Published On: Tue, Jan 31st, 2017

Perkembangan Teori Spiral Keheningan dalam Media Sosial

Oleh : Mohammad Thorvy & Ari Nurcahyo*

Ilustrasi

Ilustrasi

Media Publica – Seiring berkembangnya zaman, media sosial menjadi media baru yang banyak diminati oleh masyarakat. Tak hanya sebagai sumber informasi namun juga digunakan sebagai wadah berdiskusi. Dalam media sosial setiap orang memiliki kebebasan mengutarakan pendapatnya tanpa harus merasa takut pendapatnya berbeda dengan orang lain. Hal ini tentu bertentangan dengan teori spiral keheningan. Lalu, seperti apa perkembangan teori spiral keheningan dalam media sosial?

Teori spiral keheningan atau spiral of silence theory adalah teori yang diperkenalkan oleh Elisabeth Noelle Neumann (1973). Dimana pada tahun tersebut media massa sedang berjaya.  Teori ini mengungkapkan kelompok minoritas cenderung akan diam atau tidak berani mengemukakan pendapatnya karena takut terisolasi. Mereka akan mengikuti pendapat kelompok mayoritas. Sehingga kaum minoritas tenggelam dalam kebungkamannya terhadap kaum mayoritas.

Menurut Neumann (Richard West & Lynn H. Turner : 2007) teori spiral keheningan memiliki tiga asumsi mendasar, yaitu: bahwa individu pada umumnya berusaha untuk menghindari isolasi. Kedua, ketakutan akan terisolasi menyebabkan individu mencoba untuk menilai opini terus menerus. Dan terakhir, perilaku masyarakat yang dipengaruhi oleh penilaian opini publik.

Sehingga dapat dikatakan bahwa opini publik berdasar pada sentimen kolektif dari sebuah populasi terhadap suatu isu ataupun subyek tertentu. Lalu, media akan mengangkat serta menonjolkan  isu apa yang menarik bagi masyarakat yang akan berlaku sebagai pandangan umum.

Seperti yang diungkapkan H.M Saefulloh, S.Sos, M.Si,  “Public akan berani berpendapat jika sesuai dengan opini umum yang berlaku dan didukung oleh mayoritas,” tuturnya selaku dosen teori komunikasi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) saat ditemui Media Publica (13/1).

Pandangan dominan yang berasal dari kaum mayoritas yang ditonjolkan oleh media semakin menguat dan berkembang menjadi opini publik. Sedangkan pandangan yang berbeda menjadi semakin bungkam dan kelompok minoritas semakin tidak bersedia mengutarakan pendapatnya sehingga terbentuklah spiral keheningan.

Namun saat ini, terdapat fenomena sosial yang menarik terjadi dalam masyarakat. Dimana spiral keheningan tidak tampak secara langsung dalam media sosial. “Bentuk perkembangannya berbeda karena ciri medianya juga berbeda. Contohnya saat media massa yang berjaya yang bisa mengeluarkan opini di media massa  hanya orang tertentu misalnya penguasa atau public figure sehingga bisa mengaruhi publik, tapi saat ini tidak hanya penguasa dan public figure, orang biasa  juga bisa mengeluarkan pendapatnya di sosial media  dan bahkan menjadi viral dan disetujui oleh mayoritas.” Terang Saefulloh.

Saefulloh menjelaskan fenomena  kelompok mayoritas dan minoritas yang menjadi ciri khas spiral keheningan tidak dapat terlihat secara kasat mata dalam media sosial. Hanya terlihat siapa yang pro dan kontra. Contohnya ketika sebuah media melakukan live streaming mengenai persidangan kasus dugaan penistaan yang terjadi saat ini.  Terdapat fitur dalam media sosial yang memungkinkan viewers dapat memberikan feedback langsung dengan mengirimkan komentar mengenai siaran tersebut.

Melihat dari komentar yang dilontarkan masyarakat, terdapat dua jenis komentar yaitu yang pro dan kontra. Maka dapat disimpulkan bahwa terdapat dua kemungkinan yang terjadi dalam fenomena tersebut.

Pertama, beberapa dari kaum minoritas berani memberontak dan melawan opini mayoritas yang ada dalam kolom komentar tersebut. Karena ada salah satu dari pihak minoritas yang memberontak, maka yang memiliki pandangan minoritas lainnya ikut berani bersuara.

Kedua, lingkungan media sosial dari pengguna tersebut memiliki postingan sesuai dengan pemikirannya. Contohnya si A merupakan salah satu dari kelompok yang kontra dengan kasus tersebut, oleh karena itu beranda akun sosial medianya berisi tentang hal kontra. Hal tersebut memberikan dampak psikologis tertentu terhadap si A untuk berani mengeluarkan pendapatnya karena menganggap dirinya masuk dalam kelompok mayoritas. “Karena social media yang kita punya memiliki link yang lebih eksklusif dan hanya untuk teman-teman kita saja yang masih satu pendapat dengan kita. Oleh karena itu, kita merasa berada dipihak mayoritas dan masuknya pendapat lain dalam sosial media kita hanya sedikit,” jelas Saefulloh.

Jadi dapat disimpulkan, teori spiral keheningan tetap terjadi dalam sosial media, namun tidak dapat terlihat dengan jelas siapa kelompok mayoritas dan minoritas. Sehingga dalam media sosial yang  terlihat hanyalah yang  pro dan kontra. Ada dua kemungkinan bahwa teori ini terlihat samar di sosial media. Pertama, kelompok minoritas berani memberontak. Kedua, kelompok minoritas tersebut mengeluarkan pendapat karena mereka merasa dipihak mayoritas ditinjau dari lingkungan sosial medianya.

*Penulis merupakan pemimpin umum periode 2016-2017 dan anggota LPM Media Publica