Published On: Sun, Jun 19th, 2016

Prenjak, Permainan Korek Api Untuk Bertahan Hidup

Film: Prenjak Sutradara: Wregas Bhanuteja Pemain: Rosa Winenggar, Yohannes Budhyambara

Film: Prenjak
Sutradara: Wregas Bhanuteja
Pemain: Rosa Winenggar, Yohannes Budhyambara

Media Publica – Akibat terhimpit utang, Diah (Rosa Winenggar) seorang karyawati meminta bantuan kepada Jarwo (Yohannes Budhyambara), rekan kerjanya agar mendapatkan uang. Ia tidak ingin meminjam uang kepada Jarwo, melainkan menawarkan sebuah korek api seharga 10 ribu rupiah. Transaksi bisnis tersebut ditolak oleh Jarwo lantaran harga yang tinggi tak sebanding dengan barang.

Penawaran wanita dengan satu anak ini ternyata belum selesai. Korek api tersebut digunakan sebagai penerangan untuk mengintip alat kelamin Diah. Awalnya ragu namun tawaran tersebut akhirnya disetujui Jarwo. Itulah sepenggal cerita film pendek Prenjak (In the Year of Monkey) yang berhasil menang dalam ajang festival film internasional bergengsi, Semaine de la Critique 2016, Cannes.

Cerita film karya sutradara muda Wregas Bhanuteja terinspirasi dari kultur lama di Yogyakarta sekitar tahun 1980-an dimana transaksi seks dapat dilakukan dengan sebatang korek api. Wregas mengemas cerita tersebut disesuaikan pada fenomena yang terjadi saat ini.

“Sekarang memang tak ada perempuan yang akan melakukan ini lagi dan saya mau mengimplementasikannya ke era sekarang, Tentu dengan konteks berbeda dimana Diah sangat butuh uang hingga melakukan ini,” tutur Wregas yang dikutip dari Jakarta Post.

Bagi Wregas, film berdurasi 12 menit ini menunjukkan semangat perempuan untuk bertahan hidup meskipun mengesampingkan rasa malu. Hal tersebut terlihat pada kondisi ekonomi Diah yang mendorongnya untuk melakukan berbagai cara agar terpenuhi kebutuhannya. Cerita film Prenjak tak melulu larut dalam kesedihan melainkan dengan candaan ringan dan banal antar kedua tokoh.

Adegan dalam Prenjak dibuat sangat alami dan sederhana dengan berlatar di kota Yogyakarta. Hal ini juga didukung dengan percakapan kedua tokoh yang memakai bahasa jawa. Meskipun diawal film penonton disuguhkan cerita yang penuh canda, namun pesan yang menyentuh terletak pada akhir film dimana memperlihatkan kondisi rumah Diah yang terlihat sederhana namun serba kekurangan.

Film Prenjak hanya diproduksi dalam waktu dua hari pada bulan Februari 2016. Wregas bersama tim produksi kecilnya awalnya hanya ingin mewujudkan cerita fenomena kultur Yogyakarta tersebut melalui film. Namun ia memberanikan diri untuk mengirim film Prenjak ke Festival Film Cannes 2016 dan berhasil meraih film pendek terbaik mengalahkan sembilan film pendek unggulan lain dari berbagai negara.

 

Peresensi: Rarasati Anindita