Published On: Mon, Dec 26th, 2016

Kilas Balik Choker yang Kembali Populer

Ilustrasi : www.pinterest.com

Ilustrasi : www.pinterest.com

Jakarta, Media Publica – Seiring dengan berkembangnya zaman, segala sesuatu mengalami perubahan. Khususnya dalam bidang fesyen. Banyak mode yang terus berganti namun banyak pula yang masih digunakan hingga saat ini. Seperti Choker,  aksesoris yang pernah naik daun di era 90-an kini kembali menjadi fashion item yang menarik dengan sentuhan yang lebih modern. Berkaca dari sejarahnya, choker ternyata memiliki cerita yang panjang dibaliknya. Marilah kita intip ulasan berikut.

Tak ingin dianggap old fashion, banyak orang yang memadupadankan item vintage mereka dengan busana yang sedang menjadi tren di 2016 ini. Hingga akhirnya menghasilkan suatu tren baru yang mengesankan, salah satunya kalung choker (choker necklace). Kalung Choker adalah kalung yang ketat seperti ‘mencekik’ saat digunakan.

Popularitas kalung choker semakin meningkat pada 2016 seiring banyaknya selebriti terlihat tampil menawan memakai kalung tersebut di leher mereka. Kalung yang menempel ketat di leher ini pernah menjadi tren di tahun 90-an. Sekarang muncul kembali dengan sentuhan yang lebih modern. Kalung choker berawal dari masa Revolusi Perancis tahun 1798, para wanita pada kala itu memakai pita merah di leher mereka sebagai simbol penghormatan untuk orang yang akan dipenggal sebagai hukuman mati. Tren ini mungkin juga merupakan awal penggunaan pita sebagai tanda simpati dan solidaritas atas peristiwa tertentu. Setelah masa revolusi Perancis, pada tahun 1800-an, kalung choker dianggap sebagai simbol prostitusi di mana wanita tuna susila pada jaman itu menggunakan pita hitam di leher mereka. Sebuah lukisan terkenal karya Manet, berjudul “Olympia” yang dilukis pada tahun 1863 menggambarkan seorang wanita tuna susila mengenakan pita hitam di lehernya. Selama era ini, jika wanita menggunakan pita di leher akan dianggap sebagai seorang wanita tuna susila. Beberapa tahun sesudahnya, choker menjadi hiasan yang dipakai oleh para balerina dan trend maker.

Hal ini dapat terlihat ketika pada 1874 kalung choker mulai dipakai balerina dan pada 1880 mulai dipakai para putri kerajaan Denmark bernama Alexandra. Berkat itu, tren choker semakin meluas. Kemudian akhir 1800-an, choker  telah berkembang sebagai penanda kaum elit. Choker dengan jenis seperti dog collars dipadukan dengan berlian, mutiara, renda, dan velvet. Choker seperti itu dapat dilihat sebagai incaran para bangsawan karena choker tersebut didesain berdasarkan permintaan dan spesial dibuat sangat pas dengan leher pemesan.

Pada tahun 90-an, choker kembali menjadi sangat populer dan mulai bergeser fungsinya menjadi sebuah tren yang banyak diikuti oleh anak muda, baik perempuan maupun laki-laki yang identik dengan gaya berbusana gothic. Namun, seiring berjalannya waktu, kalung choker menjadi tren yang marak diminati oleh perempuan. Tidak hanya pemanis dalam bergaya, kalung choker pun dapat dipadupadankan sehingga menampilkan gaya yang kasual maupun formal.

Itulah sejarah kalung choker yang akhir-akhir ini kembali menjadi tren. Tertarik untuk mengenakan choker untuk dipadankan dengan busana kalian hari ini?

Reporter : Zulfiana Rachmawani

Editor : Elvina Tri Audya