Published On: Wed, Jan 27th, 2016

Rumah Kaca: Melawan Nurani dan Perintah

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.” – Pramoedya Ananta Toer, Rumah Kaca.

Judul: Rumah Kaca Penulis: Pramoedya Ananta Toer Penerbit: Lentera Dipantera Jumlah Halaman: 646

Judul: Rumah Kaca
Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Penerbit: Lentera Dipantera
Jumlah Halaman: 646

Media Publica – Seri keempat dari Tetralogi Pulau Buru merupakan kilas balik kejadian dalam ‘Jejak Langkah’ dalam perspektif Pangemanann. Pagemanann adalah seorang pribumi berpendidikan Eropa yang bekerja untuk Belanda menjadi ‘Agen Rahasia’ Kolonial pemerintah Hindia-Belanda dalam mengawasi dan mengendalikan organisasi-organisasi pribumi yang bermunculan saat itu. Tugas inilah yang membawanya kepada pertemuan dengan Minke, tokoh utama dalam tiga buku sebelumnya. Buku keempat ini dipenuhi oleh pergulatan Pangemanann dalam melakukan apapun yang dianggap perlu untuk membendung makin berkibarnya Minke dengan Harian Medan dan Syarikat Dagang Islam-nya.

Minke tertangkap oleh Pangemanann, yang memang sudah mengincarnya sejak lama. Dengan kelicinannya sebagai agen rahasia, dia tak berhenti dengan pembuangan Minke ke pulau. Dirancangnya kerusuhan rasial yang mengadu dombakan antara pribumi dengan kaum Tionghoa, di seluruh pulau Jawa. Sebuah operasi yang gemilang untuk mendiskreditkan Sarekat Dagang Islam (SDI) yang kemudian bertransformasi menjadi Syarikat Islam.

Minke sebagai target operasinya, diam-diam Pagemanann mengagumi Minke dan dalam batinnya menjadikan Minke sebagai seseorang yang dihormatinya. Pergulatan batin itu terus menerus terjadi dan harus memilih dua kekuatan yang tarik-menarik, antara melaksanakan tugas dan menuruti nurani, terus menyertai kisah hidup Pangemanann.

Pangemanann sadar akan dua kekuatan itu. Namun, tetap harus ada satu kekuatan yang menang atas kekuatan lain. Pangemanann lebih memilih untuk melawan nuraninya. Ia lebih mementingkan pekerjaan dan nama baiknya daripada hal-hal yang lain, bahkan termasuk keluarganya. Walau seperti itu setiap tindakan dirinya yang menzalimi tokoh pergerakan kebangsaan Hindia, ia merasakan sebuah penyesalan bahwa ia telah melakukan hal yang salah. Pendidikan tinggi yang ia ambil di Perancis tidak menjadikan dirinya sebagai seorang birokrat yang jujur dan adil.

Kegiatan pengarsipan ini menjadi salah satu kegiatan politik yang dapat membatasi pergerakan kemerdekaan yang tergabung dalam berbagai organisasi. Arsip menjadi mata radar Hindia yang disimpan dimana-mana untuk merekam apapun aktivitas pribumi pada waktu itu. Pram, dengan cerdas mengistilahkan politik arsip itu sebagai kegiatan pe-rumahkaca-an.

Peresensi: Zulfiyana Rachmawani