Published On: Sun, Apr 10th, 2016

Buka Warung: Ekspresi Seni Berbagai Perspektif

Buka Warung (Sumber: instagram @bukawarung).

Buka Warung (Sumber: instagram @bukawarung).

Media Publica – Berkembangnya ruang alternatif seni rupa di Indonesia membantu para seniman maupun kurator muda untuk berkarya dan dinikmati oleh publik. Tak hanya itu, ruang alternatif ini juga melahirkan sebuah kelompok atau komunitas yang memiliki kesamaan minat dalam bidang seni rupa. Sama halnya dengan kelompok seniman Buka Warung.

Buka Warung menjadi wadah untuk bertukar pikiran, berbagi ide, dan berkarya sesuai dengan ciri khas masing-masing perupa. Berawal dari ide seorang kurator muda Gesyada Annisa Namora Siregar, yang melihat keunikan dari keberagaman cara pandang tiap perupa. Ia menginginkan adanya sebuah ruang untuk berproses dan berkarya sesuai perspektif masing-masing.

Akhirnya ia mengajak 17 seniman antar mahasiswa lintas disiplin ilmu dan mengadakan Pameran Buka Warung yang memajang karya mereka pada tahun 2015.

“Gesya ngumpulin anak-anak dan nawarin bikin proyek kolektif. Awalnya mau dikawinin (red-kolaborasi) dari bidang masing-masing tapi akhirnya jadi kolektif aja, masing-masing berkarya dan bikin pameran,” ujar Deya Ayu Defrillia, salah satu seniman Buka Warung saat ditemui Media Publica, Sabtu (9/4).

Pameran Buka Warung merupakan pameran pertama kelompok seni Buka Warung bersama Ruang Rupa Gallery pada tahun 2015. (Sumber: ruangrupa.org)

Pameran Buka Warung merupakan pameran pertama kelompok seni Buka Warung bersama Ruang Rupa Gallery pada tahun 2015. (Sumber: ruangrupa.org)

Buka Warung yang dikuratori oleh Gesyada Annisa Namora Siregar ini, mengajak seniman lain yakni Ardini Azzah, Nastiti Dewanti, Dinda Larasati, Smita Basuki, Nitya Putrini, Retno Tiawan, Puji Lestari serta Nina Alatas. Lalu ada Deya Ayu Defrillia, Devi Merakati, Jekenjel, Chairunnisa Setya Utami, Indira Natalia, Rahimah Zulfa, Diah Kusumawardani serta Bunga Irmadian.

Gesya tertarik terhadap perkembangan seniman perempuan yang begitu banyak namun sedikit yang berasal dari universitas di Jakarta. Pilihannya mengundang seniman berstatus mahasiswa juga terkait dengan upaya keberlanjutan terhadap proses berkarya mereka yang sebelumnya pernah ikut serta dalam forum-forum pameran, salah satunya Jakarta 32oC.

Seniman yang tergabung dalam Buka Warung  memiliki latar belakang studi dan medium seni yang berbeda-beda. Seperti seni kria tekstil, seni murni, kajian media, desain grafis, arsitektur, antropologi, pendidikan, kebidanan, hingga fotografi.

Selain pameran Buka Warung, kelompok seniman ini mengadakan pameran kedua dengan konsep interaktif bertajuk ‘Why Can’t We Be Friends’ yang berlangsung pada 19 Maret hingga 16 April 2016.

Ketertarikan Gesya dalam membentuk kelompok seni ini yakni cara penyampaian gagasan dari tiap seniman yang mengasyikan. Ia berharap Buka Warung menjadi wadah untuk terus menyajikan wacana dan praktik artistik sesuai dengan minat masing-masing tanpa harus terbebani.

“Cara biar enggak kebeban itu dengan terus berjejaring ke teman-teman baru kita bisa melihat potensi baru yang membuka wawasan kita atau bisa jadi barter (red-bertukar) artistik dengan pilihan yang tidak diduga,” ujar Gesya.

Reporter: Rarasati Anindita

Editor: Anisa Widiasari