Published On: Tue, Oct 25th, 2016

Amalgama, Mempertahankan Budaya dalam Bermusik

Penampilan Amalgama pada Penutupan Rangkaian Acara Pekan Jurnalistik 2016 di Pelataran Parkir UPDM(B), Kamis (13/10). Memainkan alat musik tradisional menjadi ciri khas tersendiri dari Amalgama.  (Foto: Media Publica/Aji)

Penampilan Amalgama pada Penutupan Rangkaian Acara Pekan Jurnalistik 2016 di Pelataran Parkir UPDM(B), Kamis (13/10). Memainkan alat musik tradisional menjadi ciri khas tersendiri dari Amalgama.
(Foto: Media Publica/Aji)

Media Publica – Menjadi hal yang lumrah saat sebuah band maupun musisi menginginkan adanya sebuah ciri khas yang lekat dalam berkarya. Tidak hanya melalui lirik lagu yang mudah dipahami dan diterima secara substansi maupun penampilan yang apik saat tampil di depan penonton, tetapi juga melalui alat musik yang dimainkan. Hal tersebut coba disampaikan oleh sebuah band folk rock asal Jakarta, yakni Amalgama.

Amalgama merupakan sebuah band yang terdiri dari empat orang personel dengan sebuah ciri khas memainkan alat musik tradisional seperti suling bansi, saluang, djembe, tinwhistle irish, didgeridoo dan perkusi. Memperkaya, mempertahankan serta melestarikan budaya dijadikan sebagai latar belakang serta tujuan dari band yang telah terbentuk sejak pertengahan Juni 2015 lalu.

“Memperkenalkan ke generasi berikutnya bahwa alat tradisi itu ga itu-itu saja,” tegas Nino pemain alat-alat musik tradisional dalam band ini. Berkenaan dengan alat musik yang dimainkan, Nino menjelaskan jika hal tersebut untuk mendukung genre musik yang mereka usung.

”Nah kami mau angkat folk indonesia. Indonesia tuh punya warna folk sendiri, jadi kami masukin tuh nuansa etnik dari suling-sulingan, bunyi perkusi dan beberapa sound effect yang masih analog juga. Kami berusaha semaksimal mungkin untuk gak digitalplayback atau apapun itu,” tukasnya.

Sebagai sebuah band yang memiliki beberapa kepala dengan bermacam ide di dalamnya, diakui Amalgama tidak sulit dalam menentukan arah bermusik. Sama-sama memiliki kegemaran terhadap musik rock serta lagu folk yang identik dengan substansi lirik yang bercerita tentang rakyat, menjadi sebuah titik temu dalam band ini. Hingga akhirnya, band yang terdiri dari Ari (bassist), Radit (gitaris & vokalis), Naufal (drummer) serta Dick Pethino Sebastian (perkusi) memutuskan mengangkat genre folk rock dalam berkarya.

Saat ini Amalgama tengah disibukkan dengan proses rekaman untuk menyambut album yang rencananya akan dirilis tahun 2017. Sebanyak enam dari sepuluh lagu telah direkam dengan rumusan yang matang dari tiap personelnya, “kecintaan kami tadi dan proses kreatifnya mengimajinasikan kehidupan manusia dari zaman ke zaman,” ungkap Ari.

Berbagai harapan disampaikan oleh personel band Amalgama terhadap perkembangan band ini, yakni keinginan untuk lebih dikenal oleh masyarakat luas. Selain itu, harapan lainnya ialah adanya keinginan diri untuk meningkatkan kualitas bermusik, “jadi tetap ada hal baru yang dikeluarkan dan kami gak selesai disini,” tutup Nino.

Reporter: Dianty Utari Syam

Editor: Rarasati Anindita