Published On: Thu, May 12th, 2016

Pengabdian Mang Oyo pada Kampus Moestopo

Mang Oyo, lelaki kelahiran Garut, 7 Februari 1945 yang telah mengabdi selama 40 tahun sebagai petugas kebersihan di Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama). Pengabdian beliau berhasil mengantarkan kedua anak laki-lakinya menjadi sarjana. (Foto: Media Publica/Mohammad Thorvy)

Mang Oyo, lelaki kelahiran Garut, 7 Februari 1954 yang telah mengabdi selama 40 tahun sebagai petugas kebersihan di Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama). Pengabdian beliau berhasil mengantarkan kedua anak laki-lakinya menjadi sarjana.
(Foto: Media Publica/Mohammad Thorvy)

Jakarta, Media Publica – Tepat pada pukul 6 pagi, seorang lelaki tua penuh semangat membersihkan lantai di depan perpustakaan Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) (UPDM(B)). Rutinitas ini biasa dilakukan sehari-hari oleh lelaki tua bernama Oyo Sukarya atau lebih akrab disapa Mang Oyo. Lelaki kelahiran Garut, 7 Februari 1954 itu sudah mengabdi sebagai petugas kebersihan di UPDM(B) selama 40 tahun lamanya.

Awal pengabdian Mang Oyo dilakukan sejak ikut membangun UPDM(B) yang berlokasi di Jalan Hanglekir. Mang Oyo bercerita, sebelum ia terlibat dalam pembangunan Kampus Merah Putih ini, ia sempat bekerja di daerah Cipete, Bintaro hingga pelosok Jakarta sebagai pekerja bangunan, “lama kelamaan saya ketemu sama bos bangunan Pak Bowo dan disuruh masuk bekerja membangun Moestopo,” ujar Mang Oyo saat ditemui Media Publica pada hari Selasa (10/5).

Pertemuan dengan Pak Bowo membawa berkah tersendiri bagi Mang Oyo. Ketika pembangunan Kampus Moestopo selesai, pengabdian Mang Oyo berlanjut sebagai petugas kebersihan di UPDM(B), “setelah diberikan pekerjaan sebagai kebersihan oleh Pak Budi, saya langsung meminta restu keluarga di Garut untuk bekerja disini (red – UPDM(B)),” ujar Mang Oyo.

Selama bekerja, Mang Oyo meninggalkan istri serta tiga anaknya di kampung halamannya yang berada di kampung nagrak RT 03/03 desa Sanding, kecamatan Malangbong, Kabupaten Garut. Rasa rindu akan keluarga terkadang dirasakan Mang Oyo ketika melaksanakan tugasnya di kampus Moestopo.

Pengorbanan Mang Oyo selama pergi merantau membuahkan hasil, kini kedua anak laki-lakinya telah berhasil lulus menjadi sarjana dan mempunyai kehidupan yang lebih layak. Selain berhasil menjadikan anaknya seorang sarjana, beliau juga sudah menikahkan ketiga anaknya yang merupakan keinginan utama seorang orang tua.

Selama 40 tahun bekerja sebagai petugas kebersihan tidak pernah dikeluhkan sekali pun oleh beliau. Mang Oyo merasa pekerjaannya tidak terlalu berat dan mengalir seperti biasa, namun harus beliau laksanakan sebagai profesionalisme dalam bekerja. Selama bekerja, Mang Oyo sudah merasakan berbagai macam perubahan selama beliau bekerja, seperti permasalahan mahasiswa, jumlah mahasiswa dari tahun ke tahun, sampai wajah Moestopo dari tahun ke tahun.

“Saya sih, selalu mendoakan dan selalu berharap yang terbaik untuk kampus Moestopo. Terus, mahasiswa semakin banyak, berprestasi dan terus berkembang agar menjadi maju,” ujar Mang Oyo diakhir wawancara.

 

Reporter: Mohammad Thorvy Qalbi

Editor: Dianty Utari Syam