Published On: Sun, Jun 19th, 2016

Film Lokal yang Eksis di Festival Film Internasional

Media Publica – Industri film di Indonesia kian menunjukkan eksistensinya di dunia perfilman Indonesia bahkan internasional. Secara kuantitas, film Indonesia yang diproduksi lima tahun ke belakang cukup signifikan kenaikannya. Baik komersil maupun independen, film tersebut juga diakui kualitasnya oleh dunia dengan masuk ke ajang festival film bergengsi internasional. Tak hanya terpilih dan diputar di festival film, beberapa diantaranya pun juga berhasil membawa prestasi yang membanggakan untuk Indonesia.

Kualitas yang diakui beberapa festival dinilai dari segi ide cerita film lokal yang menarik dan menyentuh. Selain itu, apresiasi untuk para sineas juga diacungi jempol oleh para kritikus dan sutradara film internasional. Berikut beberapa film karya anak bangsa yang berhasil lolos di ajang festival film bertaraf internasional.

1. The Mirror Never Lies (2011)

Film ini mengisahkan tentang seorang anak perempuan dari suku Bajo yang berusaha menemukan ayahnya yang hilang ketika melaut. Ada sebuah cermin pemberian ayahnya yang ia percayai bahwa cermin itu tidak bohong dan berharap bisa menemukan ayahnya kembali. Budaya suku Bajo dan kekayaan laut Wakatobi sangat kental dalam film ini. Tak hanya itu, kekeluargaan yang erat serta kepedulian terhadap alam turut digambarkan dalam film ini.

Film karya sutradara Kamila Andini ini berhasil mendapatkan beberapa nominasi dalam Festival Film Indonesia 2011 serta memenangkan Film Terpuji dan Sutradara Terpuji pada Festival Film Bandung 2012. Nominasi diantaranya yaitu Film Terbaik, Sutradara Terbaik dan Aktris Terbaik. Selain itu, film ini juga diputar di program Cannes Cinephiles dan Cinema Le Raimu dalam Festival Film Cannes 2011.

2. Atambua 39 Celcius (2012)

Film karya sutradara Riri Riza dan Mira Lesmana ini mengisahkan tentang cerita kehidupan Ronaldo Bautista, sang ayah dan anaknya, Joao dari tempat yang bernama Atambua. Film ini menggambarkan pencarian identitas dengan latar pasca konflik saudara pada tahun 1999. Film ini memenangkan Official Selection Film pada Festival Film Internasional Tokyo 2012 dan Best Director pada Asean International Film Festival and Award 2013. Tak hanya itu, film berdurasi 80 menit ini juga meraih Inalco Jury Award dalam ajang Vesoul Asian Film Festival 2013.

Film Atambua 39 Derajat Celcius ini dinilai kualitasnya karena memiliki kekuatan tema cerita yakni pencarian identitas pasca konflik, penataan cahaya serta sinematografi yang ciamik. Film ini diperankan oleh aktor lokal dan menggunakan bahasa asli orang Timor. Riri dan Mira seakan ingin mengekspos kehidupan Indonesia bagian timur yang terlupakan.

3. What They Don’t Talk When They Talk About Love (2013)

Film ini mengangkat cerita romansa remaja penyandang disabilitas, antara Fitri gadis tuna netra yang jatuh hati kepada Edo pria tuna rungu serta kisah Diana yang hanya mampu melihat dalam jarak 2 cm dengan Andhika yang berkebutuhan khusus. Film kedua karya Mouly Surya ini memiliki cerita yang umum namun unik, yakni cinta yang polos dan penuh passion. Tak heran film yang rilis pada tahun 2013 ini sukses meraih Film Terbaik, Sutradara Terbaik serta Skenario Terbaik dalam Akademi Film Indonesia 2014. Selain dari penghargaan lokal, film ini menjadi film Indonesia pertama yang masuk dalam nominasi World Cinema Dramatic di Sundance Film Festival 2013.

4. A Lady Caddy Who Never Saw a Hole In One (2014)

Film garapan sutradara Yosep Anggi Noen ini berhasil meraih penghargaan tertinggi Grand Prix dan Film Pendek Internasional Asia Terbaik di Festival Film Short Short (SSFF) 2014. Film yang diproduksi tahun 2013 ini menampilkan percakapan antara seorang pria dan seorang caddy (red-orang yang mendampingi pemain golf) perempuan yang mempertanyakan kehidupan perempuan itu. Film ini menunjukkan kontradiksi profesi, kesenangan, kekayaan dan kemiskinan.

A Lady Caddy Who Never Saw a Hole in One ini juga menyabet penghargaan film pendek terbaik di Busan Internasional Film Festival pada tahun 2013. Para juri menilai film ini mengesankan keaslian sutradara dalam mengangkat persoalan politik melalui cerita yang unik dan sederhana. Film yang berdurasi 15 menit ini dibintangi oleh Jonet Suryatmoko dan Christy Mahanani.

5. The Fox Exploits The Tiger’s Might (2015)

Film bercerita tentang dua anak laki-laki yang sedang menyenangi hal-hal seksualitas dan imajinasinya. Terlepas dari itu unsur kekuasaan antara kalangan atas dengan bawah sangat kuat dalam unsur cerita film ini. David adalah anak jendral yang sombong dan suka memamerkan kekayaan ayahnya, sementara Aseng datang dari keluarga etnis minoritas pedagang tembakau yang menjual minuman keras selundupan.

Film garapan sutradara muda Lucky Kuswandi seakan menggambarkan peribahasa klasik yang beredar di kalangan etnis tionghoa ‘The Fox Exploits The Tiger’s Might’, rubah yang menggunakan kekuasaan si macan untuk kepentingan sendiri. Menurut Lucky, film yang rilis tahun 2015 terinspirasi dari peribahasa tersebut, yakni penyalahgunaan kekuasaan. Ditambah dengan unsur SARA yang sentimental di era orde baru cukup memperkuat cerita dengan tema kekuasaan tersebut. Film berdurasi 25 menit ini menjadi film Indonesia pertama yang sukses masuk dalam program Semaine de La Critique di Cannes 2015 setelah film Tjoet Nja’ Dien karya Eros Djarot pada 1989. Tak hanya itu, The Fox Exploits The Tiger’s Might juga berhasil meraih dua Silver Screen Awards kategori Film Pendek Terbaik Asia Tenggara dan Sutradara Terbaik pada ajang Singapore International Film Festival 2015.

6. Prenjak (In The Year of Monkey) (2016)

Prenjak bercerita tentang desakan ekonomi untuk kebutuhan hidup sehingga menghalalkan segala cara untuk memenuhinya , salah satunya dengan transaksi seks. Namun transaksi ini berbeda dari yang biasanya. Berawal dari kesulitan Diah untuk membayar utang, ia menawarkan transaksi bisnis kepada rekan kerjanya, Jarwo. Diah menjual sebatang korek api seharga 10 ribu rupiah agar dapat dibayar oleh Jarwo.  Korek api yang mahal itu ternyata digunakan untuk melihat alat kelamin Diah. Diah pun terpaksa melakukan ini lantaran ia membutuhkan uang untuk bertahan hidup.

Cerita film karya sutradara muda Wregas Bhanuteja terinspirasi dari fenomena di Yogyakarta sekitar tahun 1980-an dimana korek api dijual oleh ibu-ibu penjual wedang ronde untuk melihat alat kelaminnya. Ide tersebut ternyata mengantarkan film Prenjak menjadi pemenang Film Pendek Terbaik pada ajang Festival Film Cannes 2016. Para juri menilai film tersebut memiliki cerita yang sederhana, banal namun menyentuh. Suasana latar Yogyakarta juga terasa didukung dengan percakapan antar tokoh yang menggunakan bahasa jawa.

Itulah beberapa ulasan film Indonesia yang berhasil meraih penghargaan pada ajang festival film bertaraf internasional. Film lokal tak kalah dengan film luar yang sering ditunggu-tunggu bukan? Prestasi ini patut untuk kita apresiasi agar sineas Indonesia terus berkarya menciptakan film yang berkualitas.

Reporter: Rarasati Anindita

Editor: Dianty Utari Syam