Published On: Sun, Jan 29th, 2017

The Autopsy of Life

*Oleh: Rangga Dipa Yakti

Ilustrasi: Yelena Bryksenkova

Ilustrasi: Yelena Bryksenkova

Bagaimana ketika kau memiliki kelebihan namun bingung untuk menerapkannya? Lalu kau tidak lebih daripada perkumpulan anak-anak biasa saja yang suka memburu zombi, berlagak seperti Hacker kelas kakap dan wartawan dengan identitas detektif yang selalu haus akan misteri?

Aku salah satunya. Teman-teman biasa memanggilku Sen. Sejujurnya, agak malu memberitahukan nama lengkapku. Sentenza George Cooper, Ayah mengambil nama Sentenza dari salah satu tokoh antagonis film legendaris The Good, the Bad and the Ugly. George yang ia ambil dari Presiden AS ke-1 dan Cooper adalah nama keluarga kami atau nama mobil? Entahlah.

Satu hal yang aku pelajari dari hidup ini adalah misteri. Aku memiliki teori bahwa hidup ini memang penuh misteri, namun kau bisa menelusurinya lebih dalam dengan autopsi, maksudku, apa yang kau ketahui mengenai autopsi? Mayat yang sudah pucat dan kaku lalu dibedah untuk mencari kejelasan mengapa dia tewas. Autopsi dilakukan secara mendalam karena jawaban akan didapat dari sana. Hidup ini perlu diautopsi karena kau tidak pernah tahu apa yang kau hadapi untuk mencari jawabannya.

***

Angin bertiup kencang dari utara membekukan setengah dari Kota Chicago pada pertengahan bulan Februari. Iklim yang tepat untuk merekam film dan bersenang-senang. Aku dan Rachel, kekasihku, perempuan berambut pirang panjang yang menjulur seperti lidah api menjadi pemeran utama pada film garapanku. Low budget dan diproduksi hanya untuk orang-orang yang kukenal saja. Sering kali dua temanku bergabung di dalamnya, Terrence Green, laki-laki Amerika-Afrika bertubuh besar dengan rambut keriting pendeknya dan satu lagi perempuan Asia yang terobsesi dengan kasus misterius bahkan dirinya ikut terbawa misterius. Namanya Anisa Widiasari, perempuan Indonesia dengan rambut hitam panjang dan lensa tebal melindugi matanya yang minus.

“Kau tahu bahwa Zombi itu bukan hanya fiksi?” Tanya Rachel.

Satu hal yang membuatku jatuh hati dengannya adalah pola pikir liarnya. Lalu, aksen Irlandianya yang seksi dan terdengar seperti orang mabuk dan rambutnya ketika tertiup angin seolah melambai ke arahku. Bahkan bersinnya menawan.  Ngomong-ngomong, film non-komersil yang sedang kugarap hari ini adalah tentang Zombi. Peran Rachel sebagai gadis yang tidak tahu bahwa fenomena virus mayat hidup sedang menginfeksi bumi ini. Ia terlalu polos untuk mengetahuinya. Terrence menjadi kekasihnya yang kehilangan kasih sayang Rachel karena satu dan lain sebab, Rachel bosan dengan Terrence. Sementara Anisa, entahlah aku berpikir bahwa dia adalah kurator yang tersasar hingga pelosok desa dan menemukan tempat yang jauh dari infeksi virus dan bertemu dengan Rachel.

“Salah satu riset imajinatif yang terkenal di Leicester, Inggris mengasumsikan bahwa 90% virus zombi dapat menginfeksi manusia dan menular lewat gigitan. Persis seperti film yang kita tonton,” lanjutnya.

Aku tidak menggubris karena sibuk mengatur stand kamera analog yang kugunakan. Tanah yang basah seolah mempersulit kerjaku, sisi baiknya, aku sangat suka bau tanah yang basah apalagi dengan kecepatan angin seperti ini.

“Mereka akan tetap bertahan hidup walaupun tidak makan selama 20 hari! Eat our Braaaiiinnnnnn!” tambahnya kemudian menghampiriku dan pura-pura membantuku mengatur kamera ini.

“Sen, kau sibuk?”

Ketika aku sibuk segala sesuatu yang mengangguku tidak akan mempan. Suara kepakan sayap burung ataupun klakson panjang bus antar kota hanyalah angin lewat saja. Namun Rachel, dia sangat memahami kelemahanku. Aku mendorongnya hingga terjatuh ke rerumputan basah itu, sebagian kaus dan celana bahannya yang senada telah bernodakan lumpur, mungkin aku terlalu berlebihan setidaknya itu membuatku tertawa.

“Kau tahu mitos mengenai Dinosaurus punah?” katanya dengan suara datar.

“Meteor yang sekarang menjadi objek penelitian di New Mexico,” jawabku santai seraya menolongnya berdiri.

“Dinosaurus betina menolak untuk melakukan reproduksi.”

Aku tahu arah pembicaraannya. Dia menyindirku karena baru saja mengotori kaus abu-abu polos kesukaannya. Aku tidak pandai dalam berkomunikasi, apalagi meminta maaf. Terrence yang hebat dalam hal itu, aku bukan apa-apa tanpanya. Rachel kemudian duduk di sudut lapangan yang luas ini, dia menatapku sinis dari ujung sana. Aku menelan ludah dan menyeka peluh yang mengalir dari kening hingga mataku dengan sapu tangan pemberiannya.

Burung gagak bertengger pada bangkai kucing yang terlindas oleh mobil. Baunya dapat tercium beberapa meter hingga tempatku mengatur latar film. Aku berani berteruh kucing itu telah menjadi bangkai selama satu minggu. Alam sedang memihakku, kucing itu bisa menjadi properti yang akan memperkuat atmosfer filmku. Satu lagi yang membuatku bernapas lega adalah Terrence dan Anisa telah hadir di lokasi ini. Ikatan perempuan lebih kuat daripada anak kembar, aku melihat dari kejauhan Anisa sedang bernegosiasi sementara Terrence telah berdiri di sampingku dengan tatapan pengorek informasinya yang khas.

“Lalu?”

Aku menghela napas panjang membiarkan otak ini untuk mengatur kalimat yang tepat agar Terrence dapat menerima argumentasiku. Terrence merupakan laki-laki yang sulit untuk mempercayai satu alasan, dia terlalu skeptis bahkan dengan temannya sendiri. Pernah satu kali Terrence berdebat dengan guru Sains kami mengenai tata surya, bagaimana anak kelas 11 berhasil memengaruhi guru kami yang telah memiliki beberapa gelar di belakang namanya? Aku hanyalah anak biasa yang dikenal sebagai pemburu zombi, aku bisa apa?!

“Dia terjatuh dan aku menolongnya,” jawabku tanpa menatap matanya yang mengintimidasiku. Salah satu jurus jitu untuk menghindari perdebatan.

“Dan dia kesal dengan orang yang menolongnya?”

“Ok, baiklah, aku kalah Terrence. Kau menang.”

Terrence menarik tanganku yang tentunya lebih kecil. Aku berlari menyamai langkah panjangnya dan berdiri di hadapan Rachel. Aku tak tahu harus memulai dari mana, Terrence meyikut lenganku agar angkat bicara.

“Rachel, demi Tuhan maafkan aku.”

“Hebat, kau belajar minta maaf dari mana?” Tanya Anisa kemudian.

Terrence menepuk keningnya. Kupikir itu adalah ucapan maaf yang formal, maksudku, harus bagaimana lagi?

Dari kejauhan ada seorang perempuan dengan jaket hoodie hitam memerhatikan kami. Tidak ada yang tahu dia siapa, namun orang-orang mengenalnya dengan latarbelakang kelam. Orangtuanya adalah pembunuh berantai, polisi telah membunuh mereka dan perempuan misterius itu hidup bersama Bibinya. Anisa satu-satunya orang yang bisa mendekatkan diri dengannya, aku harap ada jawaban yang ia dapat. Karena aku percaya perempuan itu akan menjadi objek fantastis filmku.

Bersambung …

*Penulis merupakan mahasiswa Fikom UPDM(B) angkatan 2015 yang juga merupakan anggota LPM Media Publica.