Published On: Wed, Feb 17th, 2016

Musik sebagai Medium Kritik Sosial

Kalau cinta sudah di buang

Jangan harap keadilan akan datang

Kesedihan hanya tontonan

Bagi mereka yang diperbudak jabatan

Oo, ya, o, ya, o, ya bongkar

Oo, ya, o, ya, o, ya bongkar

Sabar, sabar, sabar dan tunggu

Itu jawaban yang kami terima

Ternyata kita harus ke jalan

Robohkan setan yang bediri mengangkang

(Bongkar – Iwan Fals)

 

Ilustrasi

Ilustrasi

Jakarta, Media Publica – Kutipan lirik lagu diatas mungkin terdengar tidak asing bagi anda. Ya, lagu Bongkar milik musisi kenamaan Iwan Fals tersebut memiliki sebuah kekuatan tersendiri. Secara substansi lagu tersebut memiliki sebuah nilai berupa unsur protes terhadap kesewenang-wenangan pemerintah terhadap penggusuran desa di Jawa Tengah dalam rangka pembangunan Waduk Ombo pada tahun 90-an. ‘Setan’ yang diasosiasikan sebagai pemerintah maupun penguasa, berusaha di-‘bongkar’ oleh Iwan Fals demi perjuangan untuk mencapai sebuah tujuan, yakni memperjuangkan hak-hak warga korban penggusuran untuk mendapatkan penggantian ganti rugi yang layak. Secara jelas, Iwan Fals berusaha menyampaikan kritiknya melalui musik.

Jika ditelisik ke belakang, sejarah mengenai musik dijadikan medium kritik sosial tidak terlepas dari era musik populer di Amerika. Kala itu, tepatnya di tahun 60-an, musisi asal Amerika, Bob Dylan berani menyuarakan protesnya melalui lagu-lagu yang ia ciptakan, salah satunya ‘Blowing in The Wind’. Lagu tersebut menjadi medium protes bagi Bob Dylan yang menanggapi keterlibatan Amerika dalam perang Vietnam di tahun 60-an. Musik yang dirasa memiliki kekuatan yang sangat efektif untuk menyatukan orang banyak, menjadi strategi jitu bagi para seniman, musisi maupun aktivis agar protes mereka lebih didengar.

Di Indonesia sendiri, hal tersebut nyatanya didukung oleh fakta pada kampanye partai politik yang ada. Masyarakat akan lebih mudah berkumpul melalui adanya penampilan musik yang dijanjikan. Bahkan musik dapat dianalogikan sebagai ‘semen’ yang dapat merekatkan berbagai macam elemen masyarakat untuk berkumpul di suatu tempat. Sehingga hal tersebut menjadi alasan mengapa musik menjadi salah satu medium yang sangat efektif dalam menyampaikan pesan.

Esensi Lirik Penentu Nilai Kritik Sosial 

Substansi lirik lagu sendiri sebenarnya sangat penting dalam menentukan apakah sebuah lagu memiliki nilai kritik sosial di dalamnya. Digital Managing Editor Rollingstone.co.id, Wendi Putranto menjelaskan hal tersebut. Menurutnya, lagu tanpa muatan lirik akan menghasilkan interpretasi atau tafsiran yang berbeda.

“Jadi sebenernya protesnya itu sendiri ada pada lirik lagunya. Tapi kalau yang membuat musik itu atau lirik-lirik protes jadi lebih didengar orang, dipahami, lebih mudah dimengerti itu karena peran musiknya disitu,” ungkapnya saat ditemui oleh Media Publica di kantor Rolling Stone Indonesia, Jalan Ampera, Jakarta Selatan pada Jumat (22/1) lalu.

“Liriknya bisa juga pakai yang metafora atau perumpamaan, ga langsung bercerita tapi ada ungkapan-ungkapan. Juga ada idiom, kalo yang langsung dibilang frontal juga ada. Kebanyakan sih lagu-lagu protes dibuat secara general,” tambahnya.

Lebih lanjut, unsur kritik sosial biasanya berada pada lirik lagu yang bercerita mengenai penindasan. Menelisik ke akhir abad 19, lagu dengan lirik penindasan pertama kali dimainkan oleh orang-orang kulit hitam pada era musik blues di Amerika. Para budak perkebunan bersenandung dengan gitar maupun alat musik lainnya yang mereka bawa dari rumah untuk mengusir rasa galau dan jenuh karena lelah bekerja. Kurang lebihnya, nyanyian tersebut berkisah mengenai kepiluan hidup mereka selama bekerja dibawah kepemimpinan orang berkulit putih, yang tidak mengenal waktu maupun rasa kemanusiaan karena tidak diberikannya upah selama mereka bekerja.

Hingga masuk ke awal abad 20, seiring dengan munculnya teknologi rekaman, lagu-lagu dengan kategori folk song (lagu rakyat) tersebut direkam. Lirik yang bercerita apa adanya menjadikan blues dianggap sebagai salah satu jenis musik yang mempopulerkan lagu protes. Lalu berkembang menjadi musik pop, rock, jazz dan sebagainya.

Disamping itu, Wendi melanjutkan jika terciptanya lagu-lagu protes tidak bisa terpisah dari sebab yang ditimbulkan dan tujuan yang ingin dicapai. Tugas bagi para musisi ialah bagaimana dapat menciptakan komposisi lagu yang dapat mendorong orang-orang untuk mendukung atau bersimpati terhadap isu protes yang diangkat dalam lirik lagu.

“Tinggal gimana mereka (musisi) bisa menciptakan komposisi lagu yang indah atau komposisi lagu yang distorsi atau kalem sekalipun. Tergantung musiknya mau seperti apa, yang pasti bisa menggugah kesadaran yang mendengar, bisa menggerakan. Jadi orang tergerak untuk mendukung isu (protes) itu atau bersimpati dengan protes itu,” katanya.

Meskipun sejauh ini lagu protes belum memiliki dampak besar berupa jatuhnya kekuasaan, nyatanya lagu dengan unsur kritik sosial dapat menginspirasi masyarakat untuk lebih peduli dengan isu tertentu dan menginspirasi untuk mendukung adanya sebuah perubahan. Bahkan bisa dibilang, lagu dengan unsur protes masih berada di kisaran visi saja, belum dapat direalisasikan.

Musisi Indonesia dan Karya yang Mengkritik

Salah satu musisi yang memiliki karya berupa kritik sosial didalamnya ialah Efek Rumah Kaca (ERK). Band yang dibentuk pada tahun 2001 ini kerap menyampaikan kegelisahan mereka mengenai keadaan sosial politik di Indonesia. Sebut saja lagu ‘Mosi Tidak Percaya’, yang diciptakan oleh ERK atas ketidakpercayaan mereka sebagai rakyat Indonesia terhadap anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Kemudian lagu ‘Di Udara’ yang menceritakan tentang Munir, seorang aktivis HAM yang dibunuh dengan cara diracun. Melalui lagu ini ERK berpendapat jika jiwa seorang Munir tidak akan pernah mati dan berharap masih ada jiwa Munir lain di setiap orang.

“Sebenarnya yang terukur substansi liriknya, yang dia ada kritik sosial. Kalau di musik ada juga sih tapi kalo untuk asosiasi kesana mesti ada penjelasan dari penciptanya. Kritik sosial kebanyakan dari lirik sih tapi bukan berarti di musik gak bisa,” ungkap Cholil, vokalis ERK saat ditemui oleh Media Publica di Streight Studio, Cipete pada Rabu (10/2) lalu.

Band yang telah merilis tiga album, yakni ‘Efek Rumah Kaca’ (2007), ‘Kamar Gelap’ (2008) dan ‘Sinestesia’ (2015) ini juga memiliki lagu kritik sosial ekonomi, yakni ‘Belanja Terus Sampai Mati’ yang mengkritik tentang mewabahnya budaya konsumerisme di Indonesia. Bahkan ERK juga mengkritisi mengenai perilaku manusia terhadap lingkungannya hingga munculnya fenomena pemanasan global melalui lagu ‘Efek Rumah Kaca’.

Saat ditanya mengenai harapannya mengenai keadaan politik di Indonesia, ERK berharap agar setiap orang mengerti dan memahami proses politik yang ada di Indonesia, agar Negara Indonesia menjadi lebih baik. Bahkan urusan politik jangan dijadikan formalitas semata melainkan sebuah proses yang substansial.

“Indonesia tuh partisipasi politiknya tinggi tapi masyarakat dengan pengetahuan atau penuntutan hak-hak publiknya rendah, akhirnya kayak formalitas aja bukan substansial. Tapi kalau di luar negeri yang demokrasinya bagus itu penuntutan hak-haknya tinggi. Pemilunya mungkin kalah tinggi sama Indonesia (partisipasi publiknya). Tapi mereka substansial. Itu sih, jadi pengennya lebih substansial,” tutup Cholil.

Reporter: Dianty Utari Syam

Editor: Anisa Widiasari