Published On: Sun, May 15th, 2016

Keluarga, Lingkungan Pertama dalam Membangun Karakter

Ilustrasi: www.pixabay.com

Ilustrasi: www.pixabay.com

Media Publica – Menurut Salvicion dan Ara Celis, keluarga adalah dua atau lebih dari dua individu yang tergabung karena hubungan darah, hubungan perkawinan, atau pengangkatan dan hidup dalam suatu rumah tangga. Saling berinteraksi satu sama lain dan didalam perannya masing-masing serta menciptakan dan mempertahankan suatu kebudayaan. Keluarga merupakan suatu sistem sosial terkecil yang di dalamnya terdiri dari Ayah, Ibu, dan anak yang masing-masing memiliki peran.

Sebagai salah satu anggota dari sistem sosial terkecil, anak yang juga merupakan generasi penerus bangsa kondisinya kini sungguh memprihatinkan. Kemajuan diberbagai aspek kehidupan sosial rupanya tidak sejalan dengan kemajuan generasi muda. Semakin mudahnya akses informasi justru semakin membuat para penerus bangsa ini terbuai dan mengalami kemunduran tanpa disadari.

Akhir ini, marak berbagai pemberitaan mengenai ulah para anak muda di Indonesia. Mulai dari kasus penghinaan terhadap ideologi bangsa, melanggar lalu lintas, dan megancam petugas kepolisian hingga berfoto melecehkan patung pahlawan Indonesia. Berbagai reaksi masyarakat muncul atas beberapa kasus yang melibatkan anak muda tersebut. Lalu timbul pertanyaan masihkah generasi baru ini mengerti moralitas dan norma sosial? Siapa yang harus bertanggung jawab atas penyimpangan perilaku ini?

Pada dasarnya generasi muda ini merupakan anggota dari sistem sosial terkecil di masyarakat yaitu keluarga. Anak belajar bersosialisasi, memahami, menghayati, dan merasakan segala aspek kehidupan yang tercermin dalam kebudayaan dalam keluarga. Hal yang dia dapati dalam keluarga inilah yang akan menjadi kerangka acuan disetiap tindak tanduknya. Dari berbagai kasus yang melibatkan anak muda yang merupakan seorang anak dalam keluarganya, apakah pendidikan karakter dari keluarga sudah diterapkan? Mengingat keluarga merupakan lingkungan sosialisasi pertama dan mendasar bagi anak. Apakah keluarga saat ini masih menerapkan pendidikan moral dan karakter bagi anak-anaknya?

Keluarga bukan hanya wadah untuk tempat berkumpulnya ayah, ibu, dan anak. Lebih dari itu, keluarga merupakan wahana awal pembentukan moral serta penempaan karakter manusia. Berhasil atau tidaknya seorang anak dalam menjalani hidup bergantung pada berhasil atau tidaknya peran keluarga dalam menanamkan ajaran moral kehidupan. Keluarga lebih dari sekedar pelestarian tradisi, keluarga bukan hanya menyangkut hubungan orang tua dengan anak, keluarga merupakan wadah mencurahkan segala inspirasi. Keluarga menjadi tempat pencurahan segala keluh kesah. Keluarga merupakan suatu jalinan cinta kasih yang tidak akan pernah terputus.

Pengaruh keluarga mulai melemah karena terjadi perubahan sosial, politik, dan budaya. Keadaan ini memiliki andil yang besar terhadap terbebasnya anak dari kekuasaan orang tua. Keluarga telah kehilangan fungsinya dalam pendidikan. Tidak seperti fungsi keluarga pada masa lalu yang merupakan kesatuan produktif sekaligus konsumtif. Ketika kebijakan ekonomi pada zaman modern sekarang ini mendasarkan pada aturan pembagian kerja yang terspesialisasi secara lebih ketat, maka sebagian tanggung jawab keluarga beralih kepada orang-orang yang menggeluti profesi tertentu.

Pendidikan moral dan norma sosial perlu untuk ditekankan kepada anak agar dalam setiap langkahnya anak memiliki kerangka acuan perilaku yang tidak lepas dari moralitas dan aturan norma sosial. Keluarga sebagai fondasi awal kehidupan seorang individu harus lebih berperan aktif dalam menanamkan dasar-dasar moralitas.

Oleh: Mega Pratiwi