Suasana ruang tengah pameran Jakarta Biennale 2015 pada hari Sabtu (26/12). Dalam perhelatan Jakarta Biennale kali ini mengangkat tiga isu besar di dalam kehidupan masyarakat, yakni air, sejarah dan gender. (Foto: Media Publica/Zulfiana)
Suasana ruang tengah pameran Jakarta Biennale 2015 pada hari Sabtu (26/12). Dalam perhelatan Jakarta Biennale kali ini mengangkat tiga isu besar di dalam kehidupan masyarakat, yakni air, sejarah dan gender.
(Foto: Media Publica/Zulfiana)

Jakarta, Media Publica -– Ajang pameran seni kontemporer dua tahunan Jakarta Biennale kembali hadir. Pada perhelatannya kali ini, Jakarta Biennale memamerkan berbagai karya seni dengan mengangkat isu sosial, politik dan budaya yang terjadi di masyarakat. Dengan mengusung tema ‘Maju Kena, Mundur Kena: Bertindak Sekarang’, isu yang diangkat tahun ini ialah air, sejarah dan gender.

Pameran seni yang diadakan di Gudang Sarinah, Pancoran, Jakarta Selatan ini menampilkan karya dari  70 seniman tanah air yang sarat akan makna. Irma Chantily selaku kurator Jakarta Biennale kali ini mengatakan jika pameran tahun ini bercerita tentang masyarakat. “Kami tidak ingin ini sesuatu yang teoritik, tapi kami ingin sesuatu yang bisa dialami oleh semua lapisan masyarakat,” ucap kurator muda asal Jakarta ini.

Pada pameran yang telah diadakan sejak 74 tahun silam ini mengangkat tiga isu besar yang saling menghubungkan antara seluruh pameran dan proyek seni di Jakarta Biennale tahun ini. Pertama adalah penggunaan dan penyalahgunaan air, bagaimana air bisa ada dalam kehidupan kita dan air masih menjadi isu yang belum terpecahkan di Indonesia, padahal air adalah sumber kehidupan namun juga bisa menjadi bencana. Lalu, terdapat juga karya-karya yang berfokus terhadap sejarah dan menjadi refleksi terhadap bagaimana dampak masa lampau pada masa kini dapat membentuk perilaku masyarakat hingga saat ini.

Pada isu yang ketiga, yakni pengaruh pembatasan peran gender di masyarakat. Topik ini disebut sangat krusial di kehidupan masyarakat masa kini. Ketika gender selalu menjadi persoalan yang sensitif sehingga untuk menyelesaikannya tidak hanya bicara dari prespektif separuh masyarakat laki-laki, tetapi kita harus bicara dengan separuh masyarakat yang lain atau orang-orang yang tidak mengidentifkasikan dirinya sebagai laki-laki atau perempuan.

Sudut pameran yang mengangkat isu sejarah pada Jakarta Biennale di Gedung Sarinah, Pancoran, Jakarta Selatan. (Foto: Media Publica/Zulfiana)
Sudut pameran yang mengangkat isu sejarah pada Jakarta Biennale 2015 di Gedung Sarinah, Pancoran, Jakarta Selatan.
(Foto: Media Publica/Zulfiana)

Pembicaraan hangat mengenai tersebut juga didukung oleh salah satu seniman yang terlibat dalam event yang diselenggarakan pada 15 November 2015 hingga 17 Januari 2016. ““Seni saja nggak cukup, seniman harus berupaya untuk mengingatkan kepada berbagai pihak, pemerintah dan masyarakat untuk tidak merusak sumber kehidupan manusia,” ungkap Trisna Sanjaya selaku seniman Jakarta Biennale 2015.

Tisna menambahkan jika para seniman saat ini harus memberikan daya kreatif, inovasi-inovasi dan membuat statement, “”hentikan kekerasan pada air dan industri-industri itu harus dihukum karena sudah meracuni.” Ia juga berharap jika tiga isu tersebut jangan hanya sekadar lipstik dan jargon saja, tetapi harus serius dijadikan karya seni dan memikirkan langkah kedepannya seperti apa.

Sejumlah program lain juga akan menemani pameran ini, diantaranya seminar, lokakarya, edukasi publik dan panggung pertunjukan. Para pengunjung sangat tertarik dengan tema yang diusung dan sangat antusias dengan penyelenggaraan Jakarta Biennale kali karena dirasa berbeda dengan pameran sebelumnya.

“Ini pameran kontemporer yang cukup bagus, beda dan fresh-lah. Biasanya cuma lukisan tapi disini kita bisa berinteraksi, bisa melihat ada sejarahnya, ada isu tentang airnya. Ini gue kunjungan kedua kalinya, jadi gue ngerasa selalu ada yang update sih dari pertama dan yang kedua,” ujar Melisa Dawson, salah satu pengunjung Jakarta Biennale 2015.

Hal serupa juga diungkapkan oleh pengunjung Jakarta Biennale lainnya yakni Cynthia. Ia mengaku sangat puas dengan penyelenggaraan Jakarta Biennale kali ini. Terlebih lagi melalui tema yang diangkat yang bertujuan agar masyarakat lebih aware dengan penggunaan air.

Melalui karya seni, diharapkan ketiga isu besar tersebut dapat memicu timbulnya perspektif baru kepada masyarakat dalam kehidupan. Menurut Irma, “sudah seharusnya kesenian menjadi bagian kehidupan sehari-hari dan sebagai pemantik untuk membicarakan persolan yang mungkin tidak pernah dibicarakan, jarang dibicarakan atau takut kita bicarakan. “Tujuannya agar tercipta dialog, diskusi dan harapan atau pemahaman baru atau pengalaman baru,” tutupnya.

 

Reporter: Zulfiana Rachmawani

Editor: Dianty Utari Syam

 1,654 total views,  4 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.