Published On: Sat, May 14th, 2016

Game Online Tidak Sepenuhnya Berdampak Buruk

Ilustrasi

Ilustrasi

Jakarta, Media Publica – Gagasan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) memblokir 15 game online yang dinilai berdampak negatif bagi anak-anak sempat menuai polemik. KPAI menerima banyak laporan mengenai maraknya game yang mengandung kekerasan dan pornografi sehingga mengambil tindakan pemblokiran. Namun nyatanya tidak semua game online membawa hal buruk bagi penggunanya, terutama anak-anak.

Hal tersebut diungkapkan Doni Koesoema Albertus selaku pengamat  pendidikan. Ia mengatakan masyarakat perlu mengenal dahulu terkait jenis permainan berbasis internet tersebut.

“Ada dua jenis sebenarnya. Game yang sifatnya online itu hiburan dan game online yang versi edukatif. Nah biasanya yang sering dikambinghitamkan dituduh sebagai game online yang membuat perilaku kekerasan itu yang non edukatif, jadi sifatnya hiburan,” ungkapnya saat ditemui Media Publica, Selasa (10/5).

Game online yang bersifat edukatif melatih anak untuk bisa memanfaatkan teknologi. Seiring dengan perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK), anak dituntut menguasai berbagai macam teknologi. Ia mengungkapkan game online mampu menimbulkan digital interest, “anak terbiasa dengan teknologi, akan tahu bagaimana cara menggunakan teknologi seperti gadget, komputer dan lain-lain.”

Di samping itu, permainan dengan platform digital ini sering ditemui menggunakan bahasa asing sehingga dapat membantu anak mempelajari bahasa tersebut serta mengenali budaya asing. Game yang edukatif juga dapat melatih kemampuan analisis, mengatur strategi serta membuat perencanaan taktik strategi. Seperti yang diungkapkan oleh pengamat teknologi Toga Putra atau akrab disapa Gege, “mendidik orang memiliki rencana planning target seperti apa kalo dia mau terjun dan kerja di dunia game bisa jadi developer desainer game.”

Game itu sendiri dari pengembangnya sudah memberikan label rating konten yang memberitahu kategori usia yang sesuai untuk dikonsumsi. Permasalahan di Indonesia, label tersebut tidak berjalan efektif. Gege melihat faktor tersebut dikarenakan masyarakat, terutama pengguna game tersebut kurang peduli dan mengerti terkait rating konten tersebut. Orang tua juga harus aktif untuk mengawasi konsumsi game oleh anak.

Pemahaman tentang rating diperlukan untuk memilah game sesuai usia. Terutama ditujukan kepada orang tua dalam memberikan game kepada sang anak. Sosialisasi dari pemerintah dalam memberikan informasi mengenai game-game yang bersifat edukatif juga menjadi elemen penting yang tidak boleh dilupakan. Kontrol sosial menjadi tanggung jawab seluruh lapisan masyarakat.

Terkait isu pemblokiran game oleh KPAI, Doni mengatakan teknologi akan terus berkembang sehingga jangan hanya fokus pada pemblokiran game saja. “Ada unsur lain yang jauh lebih penting yaitu bagaimana pemerintah bisa memberikan edukasi publik terkait kemampuan memblokir diri dari hal-hal negatif tersebut,” tukasnya.

 

Reporter: Ari Nurcahyo & Elvina Tri Audya

Editor: Rarasati Anindita