Published On: Thu, Jan 12th, 2017

Nikmati Silent Entertainment bersama Komunitas Swara Sunyi

(Foto: Dokumentasi Pribadi Komunitas Swara Sunyi)

(Foto: Dokumentasi Pribadi Komunitas Swara Sunyi)

Jakarta, Media Publica – Polusi suara adalah gangguan pada lingkungan yang diakibatkan oleh bunyi atau suara yang mengganggu lingkungan tersebut. Hal ini yang menjadi perhatian lima orang mantan jurnalis yaitu Siti Kalifah, Rasyid, Herjun, Rila Fidea, serta Dudy Elvianto untuk membuat Komunitas Swara Sunyi sebagai bentuk kepedulian atas isu bahaya polusi suara.

Komunitas yang berdiri sejak bulan April 2015 ini mengembangkan konsep digital silent entertainment dengan mengimplementasikan semua bentuk suara yang dikeluarkan di seni pertunjukan menjadi bentuk suara yang bisa di dengar lewat perangkat wireless headphone.

Berangkat dari pengalaman salah satu founder yang pergi meliput konser di Singapura, Dudy Elvinato atau yang kerap disapa Glem diundang untuk datang ke acara silent disco dimana setiap pengunjungnya diberikan wireless headphone agar dapat menikmati musik yang diperdengarkan.

“Dari situ ide berkembang. Atas saran beberapa orang kemudian kita mencoba ide ini di Indonesia. Konsep silent disco memang sudah marak tapi silent gig atau silent musik ini bisa di bilang Swara Sunyi menjadi pelopor,” ujar Glem saat ditemui Media Publica Kamis (5/01).

Gerakan moral yang disebut ‘Silent for Change’ oleh komunitas ini ingin memberi perubahan dengan konsep acara yang bisa dilakukan dimana saja tanpa mengganggu lingkungan sekitar sehingga lebih ramah lingkungan tanpa hingar bingar serta meminimalisir listrik yang digunakan.

(Foto: Dokumentasi Pribadi Komunitas Swara Sunyi)

(Foto: Dokumentasi Pribadi Komunitas Swara Sunyi)

Glem mengatakan bahwa polusi suara bisa disebabkan oleh efek suara yang melebihi 80 desibel yang dapat menyebabkan menurunnya daya dengar terlebih jika ditambah dengan sering menghadiri konser atau acara dengan kekuatan suara ribuan watt. “Jadi kita disini mencoba memberikan awareness kepada masyarakat bahwa sebenarnya mendegarkan musik yang hingar bingar amat berisiko dalam hilangnya pendengaran.” Ujarnya.

Selain silent gig dan silent music, Komunitas Swara Sunyi juga membuat silent talk show, silent yoga, silent cinema, bahkan silent wedding yang tentunya menggunakan perangkat wireless headphone kepada para pengunjung.

Selanjutnya, komunitas ini akan menyelenggarakan biskop rakyat atau ‘Balik ke Taman’ yaitu pemutaran film pendek karya anak muda dengan mengambil tempat di taman dengan mengusung konsep silent.

“Itu sudah mau berjalan Februari nanti mudah-mudahan ada di beberapa taman di Jakarta dan Bogor. Kami bekerjasama dengan beberapa komunitas sinema kampus yang  bisa mendukung acara kami ini melalui putaran film pendek,” tutup Glem.

 Reporter : Anisa Widiasari

Editor : Elvina Tri Audya