidak. Sering kali pertanyaan, “Bagaimana cara memelihara dan mempertahankan kebebasan pers?” Kerap muncul di benak pegiat media.

Menurut Atmakusumah, pengembangan profesionalisme pers dan wartawan serta berpegang teguh pada kode etik jurnalistik atau etika pers sebagai pedoman moral adalah jawaban dari pertanyaan diatas. Profesionalisme bukan sekedar kemampuan mengikuti aturan buku dan universal dalam penyajian karya jurnalistik. Melainkan, memahami dengan jelas tugas pers dan pekerjaan kewartawanan yang sesungguhnya, serta mengabdi secara kritis kepada kepentingan masyarakat.

Terbagi dalam tiga bagian, buku ini juga membahas permasalahan yang terjadi dalam perkembangan pers di Indonesia. Mulai dari zaman pembredelan hingga zaman kebebasan berekspresi hingga sekarang. Selain itu, Atmakusumah juga berbagi cerita mengenai pergelutan beliau di dunia pers Indonesia.

 

Peresensi: Moh. Thorvy Qalbi