Ilustrasi (Sumber: telegraph.co.uk)
Ilustrasi
(Sumber: telegraph.co.uk)

Jakarta, Media Publica – Kabar membanggakan dari Indonesia kembali hadir dengan terciptanya prestasi di bidang kimia. Prestasi yang berhasil diciptakan oleh Sri Fatmawati SSi MSc PhD yang juga merupakan dosen jurusan Kimia di Institut Teknologi Sepuluh Nopember tersebut ialah dengan diperolehnya gelar Internasional ‘Early Chemist Award’ dalam ajang The International Chemical Congress of Pacific Basin Societies 2015, di Honolulu, Hawaii, 20 Desember 2015 lalu.

Gelar tersebut berhasil diperoleh karena Fatma mampu mengembangkan penggunaan ekstrak bahan alam dari berbagai tumbuhan untuk bahan obat diabetes. Dengan banyaknya sumber daya alam yang dimiliki oleh Indonesia membuat Fatma tertarik untuk menyusun makalah mengenai penggunaan ekstrak bahan alam dari berbagai tumbuhan sebagai bahan obat diabetes. Berdasarkan hal tersebut, Fatma mencoba memanfaatkan apa yang digunakan masyarakat sebagai obat dan ingin membuktikannya secara ilmiah.

“Kami mengisolasi senyawa aktif dari tanaman, kemudian ekstrak tersebut diteliti proses penghambatannya terhadap enzim yang menyebabkan kadar gula darah naik atau pemicu komplikasi penderita diabetes,” ujar peneliti bidang kimia organik bahan alam itu seperti yang dilansir oleh antaranews.com, Senin (4/1) lalu di Surabaya.

Namun, penelitian tersebut belum sampai pada tahap klinis mengingat masih banyak tahapan lain yang harus dilalui sampai sebuuah senyawa dapat disebut sebagai obat. Dalam kata lain, penelitian yang dilakukan masih merupakan riset dasar yang hasilnya harus diteliti lebih lanjut lagi.

‘The International Chemical Congress of Pacific Basin Societies‘ 2015 yang berlangsung di Honolulu Hawaii ini merupakan acara lima tahun sekali yang kini di ikuti 71 negara se-Asia Pasifik dengan sekitar 8.000 makalah. Sementara itu, gelar yang disandang oleh Fatma sendiri, yakni ‘Early Chemist Award’ merupakan penghargaan bagi peneliti muda di bidang kimia dan ilmu spektroskopi. Penghargaan itu diberikan kepada 40 peneliti yang memiliki rekam jejak dan publikasi terbanyak yang diserahkan dalam kongres kimia.

Acara penghargaan bergengsi ini dihadiri oleh banyak pihak seperti Elsevier selaku penerbit jurnal, serta para editor jurnal kimia papan atas, dan tidak luput peraih nobel kimia. Penghargaan ini ditunjukan bagi peneliti muda di bidang kimia dan ilmu spektroskopi yang diberikan kepada 40 peneliti dalam kongres kimia.

“Di situlah letak kebahagiaannya, saya bertemu dengan peneliti kelas dunia sehingga dapat memacu diri untuk lebih baik lagi, dan bisa memotivasi mahasiswa saya agar lebih baik dari saya,” ujar Fatma yang juga menyandang gelar Perempuan Paling Menginspirasi dalam Penghargaan Kartini 2015.

 

Sumber: antaranews.com

Editor: Anisa Widiasari

1,366 total views, 8 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.