Published On: Wed, Mar 9th, 2016

Efek Rumah Kaca dan Idealisme Berkarya

 Efek Rumah Kaca, band pop indie asal Jakarta dengan lagu sarat kritik sosial sebagai idealisme berkarya. (Sumber Foto: wearedisorder.net)

Efek Rumah Kaca, band pop indie asal Jakarta dengan lagu sarat kritik sosial sebagai idealisme berkarya. (Sumber Foto: wearedisorder.net)

Jakarta, Media Publica – Tidak mudah bagi sebuah band maupun musisi untuk bertahan dengan ketatnya persaingan di antara banyaknya musisi baru yang bermunculan atau bahkan musisi yang sebelumnya maupun yang lahir bersamaan. Demi eksistensi yang ingin terus dipertahankan atau baru ingin dicapai, tidak sedikit musisi yang rela mengorbankan idealisme berkarya. Melalui cita-cita dalam menghasilkan rekam jejak tersebut, terciptalah musisi yang bertahan dengan jalur independen dan jalur label.

Beberapa musisi independen atau biasa juga disebut dengan musisi indie, nyatanya mampu bertahan dengan apa yang menjadi keinginan mereka dalam berkarya. Dimana segala ide, buah pikir paling dahsyat dari setiap manusia tidak dibatasi dan tidak dikotak-kotakkan. Disinilah sebenarnya pemahaman ‘Pasar Bisa Diciptakan’  mampu menggambarkan, bahwa sebenarnya tidak perlu takut dalam berkarya, selama masih bisa menciptakan karya dengan baik dan jujur, masyarakat masih mau menerima karya kita apa adanya. Dalam arti lain, berkarya-lah dengan jujur dan maka pasar akan menerimanya dengan baik.

Istilah tersebut dicetuskan oleh Efek Rumah Kaca melalui Single yang mereka ciptakan pada Juli 2015 lalu. Band pop indie asal Jakarta ini memang lebih dikenal dengan konsistensi berkarya selama masa berkaryanya, kurang lebih selama sepuluh tahun. Jika ditelisik makna dalam lirik lagunya memang sarat akan kritik terhadap keadaan sosial di Indonesia. Sebut saja ‘Cinta Melulu’, yang merupakan kritik ERK terhadap banyaknya musisi yang terlalu hidup bergelantungan dengan lagu bersubstansi ‘Cinta’ pada tahun 2007. Ide tersebut akhirnya dilanjutkan ke single ‘Pasar Bisa Diciptakan’ yang dirilis bersamaan dengan single ‘Biru’. ‘Biru’ sendiri ialah gabungan antara fragmen lagu ‘Pasar Bisa Diciptakan’ dan ‘Cipta Bisa Dipasarkan’. Saat ini single tersebut telah dimasukan ke dalam album ‘Sinestesia’.

Band yang beranggotakan Cholil Mahmud (Vocalist), Akbar Bagus Sudibyo (Drummer) dan Adrian Yunan Faisal (Bassist) ini telah menelurkan tiga album yakni Efek Rumah Kaca (2007), Kamar Gelap (2008) dan Sinestesia (2015). Dalam tiga album tersebut banyak lagu yang berisikan kritik sosial politik maupun sosial ekonomi. Seperti lagu ‘Mosi Tidak Percaya’, yang diciptakan oleh ERK atas ketidakpercayaan mereka sebagai rakyat Indonesia terhadap anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Kemudian lagu ‘Di Udara’ yang menceritakan tentang Munir, seorang aktivis HAM yang dibunuh dengan cara diracun. Melalui lagu ini ERK berpendapat jika jiwa seorang Munir tidak akan pernah mati dan berharap masih ada jiwa Munir lain di setiap orang. Mereka mengatakan jika beberapa karya mereka menghasilkan berbagai komentar dari masyarakat.

“Mereka men-cap ERK lagu-lagunya itu lagu-lagu pollitik. Artinya mereka menangkap teknik menyuarakan. Tapi maksudnya kita gak seluruhnya sosial politik sih. Tapi karena jarang band pop yang melakukan itu jadinya kita dibilang seperti itu. Ya mereka tau eksistensi kita dan bisa menangkap message dari kita,” ungkap Cholil saat ditemui di Streight Studio, Cipete pada Rabu (10/2) lalu.

Di album terbaru mereka, ‘Sinestesia’, yang juga dikonserkan pada 13 Januari lalu, masih dirasakan adanya unsur kritik di beberapa lagu mereka. Seperti di lagu ‘Merah’, yang berisi ungkapan jika dunia politik tidak akan membaik selama tidak ada inisiatif untuk memperbaikinya. Kemdian lagu ‘Kuning’ yang berisikan tentang kehidupan beragama yang beragam. Dalam album ini, ERK menggunakan nama-nama warna sebagai judul lagu mereka, yakni ‘Merah’, ‘Biru’, ‘Jingga’, ‘Hijau’, ‘Putih’ dan ‘Kuning’ yang rata-rata berdurasi 7 hingga 13 menit. Cholil bercerita jika masing-masing lagu di album ini merupakan gabungan dari beberapa lagu.

 Efek Rumah Kaca saat ditemui di Streight Studio, Cipete, Jakarta Selatan pada (10/2) lalu. (Foto: Media Publica/Danila)

Efek Rumah Kaca saat ditemui di Streight Studio, Cipete, Jakarta Selatan pada (10/2) lalu. (Foto: Media Publica/Danila)

“Ditengah proses rekamannya gue kepikiran nama albumnya Sinestesia. Sinestesia itu adalah kemampuan untuk melihat, merasakan sesuatu diluar yang seharusnya. Mungkin kalo musik bisa terasosiasi dengan warna atau dengan bau, atau apa dan itu bisa terjadi di dimensi yang lain. Secara konsep gitu,” ungkap Cholil.

“Kemudian Adrian yang mencoba mendengarkan lagunya. Setelah mendengarkan lagu itu, yang terdapat adalah warna-warna yang akhirnya dijadikan judul. Jadi judulnya itu yang menentukan Adrian. Dia ini kan dalam kondisi yg tidak bisa melihat,” lanjut Cholil. “Dengan kehadiran musik itu apakah bisa menjadi simbol hadirnya warna-warna. Tapi sebenernya lagu-lagu itu terdiri dari beberapa subjudul itu. Sub judul itu tetap diadain, jadi warna itu tema besarnya Sinestesia. Subjudul nya itu waktu sebelum digabung-gabungin,” ungkapnya.

Namun saat ditanya apakah ada keinginan untuk menciptakan lagu dengan unsur kritik sosial, Cholil menjawab jika terdapat hal yang membuat ERK takut untuk menciptakan lagu dengan mengangkat isu tertentu.

“Kita sekarang kan posisinya gak kayak dulu ya, jangan-jangan kita mau menyuarakan ini atau mau mendompleng untuk ikut sukses ya. Ikut kasus yang lagi naik tuh kita kayak ikut-ikutan gak sih?,” ujarnya.

“Udah gak serileks dulu lagi sih merespon sesuatu.” Cholil melanjutkan jika terdapat tanggung jawab dengan apa yang mereka suarakan melalui karya mereka.

Band yang berencana akan vakum selama kurang lebih lima tahun ini menyampaikan harapannya mengenai musik di Indonesia, yakni harus memiliki pondasi yang kuat agar mampu bertahan.

“Pondasinya dibangun yang bener lah. Supaya, maksudnya kalo ada apa-apa punya exit strategy atau jalan keluar. Jangan kayak sekarang tiba-tiba ambruk gini marah-marah ga jelas. Yang dimarahin pendengar musik ga mau beli yang orisinal, padahal mereka yang produksi musik juga ga produksi musik yg ok. Gimana masyarakat mau punya willingness,” tutup Cholil.

 

Reporter: Dianty Utari Syam

Editor: Anisa Widiasari