Published On: Fri, Mar 17th, 2017

Tuhan Maha Asyik, Sentilan Sederhana Mengenai Tuhan dan Agama

Judul Buku: Tuhan Maha Asyik Pengarang: Agus Hadi Sudjiwo (Sudjiwo Tejo) dan Dr. H. M. Nur Samad Kamba  Penerbit: Imania Cetakan: Pertama, November2016 Tebal: 245 Halaman

Judul Buku: Tuhan Maha Asyik
Pengarang: Agus Hadi Sudjiwo (Sudjiwo Tejo) dan Dr. H. M. Nur Samad Kamba
Penerbit: Imania
Cetakan: Pertama, November2016
Tebal: 245 Halaman

Media Publica – Budayawan kondang Agus Hadi Sudjiwo atau yang biasa lebih dikenal dengan Sudjiwo Tejo berkolaborasi dengan seorang akademisi Dr. H. M. Nur Samad Kamba mengeluarkan buku berjudul ‘Tuhan Maha Asyik’ pada bulan November 2016 lalu. Buku yang diterbitkan oleh penerbit Imania ini memberi pemahaman tentang ketuhanan dan keagamaan lewat kisah-kisah sederhana yang menyentil dalam kehidupan sehari-hari kepada para pembaca seperti biasa dengan ciri khas Sudjiwo Tejo akan kisah perwayangan pun dapat kita rasakan di buku ini.

Kisah yang disuguhkan terdiri dari 29 bab, di mana setiap babnya memiliki tema cerita masing-masing dengan  latar yang berbeda. dalam buku ini Sudjiwo dan Kamba menjelaskan bahwa tuhan tidaklah dibatasi oleh penamaan dan pemaknaan serta tuhan tidak bisa dikonsepsi oleh manusia, itu sebabnya banyak berbagai kesenjangan akan mengkonsepsikan tuhan.

Dalam bab cacing Sudjiwo menjelaskan segala sesuatu mengalami perubahan namun hanya tuhan lah yang kekal dan abadi, selainnya berpotensi mengalami perubahan. Kisah yang diceritakan adalah tentang kedua anak bocah yang memilik perbedaan, di mana Pangestu tidak jijik dengan cacing karena terbiasa memancing dan Buchori jijik dengan cacing karena menurutnya cacing itu menjijikan.

Pada bab selanjutnya yaitu zat, budayawan yang memiliki nama asli Agus Hadi Sudjiwo ini menulis bahwa tidak ada yang absolute di dunia ini hanya tuhan yang maha esa yang bersifat absolute sedangkan yang lainnya bersifat relatif, termasuk dalam penafsiran tentang ayat-ayat dan persepsi tentang Tuhan. Menurutnya Tuhan tidak mempermasalahkan bagaimana ia dipersepsikan bahkan dalam penafsiran ayat-ayatnya. Namun yang terpenting adalah bagaimana mengambil hikmah dari persepsi dan penafsiran yang ada.

Gaya bahasa yang digunakan pun sangat sederhana atau menggunakan bahasa sehari-hari hal ini dapat memudahkan para pembaca untuk mengerti pesan apa yang ingin disampaikan dari kisah singkat yang diceritakan serta dihubungkan dengan ke maha asyikan Tuhan.

Peresensi: Aji Putra Bartowinata