Published On: Tue, Feb 9th, 2016

Pers Mahasiswa dan Peranannya

*Oleh: Zulfiana Rachmawani

Ilustrasi

Ilustrasi

Media Publica – Pers Mahasiswa atau yang biasa dikenal Persma merupakan media penyalur informasi dan opini untuk mengembangkan kemampuan berpikir  dan analisis mahasiswa dalam berbagai hal yang menyangkut kehidupan kampus, maupun kondisi negara secara umum. Dalam perjalanannya, Persma memiliki peran penting dalam upaya kemerdekaan Indonesia. Tak lupa dari ingatan saat era orde baru, dunia jurnalisme ruang geraknya sangatlah tidak luas dan hanya berfungsi untuk kepentingan kekuasaan pemerintah. Hal tersebut jauh dari idealisme pers sebagai kontrol sosial. Dunia jurnalisme saat itu tidak sebebas sekarang dalam menyampaikan informasi karena takut akan pembredelan. Selain itu, para wartawan dan jurnalis muda di kalangan mahasiswa juga terancam nyawanya saat kerusuhan tahun 1998 tersebut. Karena pers mahasiswa terus menerus mengkritisi berbagai persoalan yang terjadi di Indonesia. Hal inilah yang membuat pers mahasiswa mengalami peristiwa pembredelan pada masa pemerintahan Soeharto.

Pergerakan pers mahasiswa dari masa ke masa tidak terlepas dari kondisi sosial masyarakat. Pada masa pemerintahan kolonial belanda, penderitaan dan ketidakadilan yang dialami masyarakat membuat berbagai kalangan termasuk pers mahasiswa mulai mengambil peran.

Memasuki era baru, yang di mana Pers memiliki peran yang cukup strategis dengan menjadi pilar keempat demokrasi. Pendidikan, informasi, hiburan, dan kontrol sosial merupakan fungsi Pers saat ini. Namun, ditengah hiruk pikuknya industri media yang berorientasi pada keuntungan pada sektor ekonomi dan menyajikan berita yang mengandalkan kecepatan daripada kebenaran, Persma hadir menjadi media alternatif yang tetap terus memegang teguh idealisme di tengah media mainstream yang mengikuti ideologi pemilik media dan berorientasi pada keuntungan semata.

Sebanyak apapun pertumbuhan pers di Indonesia, pers mahasiswa tetap menjadi warna lain yang menjadi bagian dari pers Indonesia itu sendiri. Pers mahasiswa tidak boleh berperan sebagai mainan yang hanya menyenangkan kelompok kecil saja dan  harus mengambil peran sebagai media komunikasi civitas kampus. Pers mahasiswa masih menjunjung tinggi jurnalisme kerakyatan yang menyajikan informasi tanpa dalih untuk mendapatkan keuntungan. Hal inilah yang mendasari perbedaan antara pers secara umum dengan pers mahasiswa. Tidak adanya kepentingan ekonomi di balik pers mahasiswa disinyalir mampu mempertahankan prinsip independen yang dipegang teguh oleh pers mahasiswa.

Kondisi negara yang sudah menjamin kebebasan pers bisa disebut menguntungkan karena pers mahasiswa bisa bebas mengkritisi berbagai persoalan yang artinya tidak hanya terpaku pada satu permasalahan saja dan tidak ada ketakutan akan dicabut izin terbitnya secara paksa.

Di era digital dan keriuhan media sosial saat ini, semua orang bisa menjadi wartawan dan mengelola medianya masing-masing. Sebagai pers kampus harus memanfaatkan media sosial sebagai alat menyebarluaskan gagasan dan tidak menjadikan kita sebagai mahasiswa menjadi penikmat, terbawa arus tanpa mengkritisi suatu hal.  Salam mahasiwa!

 

*Penulis merupakan Pemimpin Umum LPM Media Publica periode 2015-2016