Published On: Mon, Feb 27th, 2017

Detakkan Terakhir

Share This
Tags

*Oleh: Ari Nurcahyo

Ilustrasi

Ilustrasi

Ruang operasi yang menentukan nyawa seseorang lanjut untuk hidup atau kembali kepada Maha Pencipta. “Dokter Vina, gawat! Detak jantungnya menurun,” Suster Tasya yang menanyakan pada Dokter Vina.

“Segera ambil alat pengejut jantung!” Vina yang bergegas akan menyelamatkan pasien memberi setruman ke dada pasien namun jantung berhenti berdetak. Vina pun terdiam pasien sudah wafat, seluruh suster meletakan semua alat menunduk hormat atas wafat pasien. Vina menutup kain. Pasien Rangga Santoso wafat 14 agustus 2015.

Dokter Vina menghadap ke bunda Rangga dengan begitu tegar mengucapkan, “Maaf kepada keluarga Rangga, saya tidak bisa menyalmatkan anak ibu.” Bunda Rangga pun menangis setelah mendengar kabar yang diberikan bahwa anaknya telah meninggal.  Dokter Vina merasakan kesedihan kehilangan orang yang disayang.

Vina mendatangi pemakaman, seluruh keluarga berduka menangisi batu nisan yang tertulis Rangga Santoso. Ketika keluarga sudah pergi Dokter Vina menghampiri makamnya lalu menaruh bunga mawar di atas batu nisannya jauh di lubuk hatinya berkata, “Kenapa aku tidak bisa menyelamatkan nyawa anak ini di usia mudanya? Kenapa Kau tak izinkan aku untuk memberi dia kesempatan untuk hidup Tuhan, aku ini dokter harusnya bisa menyembuhkannya,” tutur Vina meredam kesedihannya.

Telepon berdering di saku celana Vina terlihat ada telepon dari Tasya

“Iya ada apa Tasya?” Sambil mengusap air matanya.

“Kamu bisa ke rumah sakit? Ada pasien di kamar 134 dan ada anak kecil mengalami sesak. Apakah kau bisa memeriksanya?” Kata Tasya. Vina langsung bergegas ke rumah sakit.

Vina memasuki kamar 134 dengan menggenggam suntikan dan stetoskop. Vina membuka tirai kamarnya, anak kecil itu terkejut, “Hai mau apa kamu? mau suntik saya, ya?” Dengan nada paniknya akan ketakutanya di suntik. Vina bersikap tenang  duduk di ranjang pasien.

“Namaku Dokter Vina, siapa nama kamu?” katanya seraya menjulurkan lengannya. Anak itu kemudian bersalaman dengan dokter Vina, “Namaku Caka” Vina pun tersenyum dengan lebar.

Caka mulai tenang bersalaman dengan Vina.

“Dimana orang tua kamu, Caka? Kenapa kamu sendirian disini?” Tanya Vina dengan nada lembutnya.

“Orang tuaku lagi di Surabaya dia akan kesini dalam waktu 3 hari,” jawab Caka memelas. Vina makin terkejut ketika orang tuanya tidak bersama Caka.

Caka menaruh harapan meminta tolong kepada dokter Vina, “Tolong aku dokter 3 hari lagi orang tuaku akan ke sini. Aku mau ketika orang tua aku ada disini aku sudah sembuh,” katanya sembari mengeluarkan jari kelingking kirinya seolah menaruh harapan kepada dokter Vina. Ia bingung apakah dia dapat menyembuhkan Caka.

Dokter Tasya tiba-tiba membuka tirai, “Apakah kau sudah mengambil sampel darah anak itu?” Tanyanya. Vina tersenyum ke arah Caka.

“Darahnya sudah aku ambil,” jawabnya sambil memperlihatkan darahnya ke hadapan Caka dengan wajah herannya.

“Sejak kapan kau mengambil darahku dokter?” Vina menjawab dengan senyuman, “Sejak kita mengobrol tadi. Sekarang dokter mau pergi dulu, Dadah Caka! ” Vina melambaikan tangan ke arah Caka.

“Dokter Vina dalam 2 hari lagi kita harus mengoperasi anak ini,” Vina yang merasa takut akan ke gagalan menjawab dengan lesu, “Jangan aku yang mengoperasikanya. Aku takut tidak bisa menyelamatkan anak itu.”

Tasya menyentuh pundak  Vina sambil menaruh harapan kepadanya,  “Ayolah Vina jika kamu tidak mau mengoperasi anak ini dia akan wafat. Kau lah satu-satunya dokter yang bisa menangani penyakit ini.”

Vina mengangguk karena  merasa yakin dapat menyembuhkan anak tersebut, “Siapakan alat-alat operasi. 2 hari lagi kita akan mengoperasi dia dan membuatnya dapat melihat keluarganya,” pintanya.

Vina mendorong kursi roda Caka, “Dokter Vina aku mau di bawa kemana??”  Vina merasa gugup seketika ditanya Caka.

“Kamu akan kubawa ke tempat yang akan menyembuhkan penyakitmu,” jawabnya ramah.

Sesampainya di ruang operasi, Caka merasakan hawa dingin akan ketakutan. Wajahnya pucat, badannya gemetar karena rasa takutnya yang luar biasa. Dokter Vina menyuruh Caka untuk berbaring di meja operasi, “Dokter sebelum itu aku ingin bertanya?” Vina menatap wajah pucat Caka.

Jari kecilnya menunjuk sebuah alat.

“Aku begitu penasaran dengan kotak itu yang bunyinya aneh,” Vina melihat benda yang dimaksud oleh Caka.

“Itu adalah monitor jantung. Dia akan terus berbunyi jika jantungmu berdetak Caka,” Caka mengangguk dengan kepolosannya.

“Bagaimana jika suara itu berhenti?” Vina  terkejut akan ketakutanya tidak dapat menyelamatkan caka.

“Caka aku akan menyembuhkanmu kita sudah janji,” Caka tersenyum, menaruh semua harapannya kepada Dokter Vina.

Vina segera membius Caka hingga tertidur pulas. Vina membedah dadanya segera melakukan operasi sebaik mungkin. Suara monitor jantung kian berdetak lemah. Vina mulai tegang dan takut tidak dapat menyelamatkan nyawa Caka. Vina bergegas menyetrum dada Caka namun jantungnya belum stabil.

Vina melakukan kedua kalinya namun ritme jantung Caka makin menurun. Suara monitor jantung berhenti, Vina meletakkan dua lengannya di dada Caka mendorongnya terus menerus, “Ayo bangun! Bangun! Bangun!” Vina meneteskan air matanya.

“Vina sudah selesai … dia sudah wafat,” ujar tasya.

“Belum! Aku sudah berjanji akan menyelamatkan Caka. Aku tidak mau gagal lagi, ayo bangun kumohon Caka!” Seru Vina.

Keajaiban datang ketika para dokter dikejutkan oleh suara detak jantung yang terdengar dari monitor itu. Caka terbangun selepas dari operasi melihat ke dua orang tuanya sudah datang.  Caka langsung memeluk kedua orang tuanya, menjatuhkan air mata rindu kepada orang tuanya.

 

*Penulis merupakan mahasiswa Fikom UPDM(B) angkatan 2015 yang juga merupakan anggota LPM Media Publica.

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>