Published On: Mon, Sep 12th, 2016

Lupa 3ndonesa, Mengkritik Masalah Indonesia dengan Canda

Judul Buku: Lupa 3ndonesa (Lupa Endonesa Jilid 3) Pengarang: Agus Hadi Sudjiwo (Sujiwo Tejo) Penerbit: PT. Bentang Pustaka Cetakan: Pertama, Juli 2016 Tebal: 288 Halaman

Judul Buku: Lupa 3ndonesa (Lupa Endonesa Jilid 3)
Pengarang: Agus Hadi Sudjiwo (Sujiwo Tejo)
Penerbit: PT. Bentang Pustaka
Cetakan: Pertama, Juli 2016
Tebal: 288 Halaman

Media Publica – Lupa Endonesa merupakan buku karya seniman asal Jember, yakni Sujiwo Tejo kini sudah sampai jilid 3. Sama seperti buku-buku Lupa Endonesa sebelumnya, pada jilid ketiga ini Sujiwo tetap menulis tentang masalah yang terjadi di Indonesia. Dengan menggunakan tokoh Ponokawan, Sujiwo menyindir halus kehidupan sosial yang ada di Indonesia. Ponokawan adalah para abdi radja pada tokoh pewayangan, seperti Semar, Gareng, Petruk, Bagong, Togog, Mbilung, Cangik dan Limbuk.

Dalam pengantar buku ini, Sujiwo Tejo bicara tentang nyawa dalam tulisan. Menurut dia, tulisan mempunyai nyawa, mereka (tulisan) bukanlah anak-anak panah yang melesat ke masa depan sesuai kehendak kita. Ia juga menjelaskan bahwa buku ini merupakan hasil eyel-eyelan dia dengan tulisannya. “Mau kita nulis tentang cicak. Tapi tulisan mau nulis tentang buaya. Akhirnya lahir sintesa tulisan tentang kadal,” kutipan Sujiwo pada bagian pengantar buku ini.

Buku ini terdiri dari lima bab yakni Rimba Manusia, Asal Usul, Watak dan Watuk, Keluarga Istanaku, dan Rimba Raya Nusantara. Setiap bab memiliki tema tersendiri dan di dalamnya terdapat cerita-cerita dengan latar yang berbeda-beda.

Pada bab Rimba Manusia, Sujiwo membahas tentang problematika yang terjadi di kehidupan sosial Negara Indonesia. Salah satunya adalah cerita yang berjudul Buah Simlakancuk. Buah Simalakancuk merupakan plesetan dari Buah Simalakama yang mempunyai arti kesialan. Dalam Buah Simalakancuk, Sujiwo menceritakan tentang sebuah dusun terpencil yang terkena dampak modernisasi.

Dalam bab selanjutnya yakni Asal Usul, budayawan yang memiliki nama asli Agus Hadi Sudjiwo ini menulis tentang ‘Asal Usul’ masalah yang terjadi di Indonesia. Seperti cerita Maskapai Liong Mabur, Sujiwo menceritakan bahwa tokoh pewayangan Gatut Kaca sudah pensiun dari pekerjaannya. Karena Gatut merasa hidupnya membosankan, akhirnya dia mendirikan perusahaan Liong Mabur.

Dalam cerita Maskapai Liong Mabur, Sujiwo menyindir tentang fenomena salah satu maskapai penerbangan yang menelantarkan penumpangnya. Sujiwo menerangkan bahwa keterlambatan tersebut akibat pemilik perusahaan atau Gatut merasa sedih karena Pramuka kian sepi dan orang sudah jarang membuat tenda sendiri. Karena kesedihan Gatut, akhirnya ia memiliki ide untuk men-delay penerbangan hingga berjam-jam bahkan berhari-hari. Lalu, impian Gatut tercapai. Karena delay tersebut, kini banyak tenda yang berdiri di bandara.

Ada banyak lagi cerita yang menarik dibahas dalam buku Lupa Endonesa jilid tiga. Gaya Bahasa yang dipadukan dengan Bahasa Jawa tidak membuat pembaca kesulitan menerjemahkan maksud cerita. Dalam buku setebal 288 halaman ini pembaca tidak hanya akan disuguhi cerita monoton bak novel biasa.

Cerita yang dipadukan dengan humor sarkastis membuat para pembaca tersenyum dan merenung akan kehidupan bangsa Indonesia kini. Selain itu, buku Lupa Endonesa jilid 3 memberikan pelajaran untuk masyarakat Indonesia, mulai dari kalangan atas hingga kalangan ‘kekinian’ agar selalu mengingat jati diri mereka sebagai rakyat Indonesia.

 

Peresensi: Mohammad Thorvy Qolbi